Purbaya Ungkap Alasan IHSG Gagal Tembus 9.000 di 2025
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menyentuh level 10.000, bahkan melampauinya, pada tahun 2026. Optimisme tersebut didasarkan pada kebijakan pemerintah yang dinilai semakin sinkron serta kondisi ekonomi Indonesia yang terus membaik.
Dalam evaluasinya, Menkeu Purbaya menyebutkan bahwa IHSG seharusnya sudah bisa bertengger di level 9.000 pada akhir 2025 jika desain kebijakan saat itu berjalan sesuai dengan rancangannya.
Meski posisi akhir tahun masih di bawah angka tersebut, ia meyakini bahwa dengan sinkronisasi kebijakan saat ini dan dukungan ekonomi yang bagus, laju pertumbuhan indeks ke depan akan bergerak lebih cepat.
“Harusnya kalau kemarin desainnya sesuai dengan desain saya sekarang sudah 9.000. Tapi kan udah itu sedikit, ke depan dengan kebijakan dan sinkron dan ekonominya bagus harusnya naik lebih cepat. 10.000 tahun depan? lebih lah,” kata Purbaya dikutip pada (2/1/2026).
Baca Juga: Suku Bunga & Geopolitik Mengancam, OJK Siapkan Skenario Ini
Sebagai gambaran kinerja terkini, IHSG pada perdagangan Selasa (30/12/2025) ditutup di level 8.646,94 atau mengalami penguatan tipis 0,03% sebesar 2,68 poin. Aktivitas pasar mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp20,61 triliun dengan volume 39,54 miliar saham yang diperdagangkan sebanyak 2,6 juta kali.
Dalam penutupan tersebut, tercatat 346 saham menguat dan 146 saham lainnya tidak bergerak.
Perjalanan IHSG di sepanjang tahun 2025 diwarnai dinamika jatuh-bangun yang cukup tajam. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengungkapkan bahwa pada paruh pertama 2025, indeks sempat merosot ke level terendah 5.996.
Pelemahan ini dipicu oleh sentimen global, termasuk ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif dagang resiprokal dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Selain itu, eskalasi konflik di Timur Tengah serta depresiasi nilai tukar rupiah sempat membuat pasar domestik berada dalam kondisi penuh kehati-hatian.
Menanggapi tekanan tersebut, otoritas pasar modal yang terdiri dari OJK, BEI, dan SRO melakukan berbagai langkah antisipatif untuk meredam gejolak. Strategi yang diambil meliputi kebijakan pembelian kembali (buyback) saham tanpa mekanisme RUPS, dialog soliditas dengan pemangku kepentingan, hingga penyesuaian aturan perdagangan seperti penerapan trading halt, pengaturan ulang auto rejection bawah (ARB), dan penguatan pengamanan pasar.
Baca Juga: Transaksi Harian Pasar Saham 2025 Tembus Rp18,06 Triliun
Berbagai penyesuaian regulasi tersebut terbukti efektif mendorong kebangkitan pasar pada paruh kedua 2025. Pemulihan ini juga didukung oleh faktor eksternal berupa penurunan suku bunga acuan The Fed sebanyak tiga kali.
“Dari aturan yang dibuat oleh OJK maupun Bursa dan SRO, menyebabkan bahwa pasar modal kita rebound di paruh kedua 2025,” jelas Iman.
Sementara dari sisi domestik, kepercayaan investor diperkuat oleh kebijakan pro-pertumbuhan pemerintah serta injeksi likuiditas mencapai Rp200 triliun yang dikucurkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Sinergi antara kebijakan otoritas dan pendalaman pasar yang dilakukan BEI, KSEI, serta KPEI akhirnya membuahkan hasil signifikan. Hingga penghujung 2025, IHSG berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) sebanyak 24 kali. Puncak prestasi indeks tercapai pada 8 Desember 2025 di level 8.711, dengan nilai kapitalisasi pasar yang menembus angka psikologis Rp16.004 triliun.
Baca Juga: Purbaya Pede IHSG Tembus Level 10.000 pada Akhir 2026
