Kenapa Jaksa AS Menyelidiki Ketua The Fed? Konflik Memanas!
Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, di tengah meningkatnya tekanan politik dari Gedung Putih pimpinan Presiden Donald Trump. Langkah ini langsung memicu kegelisahan luas di pasar dan kalangan ekonom karena menyentuh jantung independensi bank sentral AS.
Penyelidikan tersebut pertama kali terungkap setelah Powell, yang dikenal jarang tampil emosional di ruang publik, mengunggah video pernyataan resmi pada Minggu. Dalam video itu, ia secara terbuka mengecam langkah DOJ dan menilai penyelidikan tersebut sebagai bentuk hukuman karena The Fed tidak menuruti keinginan presiden soal suku bunga.
Baca Juga: Emas-Perak “Terbang” Pasca Bos The Fed Diselidiki
Kenapa Jaksa AS Menyelidiki Jerome Powell?
Departemen Kehakiman menyatakan penyelidikan dilakukan atas dugaan “penyalahgunaan uang pembayar pajak”. Namun, hingga kini tidak ada penjelasan rinci terkait dugaan pidana tersebut. Informasi utama justru berasal dari pernyataan Powell sendiri.
Penyelidikan ini berkaitan dengan proyek renovasi kantor pusat The Fed di Washington DC yang menelan biaya US$2,5 miliar, lebih tinggi dari anggaran awal US$1,9 miliar yang ditetapkan pada 2019. Trump sebelumnya menuding proyek tersebut terlalu mewah dan sarat pemborosan.
“Bisa jadi ada penipuan dalam proyek senilai US$2,5 miliar ini,” kata Trump kala itu.
Powell menjelaskan bahwa jaksa telah melayangkan subpoena dewan juri dan mengancam dakwaan pidana terkait kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat pada Juni lalu.
Siapa Jerome Powell dan Perannya di The Fed
Jerome Powell menjabat sebagai Ketua The Fed sejak 2018. Ia pertama kali ditunjuk oleh Trump, lalu diangkat kembali oleh Presiden Joe Biden pada 2022. Masa jabatannya sebagai ketua akan berakhir pada Mei mendatang.
Powell bukan satu-satunya pengambil keputusan suku bunga. Ia merupakan bagian dari Federal Open Market Committee (FOMC), dewan beranggotakan 12 orang yang memutuskan kebijakan moneter delapan kali setahun. Meski hanya memiliki satu suara, pengaruh Powell sangat besar sebagai figur paling menentukan arah kebijakan ekonomi AS.
Baca Juga: Denmark Tantang Ancam Militer AS, Update Terbaru Greenland
Pembelaan Powell terhadap Tuduhan Renovasi Gedung
Dalam kesaksiannya di Senat, Powell menegaskan renovasi dilakukan demi keselamatan gedung-gedung tua yang belum direnovasi sejak 1930-an.
“Tidak ada ruang makan VIP, tidak ada marmer baru,” ujar Powell kepada senator.
“Kami menurunkan marmer lama dan memasangnya kembali. Tidak ada lift khusus, yang ada hanya lift lama,” lanjut dia.
Ia menegaskan bahwa proyek tersebut telah disampaikan secara terbuka kepada Kongres melalui berbagai laporan dan kesaksian resmi.
Respons Keras Powell: Tekanan Politik Suku Bunga
Powell pun menilai penyelidikan ini sebagai bagian dari tekanan politik agar The Fed menurunkan suku bunga sesuai keinginan Trump.
“Ancaman ini bukan soal kesaksian saya atau renovasi gedung,” kata Powell.
“Ini adalah konsekuensi dari Federal Reserve yang menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik kami untuk kepentingan publik, bukan mengikuti preferensi presiden,” sambung dia.
Ia menyebut langkah DOJ sebagai tindakan belum pernah terjadi sebelumnya dan menegaskan komitmennya untuk “berdiri teguh menghadapi ancaman”.
Baca Juga: Pemerintah Tetapkan Berkabung saat Demo Iran Tewaskan 500 Orang
Kenapa Penyelidikan Ini Bikin Banyak Pihak Cemas?
Seluruh mantan ketua The Fed yang masih hidup menandatangani pernyataan bersama yang mengecam penyelidikan tersebut. Mereka memperingatkan bahwa serangan politik terhadap bank sentral independen kerap berujung pada inflasi tinggi dan ketidakstabilan ekonomi.
“Ini tidak memiliki tempat di Amerika Serikat yang kekuatan utamanya adalah supremasi hukum,” bunyi pernyataan itu.
Sejumlah senator Partai Republik juga menyuarakan kekhawatiran. Senator Thom Tillis menyatakan akan menolak calon ketua The Fed pengganti Powell hingga masalah hukum ini selesai, sementara Lisa Murkowski menyebut penyelidikan ini sebagai bentuk “pemaksaan”.
Kenapa Trump Terus Menyerang The Fed?
Trump sejak lama mendesak The Fed memangkas suku bunga, dengan klaim pemotongan agresif dapat menghemat “US$1 triliun per tahun” dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, Powell dan koleganya memilih pendekatan hati-hati demi menjaga inflasi dan stabilitas pasar tenaga kerja.
Bagi para ekonom, tekanan politik semacam ini berisiko membawa AS kembali ke era inflasi tinggi seperti 1970-an dan memicu guncangan global di pasar keuangan.
Dalam pernyataan penutupnya, Powell memperingatkan bahwa yang dipertaruhkan bukan sekadar dirinya, melainkan masa depan independensi kebijakan moneter AS.
“Ini tentang apakah The Fed masih bisa menetapkan suku bunga berdasarkan data dan kondisi ekonomi, atau justru dikendalikan oleh tekanan dan intimidasi politik,” pungkas dia.
