6 Proyek Prabowo Senilai Rp110 T Resmi Dimulai
Peletakan batu pertama atau groundbreaking sebagai tanda dimulainya pembangunan enam proyek hilirisasi yang dikelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) resmi dilaksanakan.
Total investasi dalam enam proyek tersebut mencapai US$7 miliar atau sekitar Rp100 triliun. Proyek-proyek ini difokuskan pada sektor energi, pertambangan, pertanian, dan peternakan.
Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa proyek hilirisasi ini akan melibatkan banyak pihak, termasuk pelaku usaha kecil dan menengah di daerah tempat proyek beroperasi.
Proyek ini diyakini mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect), seperti terbukanya lapangan kerja baru, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, hingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional. Sehingga, manfaatnya tidak hanya terbatas pada nilai investasi semata.
“6 proyek hilirisasi yang sebetulnya berlokasi di 13 daerah karena ada 1 proyek hilirisasi poultry atau peternakan ayam ini di 6 kota,” sebutnya.
Baca Juga : Purbaya Pegang Bukti RI Dikibulin Pengusaha CPO
Menurut Rosan, proyek-proyek tersebut mencakup sektor mineral, energi, dan agroindustri yang akan menjadi tulang punggung transformasi ekonomi nasional ke depan. Ia menambahkan bahwa program ini juga menjadi perhatian utama Presiden RI Prabowo Subianto karena dampaknya yang langsung dirasakan oleh masyarakat.
Rosan memaparkan bahwa kontribusi proyek hilirisasi terhadap investasi nasional terus meningkat setiap tahun. Pada 2025, sektor hilirisasi menyumbang sekitar 30 persen dari total investasi yang masuk ke Indonesia, yaitu senilai Rp584,1 triliun. Angka tersebut tumbuh 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Jadi memang hilirisasi ini akan meningkat secara dalam dan kalau kita lihat memang sebelumnya hilirisasi ini lebih berpusat di dua daerah. Karena adalah Indonesia Mineral terutama di daerah Maluku dan juga di daerah Maluku Utara dan juga di daerah Sulawesi. Dan itu kita harapkan penyebarannya menjadi lebih baik kalau kita lihat tadi penyebaran juga akan menjadi lebih meningkat ke depannya,” jelasnya.
Adapun 6 proyek tersebut sebagai berikut:
1. Smelter Aluminium Baru
Proyek pertama berupa pembangunan smelter aluminium dengan kapasitas produksi 600.000 metrik ton per tahun. Selain itu, juga dibangun Smelter Grade Alumina Refinery Fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun di Mempawah, Kalimantan Barat.
Fasilitas pengolahan bauksit hingga menjadi alumina dan aluminium ini digarap oleh MIND ID bersama anak usahanya, yaitu Inalum dan Antam. Proyek ini bertujuan mendukung ketahanan mineral Indonesia serta memperkuat pasokan bahan baku bagi industri manufaktur dalam negeri.
Melalui proyek strategis nasional ini, MIND ID menargetkan peningkatan nilai tambah hingga 70 kali lipat, dari bauksit mentah menjadi produk aluminium.
Sebagai gambaran, harga bauksit mentah berada di kisaran US$40 per metrik ton. Setelah diolah menjadi alumina, nilainya meningkat menjadi sekitar US$400 per metrik ton. Ketika diproses lebih lanjut menjadi aluminium, harganya melonjak hingga US$2.800–US$3.000 per metrik ton.
Setelah smelter beroperasi penuh, diperkirakan cadangan devisa negara dapat meningkat 394 persen, dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun. Selain itu, industri dalam negeri juga akan memperoleh kepastian pasokan bahan baku.
2. Pabrik Bioetanol Glenmore Fase 1 – Banyuwangi
Proyek kedua adalah pembangunan pabrik bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur. Proyek ini dikerjakan oleh PTPN III bersama Pertamina dengan kapasitas produksi 100 KLPD (kilo liter per hari).
Pabrik ini ditujukan untuk mendukung sektor energi dan memperkuat rantai nilai industri nasional.
Keberadaan proyek Bioethanol Glenmore diharapkan mampu memberikan manfaat berupa diversifikasi bisnis, peningkatan nilai tambah, penguatan ketahanan energi nasional, penghematan devisa, serta mendukung target pengurangan emisi karbon.
3. Proyek Hilirisasi Fase-1 Biorefinery Cilacap
Proyek ketiga berlokasi di Cilacap, Jawa Tengah, dan digarap oleh PT Pertamina (Persero). Fasilitas ini dirancang untuk mengolah minyak jelantah dengan kapasitas 6 ribu barel per hari.
Saat ini, fasilitas tersebut telah mampu memproduksi 27 kilo liter Sustainable Aviation Fuel (SAF) per hari. Pada 2029, kapasitasnya diproyeksikan meningkat menjadi 887 KL SAF per hari.
Proyek ini diharapkan mendukung sektor energi dan penerbangan, sekaligus membantu pelestarian lingkungan.
Manfaat lain yang diharapkan antara lain penurunan impor avtur, percepatan transisi energi, pengurangan emisi hingga 600 ribu ton CO2 per tahun, serta peningkatan PDB hingga Rp199 triliun per tahun.
Selain itu, proyek ini diperkirakan membuka lapangan kerja tidak langsung hingga 5.900 orang dan mendorong penggunaan produk dalam negeri.
4. Pabrik Bioetanol Glenmore – Banyuwangi
Proyek keempat juga berada di Banyuwangi, berupa pabrik bioetanol berbasis tebu dengan kapasitas 30 ribu KL per tahun.
Pabrik ini digarap oleh Pertamina melalui Subholding Pertamina New and Renewable Energy bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), anak usaha PTPN.
Proyek ini diharapkan mendukung transisi energi, sektor pertanian, serta pelestarian lingkungan.
Efek yang ditargetkan antara lain penurunan impor BBM, pengurangan emisi 66 ribu ton CO2 per tahun, serta pemberdayaan lebih dari 4.000 petani dan tenaga kerja lokal.
5. Pabrik Garam Olahan Segoromadu 2
Proyek kelima merupakan pembangunan pabrik garam bahan baku industri dengan teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR).
PT Garam melaksanakan groundbreaking tiga proyek hilirisasi fase pertama yang menjadi bagian transformasi industri nasional.
Ketiga proyek tersebut meliputi:
- Pabrik garam industri MVR di Sampang dengan kapasitas 200.000 ton per tahun,
- Pabrik garam industri MVR di Manyar, Gresik berkapasitas 100.000 ton per tahun,
- Pabrik garam olahan Segoromadu 2 di Gresik berkapasitas 80.000 ton per tahun.
Secara total, kapasitas produksi mencapai 380.000 ton per tahun dan diharapkan memperkuat pasokan garam industri nasional.
Baca Juga : Iran Klaim Ada Kemajuan dalam Pembicaraan Nuklir dengan AS
6. Hilirisasi Poultry Terintegrasi – Malang
Proyek keenam adalah fasilitas hilirisasi peternakan ayam terintegrasi di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Proyek ini digarap oleh PT Berdikari, anak usaha ID FOOD, di atas lahan seluas 5,6 hektar.
Selain di Malang, proyek serupa juga akan dibangun di lima lokasi lain, yaitu Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Lampung, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat.
Target Prabowo
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pemerintah sedang menyiapkan 18 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai Rp618 triliun. Proyek-proyek tersebut diperkirakan dapat membuka 276.000 lapangan kerja baru.
Prabowo menilai keberadaan Danantara sangat strategis karena memungkinkan pemerintah memaksimalkan investasi tanpa terlalu bergantung pada modal asing.
“Kita punya kemampuan sekarang. Jadi tadi saya sampaikan pokok-pokok yang harus kita mulai dan laksanakan adalah hilirisasi. Delapan belas proyek ini akan ciptakan 276.000 pekerjaan berkualitas dengan investasi Rp618 triliun,” kata Prabowo dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026, Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Senin (2/2/2026).
Selain hilirisasi, Presiden juga menyoroti persoalan sampah nasional yang diperkirakan akan mengalami kelebihan kapasitas pada 2028 atau bahkan lebih cepat.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menyiapkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 34 titik kabupaten/kota.
Baca Juga : Prabowo Undang Australia dalam Proyek Hilirisasi Militer Kritis
Diperkirakan dalam dua tahun ke depan, fungsi investasi cukup besar di mana totalnya mencapai US$3,5 miliar untuk 34 titik itu, dan harus ada inisiatif bupati
Prabowo memperkirakan proyek tersebut akan mulai beroperasi dalam waktu sekitar dua tahun ke depan. Ia menyebut bahwa nilai investasi yang dibutuhkan cukup besar, yakni mencapai US$3,5 miliar untuk pembangunan di 34 titik.
Setelah meninjau langsung kondisi di beberapa daerah, Prabowo menilai bahwa program ini tidak hanya perlu diterapkan di kota-kota besar, tetapi juga di tingkat kabupaten. Ia juga mengapresiasi adanya inisiatif dari sejumlah bupati yang telah melakukan berbagai inovasi, sehingga pengalaman tersebut bisa saling dipelajari dan diterapkan di daerah lain.

[…] 6 Proyek Prabowo Senilai Rp110 T Resmi Dimulai […]
[…] 6 Proyek Prabowo Senilai Rp110 T Resmi Dimulai […]