Iran Klaim Ada Kemajuan dalam Pembicaraan Nuklir dengan AS
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai perundingan nuklir terbaru antara Teheran dan Washington sebagai sebuah langkah maju, meski menegaskan penolakan Iran terhadap segala bentuk intimidasi.
Ia menyebut dialog sebagai pendekatan utama Iran dalam menyelesaikan konflik secara damai.
“Dialog selalu menjadi strategi kami untuk menyelesaikan persoalan secara damai,” tulis Pezeshkian di X, pada Minggu (8/2/2026).
Ia merujuk pada perundingan yang melibatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff, serta menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner.
Baca Juga: Tertinggi sejak Krisis 2009, Gelombang PHK AS Meledak
Iran Tegaskan Tolak Intimidasi dalam Perundingan Nuklir
Perundingan tersebut dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi dan menjadi kelanjutan dari lima putaran negosiasi yang gagal tahun lalu.
Negosiasi sebelumnya terhenti setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada Juni 2025.
Presiden AS Donald Trump menyebut perundingan Jumat (6/2/2026) lalu sebagai “sangat baik” dan mengatakan pertemuan lanjutan telah dijadwalkan pada awal pekan ini.
Keterlibatan kembali kedua negara terjadi di tengah pengerahan militer Amerika Serikat yang berlanjut di Timur Tengah.
Amerika Serikat juga menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan pengiriman minyak Iran.
Trump turut mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran dengan alasan penindasan terhadap aksi protes serta kekhawatiran atas program nuklir dan rudal balistik Teheran.
“Bangsa Iran selalu membalas rasa hormat dengan rasa hormat, tetapi tidak menoleransi bahasa kekuatan,” ungkap Pezeshkian.
Pada Minggu (8/2/2026), Abbas Araghchi menegaskan bahwa pembicaraan dengan Amerika Serikat tetap terbatas pada isu nuklir.
Ia menekankan bahwa Republik Islam Iran tidak akan melepaskan haknya untuk memperkaya uranium di dalam negeri.
Baca Juga: Musuh Politik Trump Semakin Meluas, AS Ditinggalkan
Araghchi kembali menegaskan bahwa Teheran tidak mengejar kepemilikan senjata nuklir.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran bahwa persediaan uranium yang diperkaya tinggi telah mendekatkan Iran pada kemampuan senjata nuklir.
Trump sebelumnya mengklaim bahwa serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran telah menghancurkan program atom negara tersebut.
“Mereka takut pada bom nuklir kami, padahal kami tidak mencarinya,” kata Araghchi.
Ia menyatakan Iran siap untuk “membangun kepercayaan” dan menjawab kekhawatiran atas program nuklirnya.
“Namun, tidak ada seorang pun yang berhak mengatakan kepada kami bahwa kami tidak boleh memiliki sesuatu hanya karena mereka menginginkannya demikian,” pungkas dia.

[…] Iran Klaim Ada Kemajuan dalam Pembicaraan Nuklir dengan AS […]