AS Dikabarkan Siapkan Operasi Darat ke Iran, Konflik Makin Tak Terkendali?
Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan kemungkinan pelaksanaan operasi darat terbatas di wilayah Iran. Langkah ini dinilai berpotensi memperluas konflik yang kini telah memasuki pekan kelima sejak pecah pada akhir Februari 2026.
Rencana tersebut mencakup serangan cepat terhadap sejumlah fasilitas strategis milik Iran, termasuk pusat ekspor minyak serta wilayah pesisir yang berada di sekitar jalur pelayaran internasional penting.
Menurut laporan The Washington Post yang mengutip pejabat Amerika, Pentagon sedang menyusun skenario operasi militer yang dapat berlangsung selama beberapa minggu. Target yang disebutkan dalam rencana tersebut antara lain Pulau Kharg, serta wilayah pesisir di sekitar Selat Hormuz.
Meski disebut melibatkan kekuatan darat, rencana tersebut tidak dikategorikan sebagai invasi besar-besaran. Operasi kemungkinan melibatkan pasukan khusus, serta infanteri konvensional dalam skala terbatas.
Baca Juga : Demo “No Kings” Pecah di AS, Senator Kecam Tindakan Trump!
Namun demikian, potensi risiko bagi personel militer Amerika tetap tinggi. Mereka diperkirakan akan menghadapi ancaman berupa serangan drone dan rudal Iran, tembakan dari darat, hingga bahan peledak rakitan di lapangan.
Hingga kini, belum ada kepastian apakah Presiden Donald Trump akan memberikan persetujuan terhadap rencana tersebut.
Menanggapi laporan tersebut, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa penyusunan berbagai opsi militer merupakan prosedur rutin dalam perencanaan pertahanan.
“Merupakan tugas Pentagon untuk membuat persiapan guna memberikan opsi maksimal kepada Panglima Tertinggi. Itu tidak berarti presiden telah membuat keputusan,” kata Leavitt dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Al Jazeera, Senin (30/3/2026).
Seiring meningkatnya ketegangan, pemerintah Amerika juga dilaporkan telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.
Washington disebut telah mengirim marinir tambahan, serta merencanakan pengerahan ribuan prajurit dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat Amerika ke wilayah tersebut.
Pada Sabtu (28/3/2026), United States Central Command (CENTCOM) menyatakan bahwa sekitar 3.500 personel militer tambahan telah tiba di kawasan dengan menumpang kapal amfibi USS Tripoli.
Pasukan tersebut berasal dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dan tiba pada 27 Maret 2026 bersama perlengkapan militer yang meliputi pesawat angkut, jet tempur serang, serta aset operasi amfibi dan taktis lainnya.
Diskusi internal di pemerintahan Amerika dalam beberapa pekan terakhir dilaporkan mencakup kemungkinan penguasaan Pulau Kharg. Wilayah tersebut dikenal sebagai pusat ekspor minyak utama Iran yang memiliki peran vital dalam sektor energi negara itu.
Selain Pulau Kharg, operasi juga berpotensi menyasar wilayah pesisir lain di sekitar Selat Hormuz dengan tujuan menemukan dan menghancurkan sistem persenjataan yang dianggap mengancam jalur pelayaran komersial maupun militer.
Seorang sumber menyebutkan bahwa operasi tersebut kemungkinan hanya memerlukan waktu dalam hitungan minggu, sementara sumber lain memperkirakan operasi dapat berlangsung hingga beberapa bulan.
Hingga kini, pihak Pentagon belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut. Sementara itu, pemerintah Iran juga belum menyampaikan tanggapan langsung terhadap rencana tersebut.
Laporan mengenai rencana operasi darat muncul bersamaan dengan upaya mediasi yang dilakukan oleh Pakistan, negara yang berbatasan langsung dengan Iran sepanjang sekitar 900 kilometer.
Islamabad menjadi tuan rumah pertemuan diplomatik selama dua hari sejak Minggu (29/3/2026), yang melibatkan menteri luar negeri dari Arab Saudi, Turki, serta Mesir.
Di sisi lain, pejabat Iran menyampaikan peringatan keras terkait kemungkinan serangan darat tersebut. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa pihaknya mencurigai adanya rencana serangan tersembunyi.
Baca Juga : Gaya Kepemimpinan Trump Diprotes, Demo “No Kings” Meletus!
“Tanpa menyadari bahwa orang-orang kami menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk membakar mereka dan menghukum mitra regional mereka selamanya. Tembakan kami terus berlanjut. Rudal kami sudah siap,” kata Ghalibaf, dikutip kantor berita Tasnim.
“Tekad dan keyakinan kami telah meningkat. Kami menyadari kelemahan musuh, dan kami dengan jelas melihat dampak ketakutan dan teror di tentara musuh,” imbuhnya.
Sebelumnya, Ghalibaf juga menyampaikan bahwa laporan intelijen Iran menunjukkan adanya kemungkinan rencana pendudukan pulau milik Iran dengan dukungan negara regional tertentu.
Ia menegaskan bahwa setiap upaya tersebut akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur vital milik lawan.
Sumber militer yang dikutip oleh Tasnim menyebutkan bahwa Iran berpotensi membuka front baru di jalur masuk Laut Merah jika terjadi aksi militer di wilayah Iran.
Wilayah yang disebut memiliki nilai strategis tinggi adalah Selat Bab al-Mandeb, jalur penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Dalam laporan yang sama, disebutkan pula bahwa kelompok Houthi movement yang bersekutu dengan Iran diklaim siap mengambil peran apabila diperlukan untuk mengendalikan jalur tersebut.

[…] AS Dikabarkan Siapkan Operasi Darat ke Iran, Konflik Makin Tak Terkendali? […]