Defisit Primer APBN 2027 Nyaris Nol, Fiskal RI Makin Sehat
Pemerintah Presiden Prabowo Subianto telah mengajukan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Salah satu perubahan yang menjadi sorotan adalah penurunan defisit keseimbangan primer. Pemerintah mematok defisit keseimbangan primer sebesar Rp20,8 triliun pada 2027.
Sementara itu, defisit APBN 2027 dirancang sebesar 2,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Nilainya setara dengan Rp671,1 triliun.
Baca Juga: Ini Penyebab Subsidi Motor Listrik Rp5 Juta Belum Cair …
Dikutip dari Buku Nota Keuangan, Selasa (18/8/2026), angka defisit keseimbangan primer tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pada 2025, defisit keseimbangan primer tercatat Rp155,9 triliun. Sementara itu, pada 2026 defisit keseimbangan primer diperkirakan mencapai Rp152 triliun.
Penurunan tersebut menunjukkan kondisi fiskal pemerintah yang semakin membaik. Defisit keseimbangan primer yang semakin mendekati nol juga berarti kebutuhan pemerintah untuk berutang guna menutup kebutuhan anggaran semakin berkurang.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah diharapkan tidak lagi mengandalkan utang untuk membayar utang beserta bunganya pada tahun berjalan. Istilah sederhananya, pemerintah mulai meninggalkan pola “gali lubang tutup lubang”.
Jika keseimbangan primer dapat terus diarahkan menuju surplus, beban utang pemerintah secara bertahap akan lebih terkendali.
Pemerintah tidak perlu terus menambah utang hanya untuk menutup kebutuhan kas operasional. Ruang fiskal pun dapat menjadi lebih sehat untuk membiayai program pembangunan.
Dalam Buku Nota Keuangan disebutkan, kinerja defisit anggaran dan keseimbangan primer pada periode 2021-2025 mencerminkan konsolidasi fiskal yang dilakukan secara prudent dan adaptif terhadap dinamika perekonomian.
Baca Juga: HUT ke-81 RI, BI Luncurkan QRIS 0 Persen dan Kartu Kredit Indonesia
Kondisi tersebut mulai terlihat setelah defisit membaik pada 2023. Perbaikan itu didukung oleh penguatan penerimaan negara dan efisiensi belanja.
Namun, defisit kembali meningkat secara terukur pada 2024-2025. Peningkatan tersebut terjadi karena APBN tetap digunakan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung agenda pembangunan di tengah ketidakpastian global.
Dengan target defisit keseimbangan primer yang hanya Rp20,8 triliun pada 2027, pemerintah menunjukkan upaya untuk menjaga kesinambungan fiskal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan melalui utang.
