Iran Ancam AS: Trump Harus Tunduk atau Kalah!
Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaei-Nik menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki pilihan lain selain menerima tuntutan Teheran. Ia menyebut kegagalan Washington mengakui hak Iran justru akan memperbesar kerugian politik Presiden Donald Trump dalam konflik yang sedang berlangsung.
“Satu-satunya jalan keluar dari perang ketiga yang dipaksakan oleh musuh Amerika-Zionis, baik di medan perang maupun dalam diplomasi, adalah dengan mengamankan tuntutan rakyat Iran,” kata Talaei-Nik kepada kantor berita Tasnim News Agency, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (23/5/2026). Ia menambahkan bahwa Trump dapat mencegah kerugian lebih lanjut jika bersedia menerima proposal dari Iran.
Baca Juga : Prabowo Peringatkan Negara Asing, Jangan Mainkan Kekayaan RI!
Menurutnya, keberlanjutan perang hanya akan meningkatkan biaya politik dan ekonomi, tidak hanya bagi Amerika Serikat tetapi juga bagi komunitas internasional.
Iran Tegaskan Tuntutan Akhiri Perang
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa Teheran tidak meminta konsesi dari AS, melainkan menuntut pemulihan hak-haknya sebagai negara yang telah lama berada di bawah tekanan sanksi.
“Kami ingin hak-hak kami dipulihkan. Selama lima dekade terakhir, kami berada di bawah apa yang mereka sebut sebagai ‘sanksi yang melumpuhkan’,” kata Baqaei, dikutip dari CBS News.
Ia menegaskan bahwa kesepakatan damai harus mencakup penghentian seluruh tindakan militer AS dan Israel sejak 28 Februari, pencabutan sanksi ekonomi, serta pembebasan aset Iran yang dibekukan. Selain itu, Iran juga menuntut penghentian blokade terhadap pelabuhan dan kapal Iran yang dianggap melanggar hukum internasional.
AS Disebut Siapkan Serangan Baru
Di sisi lain, pemerintahan Trump dikabarkan tengah bersiap melancarkan serangan militer lanjutan terhadap Iran, meski jalur diplomasi masih berlangsung. Laporan CBS News menyebut sejumlah persiapan militer dan intelijen meningkat menjelang kemungkinan eskalasi baru.
Baca Juga : Netanyahu Terancam Lengser, Parlemen Ajukan Pembubaran
Presiden Donald Trump bahkan disebut membatalkan sejumlah agenda pribadinya dan kembali ke Gedung Putih untuk menangani situasi tersebut. Beberapa personel militer dan intelijen juga dilaporkan menunda rencana libur Memorial Day sebagai langkah antisipasi terhadap potensi operasi militer baru.
Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan antara Washington dan Teheran masih berada pada titik kritis, dengan peluang eskalasi maupun diplomasi yang sama-sama terbuka.
