AS dan Iran Siapkan Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz
Amerika Serikat dan Iran dikabarkan tengah menyiapkan kesepakatan yang mengatur perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kesepakatan tersebut juga disebut akan memungkinkan Teheran kembali menjual minyak serta membuka peluang negosiasi terkait program nuklir Iran.
Laporan mengenai isi kesepakatan itu pertama kali diungkap media AS Axios dengan mengutip seorang pejabat AS yang mengetahui draf perjanjian tersebut.
Namun, hingga kini baik pemerintah AS maupun Iran belum memberikan pernyataan resmi.
Pejabat AS yang dikutip Axios menyebut kesepakatan tersebut belum difinalisasi dan masih berpotensi gagal sebelum ditandatangani.
Sementara itu, laporan The New York Times menyebut kesepakatan masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.
Proses persetujuan itu disebut dapat memakan waktu beberapa hari.
Baca Juga: AS Diancam Iran, Trump Harus Tunduk atau Kalah!
Iran Akan Buka Selat Hormuz dan Bersihkan Ranjau
Dalam laporan Axios disebutkan kesepakatan tersebut akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup Iran selama perang berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Berdasarkan draf nota kesepahaman, Iran akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz dan mengizinkan kapal-kapal melintas tanpa pungutan tol.
Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan memberikan pengecualian sanksi terbatas agar Teheran dapat kembali menjual minyak selama periode gencatan senjata berlangsung.
Seorang pejabat AS menggambarkan mekanisme tersebut sebagai “bantuan berdasarkan kinerja”.
Ia mengatakan bantuan ekonomi hanya akan diberikan setelah Iran menjalankan langkah konkret yang disepakati.
Draf kesepakatan juga memuat komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dan bersedia menegosiasikan penghentian pengayaan uranium serta pemindahan stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi.
Laporan Axios menyebut pelonggaran sanksi lebih luas maupun pencairan dana Iran baru akan dibahas selama masa gencatan senjata dan diterapkan jika kesepakatan akhir berhasil diverifikasi.
Selama masa perpanjangan gencatan senjata 60 hari itu, pasukan AS di kawasan disebut tetap berada di pos masing-masing dan hanya akan ditarik jika tercapai kesepakatan permanen.
Kesepakatan tersebut juga disebut berkaitan dengan upaya menghentikan perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.
Baca Juga: 100 Kapal di Laut Regional Asia Dikerahkan China
Seorang pejabat AS mengatakan Israel tetap diizinkan bertindak jika Hizbullah mencoba mempersenjatai diri kembali atau melanjutkan serangan.
Upaya diplomatik tersebut didukung sejumlah negara Arab dan Muslim seperti Arab Saudi, Qatar, Mesir, Turki, Pakistan, dan Uni Emirat Arab.
Pakistan disebut memainkan peran penting dalam proses mediasi tersebut.
