Netanyahu Terancam Lengser, Israel Siap Pemilu
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan serius dari koalisi pemerintahannya setelah muncul rancangan undang-undang pembubaran parlemen yang berpotensi membuka jalan menuju pemilu dini di Israel.
Jika rancangan undang-undang tersebut disahkan, pemilu Israel harus digelar dalam waktu maksimal 90 hari setelah pengesahan. Media Israel melaporkan pemungutan suara kemungkinan dilakukan pada 20 Mei dan peluang pengesahannya cukup besar.
Bila skenario itu terjadi, Israel diperkirakan menggelar pemilu mulai pekan ketiga Agustus 2026, lebih cepat dari jadwal berakhirnya masa parlemen pada 27 Oktober 2026.
Baca Juga : Pemerintah Sebut Penerima MBG Semakin Banyak, Iini Lengkapnya
“Parlemen ke-25 akan dibubarkan sebelum akhir masa jabatannya. Pemilu akan digelar pada tanggal … yang tidak boleh ditetapkan lebih awal dari 90 hari setelah pengesahan undang-undang ini,” demikian isi draf legislasi yang dirilis Likud, dikutip dari The Guardian, Minggu (24/5/2026).
Situasi ini muncul di tengah meningkatnya ketidakpuasan partai-partai ultra-Ortodoks terhadap Netanyahu. Mereka menilai sang perdana menteri gagal memenuhi janji politik, terutama terkait pengesahan aturan pengecualian wajib militer permanen bagi pria muda komunitas mereka yang belajar di yeshiva atau seminari agama.
Walau usulan pembubaran parlemen berasal dari partai yang dipimpin Netanyahu, langkah tersebut dinilai sebagai strategi untuk mengambil kendali atas momentum politik dan mencegah oposisi mengatur jadwal pemilu.
Di kubu oposisi, pemimpin utama oposisi Yair Lapid memastikan kesiapan menghadapi pemilu. Ia bahkan membentuk aliansi politik baru bersama mantan perdana menteri Naftali Bennett bernama Beyahad (Bersama).
“Kami siap bersama,” tulis Lapid di platform X.
Lapid dan Bennett dikenal sebagai pengkritik keras kebijakan Netanyahu sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Lapid bahkan menyebut gencatan senjata terbaru dengan Iran sebagai “bencana politik”.
Meski tekanan politik terhadap Netanyahu meningkat, sejumlah survei terbaru menunjukkan Likud masih menjadi partai dengan tingkat elektabilitas tertinggi. Berdasarkan jajak pendapat lembaga penyiaran publik Israel, Likud diproyeksikan memperoleh 26 kursi dari total 120 kursi parlemen.
Baca Juga : Dalam 5 Tahun Lagi Prabowo Targetkan RI Swasembada Daging
Sementara itu, aliansi Beyahad diperkirakan meraih 25 kursi dan unggul atas partai Yashar yang dipimpin mantan kepala militer Israel, Gadi Eisenkot.
Karier politik Netanyahu sendiri menjadi salah satu yang terpanjang dalam sejarah Israel. Sejak 1996, politikus berusia 76 tahun itu telah menjabat sebagai perdana menteri selama lebih dari 18 tahun.
Namun, posisinya mulai tertekan sejak serangan Hamas beberapa tahun lalu. Banyak warga Israel menilai Netanyahu gagal memberikan keamanan, sementara janji “kemenangan total” atas Hamas, Hizbullah, dan Iran hingga kini belum tercapai.

[…] Netanyahu Terancam Lengser, Israel Siap Pemilu […]