Media AS Ramai Kritik Trump Usai Kesepakatan dengan Iran
Gelombang kritik dari berbagai media Amerika Serikat bermunculan setelah Presiden Donald Trump menandatangani kesepakatan dengan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Perjanjian tersebut ditandatangani Trump dalam sebuah jamuan makan malam di luar Paris, Perancis, pada Rabu (17/6/2026). Namun, sesaat setelah kembali ke Amerika Serikat, Trump menghadapi sorotan tajam dari berbagai kalangan, termasuk media yang selama ini dikenal dekat dengan dirinya.
Sejumlah media menilai kesepakatan tersebut tidak memenuhi tujuan awal yang dicanangkan Washington sebelum konflik berlangsung. Sebaliknya, Iran dianggap memperoleh keuntungan politik dan ekonomi yang lebih besar.
Media AS Soroti Konsesi untuk Iran
Fox News, yang selama ini dikenal sebagai salah satu media yang sering memberikan ruang bagi pandangan Trump, turut menyoroti kritik terhadap isi kesepakatan tersebut.
Media itu mengutip pandangan sejumlah pihak yang menilai Iran memperoleh keuntungan finansial besar tanpa harus membongkar program nuklirnya secara menyeluruh.
“Meskipun pemerintah menggambarkan kesepakatan sebagai terobosan, para kritikus berpendapat bahwa konsesi yang ditawarkan kepada Iran jauh melebihi komitmen yang diperoleh sebagai imbalannya,” lapor Fox News, dikutip AFP.
Baca Juga: Trump Komentari Serangan Sekolah di Iran yang Tewaskan 175 Orang
Kritik yang lebih keras datang dari jaringan televisi MS NOW. Media tersebut menilai pemerintah AS gagal mencapai tujuan utama yang sebelumnya menjadi dasar keterlibatan dalam konflik.
“Gedung Putih menyetujui perpanjangan gencatan senjata ini yang tidak memenuhi satupun tujuan pra-perangnya, sambil memberikan konsesi keuangan yang sangat besar kepada Teheran,” tulis MS NOW.
“Sekarang, pemerintah mati-matian mencoba membantah hal itu. Sederhananya, Trump dipermainkan oleh Iran, dan tidak ada yang percaya pada upaya pembelaannya.”
Sementara itu, Wall Street Journal menyebut kesepakatan dengan Iran sebagai salah satu taruhan kebijakan luar negeri terbesar Trump selama masa jabatan keduanya.
Media tersebut juga melaporkan bahwa proses penandatanganan sempat berlangsung tidak sesuai rencana setelah Trump dikabarkan menandatangani dokumen itu lebih cepat dari jadwal yang telah disusun para ajudannya.
Iran Dinilai Mendapat Keuntungan Besar
New York Times menilai Iran justru keluar sebagai pihak yang paling diuntungkan dari kesepakatan tersebut. Menurut media itu, dokumen yang ditandatangani bukanlah bentuk penyerahan diri Teheran sebagaimana yang sebelumnya diperkirakan sebagian pihak.
Media tersebut bahkan menyebut Iran memiliki banyak alasan untuk merayakan hasil negosiasi yang dicapai dengan Washington.
“Kalaupun ada, Trump mendukung kepemimpinan baru,” tulis New York Times dalam sindirannya terhadap perubahan sikap Gedung Putih.
Surat kabar itu juga menyoroti kemungkinan Iran berada dalam posisi yang lebih kuat untuk melanjutkan strategi nuklirnya di masa mendatang.
“Selama lebih dari dua dekade, Iran berjalan tepat di ambang pembangunan bom nuklir, tetapi tidak pernah melangkah melewati batas,” ulas New York Times.
“Ketika para pemimpin Iran mulai membersihkan puing-puing yang ditinggalkan oleh 40 hari pemboman, dan memikirkan bagaimana menghabiskan miliaran pendapatan minyak yang akan segera pulih, mereka mungkin akan mempertanyakan apakah mereka memiliki strategi nuklir yang tepat.”
Baca Juga: Sebelum Dimakamkan, Jenazah Ali Khamenei Akan Lewati Irak
Di sisi lain, National Public Radio (NPR) lebih menyoroti dampak kemanusiaan yang ditimbulkan konflik tersebut. Media itu menilai perang mempertemukan kekuatan militer terbesar dunia dengan lawan yang lebih kecil tetapi memiliki strategi yang efektif.
Kesepakatan yang baru ditandatangani ini sendiri masih bersifat sementara. Dokumen tersebut menjadi dasar dimulainya negosiasi lanjutan mengenai pengawasan jangka panjang terhadap program nuklir Iran.
Dalam rancangan perjanjian itu, Amerika Serikat juga disebut akan memfasilitasi pencairan dana rekonstruksi senilai 300 miliar dollar AS atau sekitar Rp5,3 kuadriliun yang didukung negara-negara kawasan apabila kesepakatan final mengenai program nuklir Iran berhasil dicapai.
