Jenderal Iran Klaim Bisa Perang Lawan AS hingga Trump Lengser
Komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi, menyatakan Iran memiliki kemampuan untuk menghadapi Amerika Serikat (AS) dalam perang berkepanjangan, bahkan hingga masa jabatan Presiden Donald Trump berakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan Naqdi dalam wawancara dengan media AS, PBS, yang disiarkan pada Selasa. Ia menilai Teheran mampu mempertahankan konfrontasi dalam jangka panjang di tengah laporan mengenai tekanan terhadap persediaan amunisi AS dan kondisi pasukan Amerika di Timur Tengah.
Baca Juga: Ditegaskan Kemlu, Latihan Perang RI-China Bukan Latihan Tempur
“Tujuan Teheran adalah mencapai deterrence agar musuh tidak pernah berani menyerang kami, sehingga kami bisa hidup dengan aman,” ujar Naqdi kepada PBS ketika ditanya apakah komandan Iran berencana memperpanjang konflik hingga Trump tidak lagi menjabat.
Menurut Naqdi, memperpanjang perang merupakan salah satu strategi untuk menguras kekuatan lawan sekaligus menciptakan efek gentar terhadap negara yang berniat menyerang Iran.
“Salah satu caranya adalah dengan memperpanjang perang ini hingga masa jabatan presiden berikutnya dan menyebabkan pengurasan kekuatan lawan, sehingga jika ada pihak lain yang ingin menyerang Iran, mereka akan tahu bahwa ada harga yang harus dibayar,” katanya.
Trump sebelumnya melancarkan kampanye pengeboman selama 40 hari terhadap Iran pada akhir Februari. Meski kehilangan sejumlah pejabat senior, pemerintahan Teheran disebut tetap mempertahankan kendali dan melakukan serangan balasan terhadap fasilitas militer AS di kawasan Teluk.
Konflik tersebut juga disebut semakin tidak populer di kalangan pemilih AS. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran di kalangan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu pada November.
Trump sendiri beberapa kali menyampaikan ancaman eskalasi militer sekaligus mengklaim Iran telah mengalami pelemahan dan hampir bersedia menerima kesepakatan damai yang menguntungkan Washington.
Pada Rabu, Trump juga mengatakan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang diberlakukan sejak April telah menjadi apa yang disebut sebagai “tembok baja”. Ia juga mengklaim Teheran sudah tidak memiliki uang.
Namun, Naqdi menilai pengalaman Iran dalam konflik tersebut justru membuat kemampuan militernya semakin berkembang.
“Semakin lama perang ini berlangsung, semakin banyak pengalaman yang kami peroleh,” ujar Naqdi.
“Kami belum pernah menyaksikan perang sungguhan untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam mempelajari cara bertempur melawan Amerika. Dalam lima bulan ini, kami telah mempelajarinya. Kami juga melihat bahwa militer Amerika ternyata lebih lemah daripada yang kami bayangkan sebelumnya.”
Baca Juga: Prabowo Jelaskan Insentif Motor Listrik, Ada DP 0 Persen dan Bunga Cicilan Turun
Naqdi juga mengklaim Iran mampu memproduksi pesawat nirawak dan rudal dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan tingkat penggunaannya. Menurut dia, kondisi tersebut memungkinkan Iran mempertahankan kemampuan tempurnya selama bertahun-tahun.
Jika persediaan senjata tersebut pada akhirnya habis, Naqdi mengatakan Teheran masih memiliki pilihan lain. Iran, menurut dia, dapat mengalihkan serangan terhadap apa yang disebutnya sebagai “ribuan kepentingan ekonomi [Amerika] di seluruh dunia”.
