AS-Arab Saudi Berselisih soal Operasi di Hormuz
Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi dilaporkan mengalami ketegangan setelah kedua negara berbeda pandangan terkait operasi militer di Selat Hormuz selama konflik dengan Iran.
Perselisihan tersebut mencuat setelah Arab Saudi menolak memberikan akses pangkalan militer dan wilayah udaranya untuk mendukung operasi AS yang dikenal sebagai Project Freedom.
Penolakan itu disebut memaksa Washington menghentikan operasi yang baru diluncurkan beberapa jam sebelumnya.
Baca Juga: Pinjaman ke China akan Dihentikan Bank Dunia hingga 2031
Project Freedom Terhenti di Tengah Ketegangan
Menurut pejabat AS yang mengetahui persoalan tersebut, lebih dari 100 pesawat militer AS telah disiapkan dari berbagai pangkalan dan kapal perang di Timur Tengah sebagai bagian dari Project Freedom.
Operasi tersebut dirancang untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Namun, rencana itu gagal berlanjut setelah Arab Saudi menolak memberikan akses penggunaan pangkalan dan wilayah udaranya.
Laporan yang dikutip dari The Wall Street Journal menyebut Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman memperingatkan Presiden Donald Trump bahwa operasi tersebut berpotensi memicu respons Iran dan memperburuk situasi kawasan.
Ketegangan meningkat ketika dua kapal AS mulai dikawal melewati Selat Hormuz.
Iran kemudian meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan kapal komersial, kapal Angkatan Laut AS, serta pusat transit minyak di Uni Emirat Arab.
Serangan itu disebut sebagai eskalasi paling serius sejak Trump mengumumkan gencatan senjata pada April lalu.
Setelah menilai Washington meremehkan ancaman tersebut, Arab Saudi memutuskan memblokir penggunaan pangkalan dan wilayah udaranya untuk Project Freedom.
Sebagai respons, Gedung Putih disebut mengancam akan menunda pengiriman rudal pencegat yang dibutuhkan Arab Saudi untuk menghadapi ancaman rudal dan drone Iran apabila Riyadh tidak mengubah sikapnya.
Arab Saudi akhirnya mencabut pembatasan tersebut.
Meski demikian, sejumlah pejabat AS menilai hubungan keamanan kedua negara telah mengalami kerusakan yang cukup serius.
Sebagai alternatif, militer AS disebut mulai mengatur pelayaran kapal secara diam-diam pada malam hari dengan mematikan transponder guna mengurangi risiko serangan.
Laporan itu menyebut perselisihan tersebut menjadi salah satu keretakan paling serius dalam hubungan keamanan AS dan Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan, Washington dikabarkan tengah mempertimbangkan pengurangan kehadiran pasukan militernya di Arab Saudi dan mengalihkan fokus ke negara-negara yang dinilai lebih mendukung selama perang, termasuk Israel dan Yordania.
Namun, pembahasan tersebut masih berada pada tahap awal dan belum menghasilkan keputusan final.
Baca Juga: Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Terungkap!
Perbedaan Sikap terhadap Iran
Menurut laporan tersebut, perbedaan pandangan antara Washington dan Riyadh sebenarnya sudah muncul sejak awal konflik dengan Iran.
Arab Saudi bersama negara-negara Teluk berulang kali mendorong penyelesaian diplomatik dan memperingatkan bahwa upaya menggulingkan pemerintahan Iran berpotensi memicu penutupan Selat Hormuz.
Langkah tersebut dinilai dapat mengguncang pasar minyak global, merugikan perekonomian AS, serta mengancam stabilitas kawasan.
Riyadh juga secara terbuka menyatakan tidak akan mengizinkan pangkalan maupun wilayah udaranya digunakan untuk menyerang Iran.
Namun, AS tetap melancarkan operasi militer bersama Israel.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke berbagai pusat penduduk, fasilitas energi, serta bandara di kawasan Teluk.
Meski awalnya menolak keterlibatan langsung, Arab Saudi dan sejumlah negara Teluk akhirnya mengizinkan penggunaan pangkalan mereka untuk mendukung operasi AS.
Menurut sejumlah pejabat AS dan pejabat Teluk, Arab Saudi bahkan turut melancarkan serangan terhadap lokasi peluncuran rudal dan drone Iran meski tidak pernah mengakuinya secara terbuka.
Namun, pendekatan Riyadh mulai berubah setelah Iran menyerang sejumlah fasilitas energi strategis di kawasan, termasuk proyek gas Ras Laffan di Qatar, pusat ekspor minyak Fujairah di Uni Emirat Arab, dan kompleks perminyakan Ras Tanura di Arab Saudi.
Sejak saat itu, kerajaan tersebut mendorong deeskalasi konflik dan meminta AS kembali mengedepankan jalur diplomasi.
Arab Saudi juga disebut mendesak Washington menekan Uni Emirat Arab agar menghentikan serangan terhadap Iran serta mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Hubungan Diplomatik Ikut Memanas
Ketegangan tidak hanya terlihat dalam kerja sama keamanan, tetapi juga pada hubungan diplomatik kedua negara.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio melakukan kunjungan ke Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain, tetapi tidak menyambangi Arab Saudi.
Langkah tersebut ditafsirkan sebagian pejabat Saudi sebagai bentuk sindiran dari Washington.
Meski demikian, pemerintahan Trump membantah anggapan tersebut dan menegaskan Rubio tetap melakukan pembicaraan yang positif dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi.
Sebelumnya, Mohammed bin Salman juga dilaporkan menolak undangan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Perancis sebagai bentuk protes terhadap cara Washington menangani konflik dengan Iran.
Namun, media Saudi saat itu menyebut alasan resmi ketidakhadirannya adalah karena memiliki agenda lain yang telah dijadwalkan.
Di tengah berbagai spekulasi mengenai memburuknya hubungan kedua negara, Gedung Putih tetap menegaskan hubungan antara Washington dan Riyadh berada dalam kondisi baik.

[…] AS-Arab Saudi Berselisih soal Operasi di Hormuz […]