Iran Memanas! IRGC vs Presiden Ancam Damai dengan AS
Konflik internal di tubuh pemerintahan Iran dilaporkan semakin memanas. Perselisihan antara pemerintahan sipil di bawah Presiden Masoud Pezeshkian dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) disebut berpotensi mengganggu proses negosiasi damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Mengutip laporan The Wall Street Journal, Selasa (30/6/2026), ketegangan dipicu oleh perbedaan prioritas yang semakin tajam mengenai arah kebijakan Iran ke depan.
Presiden Pezeshkian disebut menjadikan pemulihan ekonomi sebagai fokus utama pemerintahannya. Salah satu target yang ingin dicapai adalah pencairan dana Iran senilai US$6 miliar yang hingga kini masih dibekukan di Qatar.
Baca Juga : Petani Bisa Klaim Asuransi di Tengah Ancaman El Nino
Pembebasan aset tersebut menjadi salah satu isu yang tengah dibahas dalam perundingan antara Iran dan AS.
Namun, pendekatan tersebut berbeda dengan sikap IRGC. Kelompok militer elite Iran itu lebih menitikberatkan pada upaya mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz.
IRGC bahkan dikabarkan ingin menerapkan sistem pungutan atau tol bagi kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. Langkah itu dinilai dapat memperkuat kemampuan militer Iran sekaligus memperbesar pengaruh Teheran terhadap keamanan kawasan Timur Tengah.
Sejumlah pejabat Iran memperkirakan skema tersebut berpotensi menghasilkan pendapatan hingga US$40 miliar setiap tahun.
Ketegangan politik di Teheran semakin meningkat setelah IRGC dikabarkan memberikan tekanan terkait proses negosiasi yang berlangsung di Doha, Qatar.
Berdasarkan keterangan pejabat yang mengetahui jalannya pembicaraan kepada The Wall Street Journal, IRGC mengancam akan kembali menutup Selat Hormuz apabila Iran tidak memperoleh jaminan kendali penuh atas jalur pelayaran tersebut dalam perundingan.
Selain itu, IRGC juga menuntut seluruh kapal internasional menggunakan rute pelayaran yang berada di bawah pengawasan otoritas Iran.
Sikap keras tersebut mendapat dukungan dari sejumlah ulama senior Iran. Majelis Ahli, lembaga yang kerap mencerminkan pandangan Pemimpin Tertinggi Iran, menegaskan Selat Hormuz sebaiknya tetap ditutup hingga Israel menghentikan operasi militernya di Lebanon.
Pezeshkian Cari Dukungan Politik
Menghadapi tekanan dari kalangan militer dan ulama, Pezeshkian mulai membangun dukungan politik dari tokoh-tokoh agama di Kota Qom.
Baca Juga : 6 Juta Turis Asing Tetap Jadikan Bali sebagai Wisata Favorit RI
Ia dilaporkan bertemu dengan Ayatollah Shubairi Zanjani, salah satu ulama paling senior di Iran, untuk menjelaskan manfaat ekonomi yang dapat diperoleh apabila dana Iran yang dibekukan di Qatar berhasil dicairkan.
Dalam upayanya memperkuat jalur diplomasi, Pezeshkian juga menyampaikan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, disebut mendukung tercapainya kesepakatan damai dengan Amerika Serikat.
