Potongan Ojol 8% Berlaku, Driver Malah Keluhkan Tarif
Kebijakan penurunan potongan aplikasi ojek online (ojol) menjadi 8% resmi berlaku mulai Rabu (1/7/2026). Namun, sejumlah pengemudi mengaku belum merasakan peningkatan pendapatan karena tarif perjalanan yang dibayarkan penumpang justru ikut mengalami penurunan.
Abdul Rahman (36), pengemudi ojol di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengatakan penghasilannya tetap stagnan meski potongan aplikasi telah dipangkas.
Ia membandingkan pendapatan yang diterima untuk layanan reguler jarak 1-4 kilometer sebelum dan sesudah kebijakan baru diterapkan.
Sebelumnya, saat potongan aplikasi masih 20 persen, ia memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp10.400 per perjalanan. Setelah potongan turun menjadi 8 persen, pendapatannya untuk layanan Hemat justru tercatat sekitar Rp10.212.
“Sekarang potongannya berkurang jadi 8 persen, tapi kok tarifnya juga berkurang jadi Rp 10.212, itu kalau Hemat gitu. Jadi pendapatan kita bukan naik, malah kayak turun, ya sama aja lah, enggak ada perubahan,” ujar Abdul saat ditemui di depan Stasiun Tanah Abang, Rabu.
Baca Juga : Polri Bongkar 464 Kasus Energi, Selamatkan Negara Miliran
Menurut Abdul, para pengemudi semula berharap pemangkasan potongan akan meningkatkan pendapatan hingga Rp1.500 sampai Rp2.000 per perjalanan. Namun, pada layanan reguler dengan tarif penumpang Rp14.000, kenaikan yang diterima hanya sekitar Rp180, dari Rp10.400 menjadi Rp10.580.
“Dikira kita akan naik Rp 1.500 atau bisa sampai Rp 2.000 gitu, ternyata enggak ada Rp 1.000 acan. Jadi (potongan) 8 persen itu cuma (nambah) Rp 180. Karena memang ongkos dari customer itu turun, dibikin tarifnya lebih murah, jadi ke kitanya juga makin sedikit,” tutur Abdul.
Ia menjelaskan, sebelumnya pelanggan membayar sekitar Rp15.000 untuk rute tertentu dengan pendapatan pengemudi Rp10.400. Kini, tarif pelanggan turun menjadi sekitar Rp12.000 hingga Rp13.000 sehingga pendapatan yang diterima pengemudi juga ikut berkurang.
“Dulu customer bisa bayar Rp 15.000, kita dapetnya Rp 10.400. Nah sekarang potongannya kecil, tapi bayaran dari customer juga diturunin bisa cuma Rp 12.000 atau Rp 13.000, jadinya ke kita juga kecil,” jelas Abdul.
Driver Soroti Biaya Jasa Aplikasi
Selain tarif perjalanan, pengemudi juga menyoroti mekanisme biaya jasa aplikasi.
Abdul menunjukkan salah satu transaksi di mana pelanggan membayar Rp14.000. Dari jumlah tersebut, terdapat biaya jasa aplikasi sebesar Rp2.500 yang seluruhnya dipotong dari pendapatan mitra, sehingga nilai perjalanan yang menjadi dasar pembagian hasil hanya Rp11.500.
Dari angka tersebut, pengemudi memperoleh 92 persen atau Rp10.580, sedangkan aplikator menerima 8 persen atau Rp920.
“Sebelumnya itu Rp 10.400, nambah cuma 180 perak kan berarti. Enggak gede. Karena itu, potongan dikecilin, tarif juga turun, jadi pendapatan kita turun,” ujar Abdul.
Keluhan serupa disampaikan Silaban (38). Ia mengatakan pendapatan dari layanan Hemat kini berkisar Rp10.212 karena tarif pelanggan turun menjadi sekitar Rp11.100, dari sebelumnya Rp13.000 hingga Rp14.000.
“Itu kalau harganya customer tetap kayak kemarin, kita pasti naik nih pendapatan. Ini potongan driver diturunin jadi 8 persen, tapi tarif customer juga diturunin juga, jadi memang sama aja secara pendapatan, enggak ada bedanya,” ucap Silaban.
Menurutnya, penurunan tarif pelanggan kemungkinan merupakan strategi perusahaan aplikasi untuk mempertahankan daya saing.
“Mungkin buat menjaga pelanggan kali ya, biar pelanggannya nggak kabur ke sebelah. Buat berkelanjutan,” ujarnya.
Meski demikian, Silaban menilai skema baru tetap lebih ringan dibanding sistem sebelumnya yang memotong Rp20.000 setelah pengemudi menyelesaikan 10 perjalanan layanan Hemat.
“Sebenarnya kalau dikalkulasi, daripada yang dipotong Rp 20.000, mending yang sekarang. Ada hasilnya sih lebih baik sistem yang sekarang ini,” kata Silaban.
Ia memperkirakan penurunan pendapatan sekitar Rp300 per perjalanan masih lebih kecil dibanding potongan tetap Rp20.000 yang berlaku sebelumnya.
Namun, Silaban mengakui jumlah pesanan saat ini menurun cukup tajam akibat musim libur sekolah. Menurutnya, order harian bahkan bisa turun hingga 50 persen sehingga target 30 perjalanan per hari semakin sulit dicapai.
Baca Juga : 74 Bank Sentral Mulai Kurangi Ketergantungan Dolar
“Untuk saat ini orderan agak lumayan jatuh. Karena anak sekolah libur, itu pun bukan cuma anak sekolahnya aja yang libur, tapi kan gurunya juga libur,” tutur Silaban.
Driver Berharap Kebijakan Berdampak Nyata
Sementara itu, pengemudi lain, Mahmudi (41), mengaku sejak awal tidak menaruh harapan besar terhadap perubahan kebijakan potongan aplikasi.
“Soalnya dari dulu udah didemo segala macam enggak berubah-berubah, ganti kebijakan tapi enggak ada dampaknya, udah enggak berharap saya mah, terserah aja yang penting saya bisa narik,” kata Mahmudi.
Ia berharap pemerintah dan perusahaan aplikasi mempertimbangkan kenaikan berbagai biaya operasional yang harus ditanggung pengemudi, mulai dari bahan bakar hingga biaya perawatan kendaraan.
“Kalau memang memperhatikan kita ya buktikan. Kadang aturan-aturan gini cuma permainan aja. Dia nurunin potongan tapi harganya diturunin juga, kan permainan ini, enggak ada dampaknya ke kita,” tutup Mahmudi.

[…] Potongan Ojol 8% Berlaku, Driver Malah Keluhkan Tarif […]