74 Bank Sentral Mulai Kurangi Dolar, Ini Alasannya
Semakin banyak bank sentral di berbagai negara berencana mengurangi kepemilikan dolar Amerika Serikat (AS) dalam cadangan devisa mereka.
Temuan tersebut terungkap dalam survei global terbaru yang dirilis Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF).
Survei yang dilakukan pada Maret hingga Mei 2026 itu melibatkan 74 bank sentral dari berbagai negara.
Hasilnya menunjukkan jumlah bank sentral yang ingin mengurangi alokasi dolar kini lebih banyak dibandingkan yang berencana menambah kepemilikannya.
“Ini adalah pertama kalinya survei tersebut menemukan keinginan untuk mengurangi alokasi dolar melebihi niat untuk meningkatkannya sejak survei tersebut mulai mencatat niat investasi bank sentral pada tahun 2023,” ungkap laporan tersebut.
Fenomena tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko politik yang terkait dengan mata uang AS.
Laporan itu juga muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah serta kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang dinilai semakin sulit diprediksi.
Baca Juga: 1.700 Tentara Dikirim AS ke Venezuela, Ada Apa?
Euro, Renminbi, dan Emas Makin Dilirik
OMFIF menilai faktor geopolitik kini menjadi salah satu alasan utama yang memengaruhi keputusan investasi bank sentral terhadap dolar AS.
“Tahun ini, geopolitik telah melampaui lingkungan politik AS dalam menghambat investasi dalam dolar, mencerminkan peran AS yang dianggap meningkatkan risiko geopolitik,” demikian temuan laporan OMFIF.
Survei tersebut memperkuat tren de-dolarisasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
De-dolarisasi mengacu pada upaya mengurangi penggunaan dolar AS dalam perdagangan internasional, transaksi keuangan, maupun cadangan devisa.
Menurut data yang dikutip OMFIF dari JPMorgan, porsi dolar AS dalam cadangan devisa bank sentral dunia telah turun ke level terendah dalam dua dekade terakhir.
Meski demikian, dolar masih menjadi mata uang cadangan utama dunia.
OMFIF mencatat dolar tetap mendominasi portofolio cadangan bank sentral dan diperkirakan masih akan mempertahankan posisi tersebut dalam waktu dekat.
Selama lima tahun terakhir, alokasi dolar dalam cadangan bank sentral global masih berada di kisaran 58 persen.
Baca Juga: Kripto Melejit, Kekayaan Trump Tembus Rp117 Triliun
Namun, sebagian bank sentral mulai melirik mata uang alternatif seperti euro dan renminbi China untuk meningkatkan diversifikasi aset.
Hampir seluruh responden dalam survei menilai renminbi mampu memberikan diversifikasi yang lebih baik bagi cadangan devisa mereka.
Sementara itu, sekitar dua pertiga bank sentral menyatakan euro kini semakin menarik untuk digunakan dalam perdagangan global, meningkat dari 43 persen pada tahun sebelumnya.
Selain euro dan renminbi, minat terhadap mata uang lain seperti dolar Singapura, won Korea Selatan, dan rand Afrika Selatan juga dilaporkan meningkat.
Di sisi lain, emas semakin menjadi pilihan utama di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Laporan OMFIF menyebut lonjakan permintaan emas terjadi meskipun harga logam mulia tersebut telah naik lebih dari 20 persen dibandingkan tahun lalu.
“Pergeseran ini didorong oleh perlindungan terhadap risiko geopolitik dan meningkatnya keraguan tentang stabilitas sistem moneter internasional,” demikian temuan laporan tersebut.
“Emas telah menjadi pusat strategi untuk mengelola aset negara,” tambah laporan itu.
Sekitar 51 persen bank sentral yang disurvei menyebut perlindungan terhadap risiko geopolitik sebagai alasan utama meningkatkan kepemilikan emas, naik dari 40 persen pada 2024.
