Bentrokan Iran-Kurdi Memanas, Tewaskan 7 Orang
Bentrokan bersenjata antara kelompok oposisi Kurdi dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terus meluas di sejumlah wilayah barat Iran selama tiga hari terakhir. Konflik yang terjadi di Mahabad, Baneh, Paveh, Marivan, hingga kawasan perbatasan Khawmirabad itu dilaporkan telah menewaskan sedikitnya tujuh orang.
Mengutip Jerusalem Post, Kamis (2/7/2026), laporan mengenai eskalasi tersebut juga dikonfirmasi oleh organisasi hak asasi manusia Hengaw dan media Rudaw yang berbasis di Irak. Dalam bentrokan terbaru di Mahabad, empat anggota Pasukan Pertahanan Kurdistan Timur (YRK), sayap militer Partai Kehidupan Bebas Kurdistan (PJAK), dilaporkan tewas.
Baca Juga : Negosiasi Permanen Masih Buntu, AS-Iran Terdesak Tenggat Damai
Di pihak pemerintah Iran, pertempuran di pos pemeriksaan jalur Baneh-Saqqez mengakibatkan gugurnya seorang prajurit wajib militer bernama Mardin Ahmadi serta anggota IRGC Sersan Mohammad Hossein Beigi. Selain itu, empat personel keamanan dan seorang warga sipil dilaporkan mengalami luka-luka.
“Kelompok oposisi Kurdi Iran mengatakan pada hari Selasa bahwa empat pejuangnya tewas dalam bentrokan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di provinsi Azerbaijan Barat, Iran, dan mengancam akan membalas,” lapor Rudaw Media Network mengenai awal meletusnya eskalasi tersebut.
YRK mengklaim IRGC juga mengalami kerugian yang lebih besar. Kelompok tersebut menyebut enam anggota IRGC tewas dalam bentrokan terpisah pada 30 Juni, meski klaim tersebut belum mendapat konfirmasi dari otoritas Iran.
Di media sosial juga beredar foto yang diklaim memperlihatkan empat senapan serbu AK-47 hasil sitaan militer Iran dari anggota gerilyawan yang tewas.
“Anggota YRK bertahan hingga tetes darah terakhir mereka dan gugur sebagai martir secara heroik,” tambah laporan Rudaw.
Laporan itu juga menyebut bentrokan sporadis telah berlangsung sejak Sabtu di wilayah Baneh, Paveh, dan Mahabad, yang dikenal sebagai basis pergerakan kelompok Kurdi bersenjata.
“IRGC dan YRK telah terlibat dalam bentrokan sporadis di seluruh Baneh, Paveh, dan Mahabad – di mana kelompok Kurdi mempertahankan pasukan bergerak mereka – sejak hari Sabtu. Kedua belah pihak sama-sama menderita korban jiwa, di mana IRGC mengonfirmasi kematian dua anggota senior milisi Basij pada hari Senin.”
Muncul Faksi Baru
Konflik terbaru turut memperlihatkan kompleksitas politik di kawasan Kurdi. Selain bentrok dengan aparat keamanan, sejumlah kelompok bersenjata juga disebut menyerang warga Kurdi yang dituduh bekerja sama dengan pemerintah Iran.
Di tengah situasi tersebut, muncul kelompok baru bernama Xori Hiwa (Sun of Hope) yang mengaku bertanggung jawab atas salah satu serangan. Namun, sejumlah analis menilai kemunculan nama tersebut kemungkinan hanya bagian dari strategi organisasi yang telah ada.
PJAK sendiri dikenal sebagai kelompok oposisi Kurdi yang memiliki hubungan dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Keterkaitan itu membuat pemerintah Turki terus memantau perkembangan konflik karena PKK dikategorikan Ankara sebagai organisasi teroris.
Sementara itu, YRK membantah menerima dukungan dari pihak luar.
“Kami tidak memihak kekuatan mana pun, kami juga tidak meluncurkan serangan apa pun terhadap rezim Iran,” tegas perwakilan resmi YRK guna membantah keterlibatan aktor eksternal.
Ketegangan Meningkat di Tengah Diplomasi
Eskalasi konflik di wilayah barat Iran berlangsung ketika Teheran masih menjalankan operasi keamanan di dalam negeri sekaligus mempersiapkan proses negosiasi dengan Amerika Serikat.
Baca Juga : Harga BBM Negara Asean Kompak Turun, Berikut Daftarnya
Menurut laporan intelijen yang dikutip media, militer Iran telah melancarkan sedikitnya 50 serangan menggunakan rudal balistik dan drone terhadap markas, kamp pengungsi, serta fasilitas yang digunakan kelompok oposisi Kurdi, termasuk PDKI, PAK, Khabat, dan Komala, yang berbasis di wilayah Kurdistan Irak.
Serangan lintas batas tersebut disebut meningkat setelah berakhirnya konflik selama 40 hari yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pemerintah Iran disebut memanfaatkan tekanan militer tersebut sebagai bagian dari strategi keamanan regional sekaligus pesan politik kepada Washington bahwa Teheran akan tetap menindak kelompok-kelompok bersenjata di wilayah perbatasannya.
“Serangan terbaru terjadi pada [16 Juni], ketika posisi partai oposisi Kurdi kembali menjadi sasaran setelah munculnya laporan mengenai kesepakatan baru antara Iran dan Amerika Serikat,” tulis rincian laporan Hengaw yang memprotes serangan rudal pasca-gencatan senjata tersebut.
