Jepang Kucurkan Rp1.331 Triliun untuk Tahan Pelemahan Yen
Pemerintah Jepang dilaporkan menghabiskan dana sebesar 11,7 triliun yen atau sekitar 74 miliar dollar AS, setara Rp1.331 triliun, untuk membeli mata uang yen sepanjang April hingga Mei 2026.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menahan pelemahan yen yang terus berlanjut hingga mencapai level terendah dalam empat dekade terakhir.
Dikutip dari CNBC Internasional, nilai tukar yen kembali melemah hingga menyentuh 162,83 yen per dollar AS pada Selasa (30/6/2026).
Kondisi itu memicu spekulasi bahwa pemerintah Jepang berpotensi kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing dalam waktu dekat.
Baca Juga: Bentrokan Iran-Kurdi Memanas, 7 Orang Tewas
Meski demikian, sejumlah analis menilai intervensi tersebut tidak cukup untuk membalikkan tren pelemahan yen yang dipicu oleh perbedaan suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat.
Bank of Japan (BOJ) diketahui baru menaikkan suku bunga acuan ke level 1 persen, sementara Federal Reserve (The Fed) diperkirakan masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Perbedaan tersebut membuat investor tetap tertarik menempatkan dana pada aset berdenominasi dollar AS yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
“Intervensi dapat memperlambat kejatuhan, menghukum spekulasi yang berlebihan, dan memberi sinyal ketidaknyamanan resmi. Namun, intervensi tidak dapat membatalkan hitungan matematika,” jelas pakar strategi investasi global di Franklin Templeton Institute, Christy Tan, dikutip Kamis (2/7/2026).
Dukungan AS Dinilai Penting untuk Menguatkan Yen
Sejumlah pengamat menilai pelemahan yen saat ini lebih banyak disebabkan oleh menguatnya dollar AS secara global dibandingkan menurunnya kepercayaan terhadap perekonomian Jepang.
Hal tersebut tercermin dari pergerakan yen terhadap mata uang lain yang relatif lebih stabil.
Sepanjang tahun ini, yen tercatat melemah sekitar 3,9 persen terhadap dollar AS, tetapi hanya turun sekitar 0,9 persen terhadap euro.
Karena itu, intervensi yang dilakukan Jepang secara sepihak dinilai hanya memberikan dampak sementara terhadap penguatan yen.
Beberapa manajer investasi obligasi menyarankan agar Tokyo membangun koordinasi dengan Washington untuk meningkatkan efektivitas kebijakan tersebut.
“Selama investor dapat meminjam dengan murah dalam yen dan menghasilkan lebih banyak dalam dolar, carry trade akan terus membawa yen menjauh,” tambah Christy Tan.
“Tokyo menginginkan yen yang lebih kuat tanpa sepenuhnya menerima konsekuensi biaya kebijakan dari penguatan tersebut.”
Baca Juga: Penjualan Rudal Hellfire ke Singapura Disetujui AS
Pelemahan Yen Jadi Dilema bagi Pemerintahan Jepang
Di tengah pelemahan yen, sejumlah perusahaan besar Jepang justru memperoleh keuntungan dari meningkatnya nilai pendapatan luar negeri dan daya saing ekspor.
Kondisi itu turut tercermin pada kinerja pasar saham Jepang yang tetap kuat serta hasil survei Tankan BOJ yang menunjukkan optimisme di kalangan produsen manufaktur besar.
Namun, dampak berbeda dirasakan masyarakat karena pelemahan yen membuat harga barang impor semakin mahal.
Kenaikan biaya impor turut menekan daya beli rumah tangga dan meningkatkan risiko inflasi.
Situasi tersebut menciptakan tantangan bagi pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang harus menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi masyarakat dari kenaikan biaya hidup.
Pemerintah Jepang juga menghadapi tekanan untuk terus menggelontorkan subsidi energi dan pangan guna meredam dampak pelemahan mata uang terhadap masyarakat.
