TikTok Buka Suara Usai PHK Ratusan Karyawan Tokopedia
TikTok kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah besar di Tokopedia. Bersamaan dengan itu, hampir seluruh operasional teknologi (tech) platform e-commerce tersebut dilaporkan telah dialihkan ke China.
Berdasarkan CNBC Indonesia, TikTok Shop-Tokopedia kini hanya memiliki sekitar 35 karyawan di bidang teknologi. Angka tersebut turun drastis dibandingkan sekitar 1.100 karyawan teknologi sebelum Tokopedia diakuisisi oleh TikTok.
Baca Juga : Krisis BBM Makin Parah, Rusia Impor Bensin dari India
Seorang narasumber dari CNBC Indonesia mengungkapkan bahwa gelombang PHK terbaru berdampak pada lebih dari 450 karyawan di divisi teknologi.
“Dulu sebelum diambil ByteDance, [karyawan teknologi] 1.100 [orang]. Dalam batch terakhir, tech 500-an [terkena PHK]. Sekarang tech sisa 35 orang,” katanya.
Secara keseluruhan, PHK terbaru menyisakan sekitar 10 persen dari total 2.500 karyawan Tokopedia yang masih bekerja saat perusahaan tersebut diakuisisi TikTok. Mayoritas karyawan yang tersisa berada di unit bisnis, trust and safety, serta sebagian kecil di bidang teknologi.
Sumber lain menyebutkan bahwa seluruh pengembangan dan pengelolaan teknologi Tokopedia maupun TikTok Shop kini ditangani oleh tim ByteDance yang berbasis di China.
“Dulu bilangnya mau co-exist. Ingin membantu talenta Indonesia. [Kenyataannya] sekarang, semua yang pegang tech-nya Tokopedia sudah bukan di Indonesia lagi, sekarang semua di China,” katanya.
Dilansir dari CNBC Indonesia, menanggapi kabar tersebut, Juru Bicara TikTok membenarkan adanya penyesuaian organisasi di bidang riset dan pengembangan (R&D). Menurutnya, langkah itu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
“Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D) pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami,” ujar Juru Bicara TikTok dalam keterangan yang diterima CNBC Indonesia, Kamis (2/7/2026).
Tokopedia Diakuisisi TikTok Sejak 2024
GoTo resmi menjual 75 persen saham Tokopedia kepada ByteDance, induk perusahaan TikTok, pada Januari 2024. Sejak proses akuisisi tersebut, Tokopedia menjadi pengelola layanan e-commerce Tokopedia dan TikTok Shop di Indonesia.
Akuisisi ini dilakukan setelah pemerintah Indonesia melarang platform media sosial mengoperasikan layanan e-commerce secara langsung karena alasan persaingan usaha. Saat itu, TikTok Shop sempat menghentikan operasionalnya sebelum kembali beroperasi melalui kemitraan dengan Tokopedia.
Dalam struktur kepemilikan terbaru, ByteDance menguasai 75,01 persen saham Tokopedia, sedangkan GoTo mempertahankan 24,99 persen saham yang bersifat non-dilutif.
Meski tidak lagi menjadi pemegang saham mayoritas, GoTo masih memperoleh pendapatan dari Tokopedia melalui skema imbalan jasa e-commerce yang dibayarkan setiap kuartal.
Nilai imbalan jasa tersebut mencapai Rp820 miliar sepanjang 2025, meningkat 32 persen dibandingkan Rp622 miliar pada 2024.
Tokopedia Masih Tertinggal di Asia Tenggara
Laporan Ecommerce in Southeast Asia 2026 yang diterbitkan Momentum Works menunjukkan posisi Tokopedia masih berada di peringkat terbawah di antara platform e-commerce utama di Asia Tenggara.
Baca Juga : Trump Bantah Tudingan Gunakan Jabatan untuk Raup Triliunan
Nilai pasar e-commerce kawasan Asia Tenggara pada 2025 mencapai US$157,6 miliar atau tumbuh 22,8 persen secara tahunan.
Berdasarkan nilai Gross Merchandise Value (GMV) tahun 2025, Tokopedia hanya membukukan sekitar US$9 miliar, terendah dibandingkan para pesaingnya.
Shopee masih memimpin dengan GMV sebesar US$83,2 miliar, disusul TikTok Shop sebesar US$45,6 miliar, serta Lazada sekitar US$18 miliar.
Meski demikian, TikTok Shop mencatat pertumbuhan paling pesat dengan GMV yang meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Jika digabungkan dengan Tokopedia yang kini berada di bawah kendalinya, total GMV bisnis e-commerce TikTok di Asia Tenggara telah mencapai sekitar 65,7 persen dari GMV Shopee.
