AS–Iran Dekat Damai, Tapi 4 Isu Ini Masih Buntu
Amerika Serikat (Amerika Serikat) dan Iran disebut semakin mendekati kesepakatan damai setelah hampir tiga bulan konflik yang mengguncang kawasan Timur Tengah dan pasar energi global. Presiden AS Donald Trump menyebut pembicaraan berjalan konstruktif, namun sejumlah isu kunci masih belum menemukan titik temu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa setiap kesepakatan akhir harus benar-benar menghilangkan apa yang ia sebut sebagai “ancaman nuklir” Iran. Sementara itu, pihak Iran melalui kantor berita Tasnim menyebut banyak klausul penting masih terbuka, termasuk soal aset yang dibekukan.
1. Isu Nuklir Jadi Titik Paling Sensitif
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyatakan bahwa isu nuklir tidak termasuk dalam kerangka awal kesepakatan dan akan dibahas terpisah di tahap berikutnya.
Baca Juga : Purbaya Sebut Ekonomi RI Akan Membaik 6 Bulan ke Depan
Namun laporan media Amerika, termasuk New York Times, menyebut salah satu elemen utama proposal adalah komitmen Iran untuk mengurangi atau melepas stok uranium yang diperkaya tinggi. Meski begitu, pihak Iran menegaskan kembali bahwa mereka tidak pernah menyetujui penyerahan material nuklir, penutupan fasilitas, atau penghentian total programnya.
Netanyahu sendiri menegaskan posisi keras bahwa kesepakatan apa pun harus mencabut seluruh kemampuan pengayaan uranium Iran dan memindahkan material nuklir keluar dari wilayah negara tersebut.
2. Status Selat Hormuz Masih Diperdebatkan
Salah satu isu paling strategis adalah masa depan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. Iran bersikeras tetap mempertahankan kontrol atas jalur tersebut dan mewajibkan izin militer bagi kapal yang melintas.
Trump menyebut ada kemajuan dalam negosiasi dan membuka peluang agar jalur itu kembali dibuka, yang dianggap memberi angin segar bagi pasar energi global.
Namun media Iran melaporkan bahwa kendali atas Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang, bahkan jika kesepakatan tercapai. Iran juga menuntut pencabutan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka dalam waktu 30 hari.
3. Aset Iran dan Sanksi Jadi Batu Sandungan
Iran juga menuntut pencairan aset-asetnya yang dibekukan akibat sanksi AS selama bertahun-tahun. Tehran bersikeras bahwa akses awal terhadap sebagian dana harus menjadi syarat dalam kesepakatan awal.
Sumber yang dikutip Tasnim menyebutkan bahwa tanpa pencairan sebagian aset tersebut, kesepakatan sulit tercapai. Selain itu, Iran juga meminta mekanisme jelas untuk memastikan seluruh dana yang dibekukan dapat dikembalikan secara bertahap.
Di sisi lain, laporan media Iran menyebut adanya kemungkinan pencabutan sementara sanksi terhadap sektor energi seperti minyak dan gas selama masa negosiasi.
Baca Juga : Netanyahu Emosi Setelah AS Tunda Serang Iran
4. Dimensi Regional: Lebanon Masuk Agenda
Selain isu bilateral, konflik regional juga ikut dibahas. Israel masih melakukan operasi militer di Lebanon dengan alasan menargetkan Hizbullah, sementara Iran menegaskan bahwa gencatan senjata harus mencakup seluruh front konflik di kawasan.
Rancangan nota kesepahaman (MoU) yang sedang dibahas disebut akan mencakup penghentian konflik di berbagai wilayah, termasuk Lebanon. Iran juga menekankan bahwa Israel sebagai sekutu AS diharapkan ikut menghentikan operasi militernya.
