AS Siapkan Paket 60.000 Amunisi untuk Israel Senilai Rp 49,5 Triliun
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyiapkan paket penjualan amunisi senilai 2,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 49,5 triliun untuk Israel.
Paket tersebut mencakup 40.000 bom berbobot sekitar satu ton serta 20.000 hulu ledak penembus bunker.
Menurut laporan yang dikutip dari New York Times, Selasa (15/9/2026), rencana penjualan tersebut telah diberitahukan secara informal kepada Kongres AS.
Paket itu mencakup 20.000 bom MK-84 dan 20.000 bom BLU-117, serta 20.000 hulu ledak penembus I-2000.
Baca Juga: Prabowo Sebut Gotong Royong Jadi Kunci Indonesia Bangkit
Paket Amunisi Tuai Kritik
Bom berbobot satu ton tersebut sebelumnya digunakan Israel dalam operasi militer di Gaza dan Lebanon dan menjadi sorotan karena kekuatan ledaknya serta dampaknya terhadap wilayah padat penduduk.
Rencana pengiriman ini menjadi bagian dari rangkaian dukungan militer AS terhadap Israel, termasuk penjualan persenjataan sebelumnya dan keputusan pemerintahan Trump untuk mencabut penahanan pengiriman bom MK-84 yang sempat dilakukan pada era Presiden Joe Biden.
Pemerintahan Biden sebelumnya menangguhkan satu pengiriman bom MK-84 pada 2024 karena kekhawatiran mengenai potensi korban sipil di Gaza.
Rencana penjualan terbaru tersebut mendapat penolakan dari sejumlah politisi Partai Demokrat yang mendesak penghentian dukungan militer AS kepada Israel.
Kritik juga datang dari komentator konservatif Tucker Carlson yang mempertanyakan kebijakan tersebut.
“Jika Anda ingin memperpanjang perang Iran hingga waktu yang tidak terbatas, inilah yang akan Anda lakukan,” ujarnya.
“Peningkatan daya hancur senjata ini memperberanikan Israel dan mengesampingkan opsi perdamaian,” sambungnya.
Di sisi lain, militer Israel membela penggunaan amunisi berdaya ledak besar dengan alasan kelompok Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon membangun fasilitas militer dan bunker di bawah kawasan permukiman.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Meningkat, Ekspor Saudi Terganggu
Sejumlah mantan pejabat militer AS tetap mempertanyakan penggunaan bom berdaya ledak besar ketika tersedia pilihan amunisi dengan dampak kerusakan sipil yang lebih kecil.
Paket tersebut sebagian besar akan dibiayai melalui skema Foreign Military Financing, yang memungkinkan Israel menggunakan pendanaan AS untuk membeli persenjataan dari Amerika Serikat.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan, “All foreign arms sales are moving through the appropriate process. We do not comment on pending sales.”
Penjualan tersebut berlangsung di tengah hubungan yang dinamis antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait operasi militer di kawasan.
AS juga setiap tahun mengalokasikan bantuan militer dasar sebesar 3,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 67 triliun kepada Israel.
