Bahlil Desak Raksasa Jepang Segera Realisasikan Investasi Rp339 T di RI
Proyek pengembangan Lapangan Abadi di Blok Masela kembali didorong agar segera memasuki tahap investasi. Pemerintah Indonesia meminta perusahaan migas asal Jepang, Inpex Corporation, untuk mempercepat proses eksekusi proyek gas raksasa tersebut.
Proyek yang diperkirakan bernilai sekitar 20 miliar dollar AS atau setara Rp 339,4 triliun itu diharapkan dapat segera masuk tahap keputusan investasi akhir. Pemerintah menilai percepatan proyek penting untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat pemanfaatan cadangan gas besar di kawasan tersebut.
Dorongan percepatan ini disampaikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat bertemu dengan pimpinan Inpex di Tokyo, Jepang.
Baca Juga: Siapa Sosok Benny Tjokro yang Di-blacklist Pasar Modal RI?
Pemerintah Dorong Percepatan Proyek Masela
Bahlil mengapresiasi perkembangan proyek Blok Masela yang menurutnya telah mencapai sekitar 25 persen.
Ia meminta Inpex untuk mempercepat tahap Front End Engineering and Design (FEED) pada kuartal kedua atau paling lambat kuartal ketiga 2026.
Langkah tersebut dinilai penting agar proses tender Engineering Procurement Construction (EPC) dapat dilakukan secara paralel.
“Karena kami berkeinginan ini bisa cepat supaya jangan ulur-ulur lagi. Ini 27 tahun, masa kita mau tunggu sampai usia saya 60 tahun baru jadi kan. Apalagi itu kampung ibu saya. Jadi saya pikir bisa tahun ini kita semua tender EPC,” ungkap Bahlil.
Pemerintah juga menawarkan solusi untuk memastikan adanya pembeli gas alam cair (LNG) dari Lapangan Abadi Masela yang diproyeksikan mencapai 9 juta ton per tahun.
Jika hingga akhir April 2026 Inpex belum memperoleh pembeli, pemerintah membuka kemungkinan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyerap produksi gas tersebut untuk program hilirisasi dalam negeri.
“Supaya ada kepastian buyer. Saya menghargai buyer luar negeri, tapi pada saatnya sekarang negara Indonesia harus hadir, untuk bersama-sama dengan Inpex dalam rangka memastikan operasi. Jadi kami saja yang membeli,” tegasnya.
Komitmen Inpex Percepat Proyek
CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda menyambut baik dukungan pemerintah Indonesia terhadap percepatan proyek tersebut.
Ia menyampaikan bahwa seluruh jajaran manajemen perusahaan memiliki komitmen kuat untuk segera merealisasikan proyek Lapangan Abadi yang telah lama direncanakan.
“Terima kasih banyak, Pak Menteri, untuk kemurahan hati dan komitmennya untuk mendukung proyek ini. Karena ini bukan hanya isu buat saya pribadi, tapi kami segera jajaran Inpex memiliki komitmen juga untuk mempercepat realisasi Abadi ini, termasuk ini saya sudah 12 tahun mengerjakan Abadi,” ujar Ueda.
Menurutnya, diskusi langsung dengan pemerintah memberikan dorongan tambahan bagi perusahaan untuk mempercepat pembangunan proyek tersebut.
“Bukan hanya Pak Menteri, tetapi juga kami memiliki komitmen yang sama untuk segera mengerjakan Abadi. Dan setelah berdiskusi dengan Pak Menteri, kami semakin semangat lagi untuk mempercepat penyelesaian proyek Abadi ini,” tambahnya.
Baca Juga: Skema WFH Diminta Prabowo untuk DIkaji karena Hemat BBM
Jejak Penting Proyek Gas Lapangan Abadi, Blok Masela
Proyek Lapangan Abadi di Blok Masela memiliki perjalanan panjang sejak pertama kali dikembangkan hingga tahap pengembangan saat ini. Berikut beberapa tonggak penting dalam perjalanan proyek tersebut:
1998: Kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) ditandatangani oleh Inpex sebagai operator proyek.
2000: Inpex menemukan cadangan gas besar di Blok Masela yang kemudian dikenal sebagai Lapangan Abadi.
2019: Pemerintah Indonesia menyetujui Rencana Pengembangan Pertama (Plan of Development/PoD-I) untuk produksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas bumi, serta 35.000 barel kondensat per hari.
2023: Shell memutuskan keluar dari proyek. Kepemilikan saham kemudian diambil alih oleh Pertamina Hulu Energi sebesar 20 persen dan Petronas sebesar 15 persen. Pada tahun yang sama, pemerintah juga menyetujui Revisi 2 PoD-I yang memasukkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS).
2025: Tahap Front End Engineering and Design (FEED) untuk proyek OLNG resmi diluncurkan sebagai bagian dari pengembangan Lapangan Abadi.
