BGN Sebut Motor Listrik MBG Digunakan untuk Percepat Distribusi Daerah Sulit Dijangkau
Program pengadaan motor listrik untuk mendukung operasional Makan Bergizi Gratis (MBG) akan diperluas ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah perkotaan seperti Jakarta.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, menjelaskan bahwa kendaraan roda dua tersebut diperlukan untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses kendaraan roda empat.
“Untuk seluruh daerah, terutama daerah-daerah terpencil, termasuk Jakarta sendiri juga sekolah yang masuk ke dalam gang,” ungkap Sony usai agenda di Kantor Kemenko PM, Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Kekuatan Ekonomi RI Dijelaskan Purbaya, Bos IMF Bingung
Motor Listrik untuk Jangkau Wilayah Sulit
Sony menekankan bahwa tantangan distribusi tidak hanya terjadi di daerah terpencil, tetapi juga di wilayah perkotaan dengan akses terbatas seperti gang sempit.
“Ketika diperlukan koordinasi cepat kan, mobil enggak bisa masuk (ke dalam gang), sepeda motor lah yang lebih cepat bisa masuk menjangkau,” ujar Sony.
Karena itu, Jakarta tetap menjadi salah satu wilayah yang akan mendapatkan distribusi motor listrik guna menunjang kelancaran operasional program MBG.
Baca Juga: Korban PHK Tembus 8.389 Orang per Maret, Jabar Tertinggi!
Pengadaan Dipastikan Sesuai Aturan
Terkait kekhawatiran adanya potensi penyimpangan anggaran, Sony memastikan bahwa seluruh proses pengadaan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Apabila ada penyimpangan, ya tentu itu menjadi ranah para penegak hukum. Namun kami yakin pengadaan itu telah melalui proses pengadaan barang dan jasa,” tegas Sony.
Sebelumnya, Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan bahwa pengadaan motor listrik telah direncanakan sejak 2025 dan realisasi anggarannya berlangsung pada 2026.
Ia menyebut hingga batas waktu yang ditentukan pada 20 Maret 2026, penyedia mampu menyelesaikan 85,01 persen atau sebanyak 21.801 unit dari total kontrak 25.644 unit.
Dadan juga membantah kabar yang menyebut jumlah pengadaan mencapai 70.000 unit.
Motor listrik tersebut merupakan produk dalam negeri dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 48,5 persen dan diproduksi di Citeurup, Bogor, Jawa Barat.
Kendaraan ini digunakan untuk mendukung mobilitas kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam menjalankan tugas sehari-hari, dengan harga sekitar Rp 42 juta per unit atau lebih rendah dibandingkan harga pasar yang mencapai Rp 52 juta.
