Netanyahu Tolak Rencana Trump, AS-Israel Mulai Retak?
Penolakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap proposal perdamaian 15 poin yang didorong Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperlihatkan adanya perbedaan kepentingan antara Washington dan Tel Aviv. Situasi tersebut berpotensi menjadi persoalan politik bagi Trump, terutama menjelang pemilu penting di AS maupun Israel.
Axios mengutip seorang pejabat senior AS yang menyebut sikap Netanyahu berkaitan erat dengan “kebutuhan politik” menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober. Penolakan itu dinilai dapat menyulitkan Trump yang berusaha membangun citra sebagai pemimpin yang mampu membawa perdamaian, bukan memperpanjang perang.
Baca Juga : Trump Pilih Sanksi Daripada Perang, Iran Tercekik Ekonomi
“Hal ini membuat pemerintah tampak lemah dan pada dasarnya tidak paham situasi, karena apa yang kita ketahui sekarang mengenai kesulitan politik Netanyahu bukanlah hal baru,” ujar Yossi Mekelberg, rekan konsultan senior Program Timur Tengah dan Afrika Utara Chatham House, sebagaimana dikutip Newsweek, Rabu (12/8/2026).
Menurut Mekelberg, Washington seharusnya tidak terus menyesuaikan kebijakan luar negerinya demi membantu Netanyahu menghadapi tekanan politik domestik.
Rencana Perdamaian Trump dan Sikap Netanyahu
Proposal yang diumumkan Trump pada 30 Juli itu disebut Dewan Perdamaian sebagai “terobosan bersejarah”. Rencana tersebut mencakup penghentian perang, pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel dari Gaza, serta pengalihan pemerintahan Gaza kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza yang terdiri atas para ahli independen Palestina.
Hamas sebelumnya menyatakan telah membubarkan pemerintahannya dan menyatakan kesediaan untuk menyerahkan kekuasaan serta melucuti persenjataan. Pejabat senior Hamas Bassem Naim mengatakan kelompoknya tetap “berkomitmen pada peta jalan yang disepakati bersama para mediator dan perwakilan BOP di Kairo sepuluh hari yang lalu.”
Naim juga meminta mediator dan pemerintah AS memberikan tekanan kepada Netanyahu agar menjalankan kesepakatan tersebut.
“Kami berharap para mediator dan pihak penjamin dari Amerika Serikat memberikan tekanan kepada Netanyahu dan pemerintahannya agar ia mematuhi peta jalan tersebut,” katanya.
Namun, Netanyahu mengambil posisi berbeda. Ia menegaskan Israel tidak akan menarik pasukan dari Gaza sebelum Hamas benar-benar dilucuti.
“IDF tidak akan melakukan penarikan pasukan apa pun sampai Hamas dilucuti senjatanya,” kata Netanyahu. Ia juga mengakui bahwa pemerintah Israel masih membahas sejumlah gagasan dengan pemerintahan Trump.
Direktur Jenderal Dewan Perdamaian Nickolay Mladenov mengatakan Hamas telah menyetujui penghentian operasi militer, persenjataan kembali, pelatihan, serta keberadaan pasukan bersenjata. Ia menyebut proses pelucutan senjata juga mencakup persenjataan individu seperti senapan Kalashnikov dan akan dilakukan melalui mekanisme yang dapat diverifikasi.
Netanyahu Hadapi Tekanan Politik Menjelang Pemilu
Sikap Netanyahu tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik domestik Israel. Pemilu Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober, sehingga keputusan terkait perang Gaza menjadi isu penting bagi pemerintahannya.
Bagi Trump, situasi tersebut menciptakan dilema. Di satu sisi, ia ingin menunjukkan keberhasilan diplomatik melalui proposal perdamaian Gaza. Di sisi lain, Netanyahu memiliki pertimbangan politik dan keamanan sendiri yang membuatnya belum bersedia menerima seluruh isi proposal tersebut.
Perbedaan tersebut berpotensi semakin lebar apabila kebuntuan mengenai penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas tidak menemukan jalan keluar.
Dukungan terhadap Israel di AS Mulai Berubah
Persoalan Gaza juga menjadi semakin sensitif di dalam negeri AS. Survei Pew Research Center pada Juli menunjukkan pandangan negatif masyarakat Amerika terhadap Israel meningkat dari 43 persen pada 2022 menjadi 62 persen pada 2026.
Tingkat kepercayaan terhadap Netanyahu juga mengalami penurunan. Pada Maret, hanya 27 persen responden yang menyatakan percaya kepada Netanyahu, turun dari 32 persen pada tahun sebelumnya.
Baca Juga : Bisnis Trump Merugi, Bitcoin Jadi Biang Kerok
Perubahan sikap tersebut tidak hanya berasal dari kelompok Demokrat. Sejumlah pendukung gerakan MAGA dan tokoh konservatif di AS juga mulai menunjukkan sikap lebih kritis terhadap kebijakan Trump di Timur Tengah.
“Ketika Trump diserang baik oleh kubu MAGA maupun kelompok progresif, hal ini mungkin akan berdampak pada perolehan suara dalam pemilu,” ujar Mekelberg.
Trump Berada di Posisi Sulit
Penolakan Netanyahu akhirnya menempatkan Trump dalam posisi yang cukup sulit. Jika terlalu menekan Israel, Trump berpotensi menghadapi resistensi dari sekutu dekatnya. Namun, apabila terus mengikuti posisi Netanyahu, upaya Trump untuk menampilkan diri sebagai pemimpin yang mampu mengakhiri perang Gaza dapat ikut terpengaruh.
Shalom Lipner, non-resident senior fellow di Atlantic Council, menilai kekhawatiran utama Netanyahu berkaitan dengan kemungkinan berkurangnya keleluasaan Israel dalam menghadapi ancaman keamanan.
Menurutnya, apabila kebuntuan mengenai Gaza terus berlangsung, perbedaan kepentingan antara Trump dan Netanyahu dapat berkembang menjadi konfrontasi politik yang lebih terbuka.
