Setelah 34 Tahun, Trump Sebut Pemimpin Israel-Lebanon Siap Dialog Lagi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa pemimpin Lebanon dan Israel akan melakukan pembicaraan langsung untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, di tengah meningkatnya tekanan global untuk meredakan konflik di kawasan.
Trump menyebut komunikasi tersebut menjadi kontak pertama dalam sekitar 34 tahun, seiring eskalasi konflik di Lebanon yang dipicu dampak perang Iran.
“Itu sudah sangat lama sejak kedua pemimpin berbicara, sekitar 34 tahun. Itu akan terjadi besok. Bagus!” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.
Baca Juga: RI dan Negara Lain Kompak Angkat Suara soal Lebanon Memanas!
Rencana Kontak Langsung Israel-Lebanon
Anggota kabinet keamanan Israel, Gila Gamliel, menyatakan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan berbicara langsung dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun, menandai momen langka setelah puluhan tahun tanpa hubungan resmi.
Namun, seorang pejabat senior Lebanon menyebut pemerintahnya belum menerima informasi terkait rencana pembicaraan tersebut.
Konflik di Lebanon meningkat sejak 2 Maret, ketika kelompok Hezbollah yang didukung Iran melancarkan serangan sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran. Serangan tersebut memicu ofensif balasan dari Israel di wilayah Lebanon.
Di sisi lain, pemerintah Lebanon juga diketahui memiliki perbedaan dengan Hezbollah terkait keterlibatan dalam konflik tersebut, bahkan melarang aktivitas militer kelompok itu sejak awal Maret.
Baca Juga: Dalam Negosiasi dengan AS, Iran Tawarkan Jalur Aman Kapal di Selat Hormuz
Tekanan Diplomatik dan Konflik yang Masih Berlangsung
Pakistan menegaskan bahwa stabilitas di Lebanon menjadi faktor penting dalam mendorong keberhasilan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
“Perdamaian di Lebanon sangat penting bagi perundingan perdamaian (Iran),” tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi.
Meski upaya diplomasi terus didorong, situasi di lapangan masih memanas. Israel dilaporkan berupaya menguasai wilayah strategis di Lebanon selatan, sementara Hezbollah terus meluncurkan serangan roket ke wilayah utara Israel.
Sebelumnya, AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, Israel dan AS menegaskan bahwa operasi militer terhadap Hezbollah tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan tersebut, sementara Iran menginginkan konflik di Lebanon turut dimasukkan dalam perjanjian damai.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun jalur diplomasi mulai dibuka, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih jauh dari mereda.
