Biaya Perang Iran Membengkak, AS Sudah Habiskan Rp 508 Triliun
Amerika Serikat dilaporkan telah menghabiskan hampir 29 miliar dollar AS atau sekitar Rp 508 triliun untuk membiayai perang melawan Iran. Angka tersebut meningkat sekitar 4 miliar dollar AS dibandingkan estimasi sebelumnya yang disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada akhir April lalu.
Kenaikan biaya perang itu diungkap Departemen Pertahanan AS dalam sidang anggaran di Capitol Hill, Selasa (12/5/2026). Dalam sidang tersebut, Hegseth bersama Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine memberikan kesaksian terkait pengajuan anggaran pertahanan AS sebesar 1,5 triliun dollar AS atau sekitar Rp 26.000 triliun untuk tahun fiskal 2027.
Kepala keuangan Pentagon Jules Hurst III mengatakan perhitungan biaya perang terus diperbarui seiring evaluasi dari staf gabungan militer dan pengawas keuangan pemerintah.
“Pada saat kesaksian jumlahnya adalah 25 miliar dollar AS,” kata Hurst kepada anggota parlemen, dikutip dari AFP, Selasa.
“Tetapi tim staf gabungan dan pengawas keuangan terus-menerus meninjau perkiraan dan sekarang kami pikir jumlahnya lebih mendekati 29 miliar dollar AS,” lanjutnya.
Baca Juga: China Tak Dibutuhkan Trump, Iran Pegang Keran Minyak Dunia
Inflasi dan Harga Energi AS Ikut Melonjak
Di tengah meningkatnya biaya perang, tekanan ekonomi juga mulai dirasakan masyarakat Amerika Serikat. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat inflasi konsumen pada April 2026 mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Indeks harga konsumen (CPI) tercatat naik 3,8 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan 3,3 persen pada Maret lalu. Lonjakan tersebut terutama dipicu kenaikan harga energi akibat konflik Iran yang terus berkepanjangan.
Data pemerintah AS menunjukkan harga energi melonjak 17,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan itu menjadi yang tertinggi di antara seluruh kategori pengeluaran konsumen.
Selain energi, harga pangan juga ikut naik sebesar 3,2 persen secara tahunan. Harga bahan makanan bahkan tercatat mengalami kenaikan tercepat sejak 2023.
Sementara itu, inflasi inti AS yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat naik menjadi 2,8 persen secara tahunan pada April, dari sebelumnya 2,6 persen pada Maret.
Kondisi tersebut menambah tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump dan Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu November mendatang. Pasalnya, isu biaya hidup dan inflasi masih menjadi perhatian utama publik AS.
Baca Juga: Iron Dome Dikirim Israel dan Tentara ke UEA di Tengah Konflik Iran
Sejumlah pejabat Federal Reserve juga mulai memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga untuk meredam tekanan harga yang terus meningkat.
“Mengingat inflasi bergerak ke arah yang salah dan pasar tenaga kerja tetap stabil, sangat kecil kemungkinan The Fed dapat menurunkan suku bunga dalam waktu dekat,” kata analis Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli.
