Bos CIA Mendadak Temui Presiden Mesir di Tengah Konflik Timteng
Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat (AS), John Ratcliffe, dikabarkan melakukan kunjungan ke Kairo dan bertemu Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, pada Minggu (20/9/2026).
Pertemuan tersebut berlangsung ketika konflik di Timur Tengah kembali memanas. Pemerintah AS sebelumnya juga memperingatkan adanya potensi eskalasi cepat di kawasan.
Kantor Kepresidenan Mesir mengonfirmasi pertemuan Ratcliffe dengan Sisi. Kepala Badan Intelijen Umum Mesir, Hassan Rashad, turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Menurut pernyataan Kepresidenan Mesir, pembicaraan mencakup perkembangan konflik Iran, Jalur Gaza, dan Sudan, serta serangan terhadap negara-negara Arab dan ancaman terhadap keamanan pelayaran internasional.
Baca Juga : Boikot Produk AS Meluas, Supermarket Kanada Mulai Beralih ke Lokal
“Sisi menekankan pentingnya penyelesaian krisis regional melalui jalur politik dan diplomasi,” bunyi pernyataan pihak Kepresidenan Mesir, yang dikutip The New Arab, Senin (21/9).
Dalam pertemuan tersebut, Sisi juga menyampaikan dukungan Mesir terhadap upaya mencapai kesepakatan komprehensif untuk menyelesaikan krisis Iran sekaligus memulihkan keamanan kawasan dan menjamin kebebasan navigasi internasional.
Kunjungan Ratcliffe berlangsung setelah Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga negaranya di Timur Tengah. Peringatan tersebut dikeluarkan ketika pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman semakin meningkat.
“Konflik militer ini berpotensi mengalami eskalasi dengan cepat,” kata Departemen Luar Negeri AS.
Situasi keamanan yang memburuk turut mengganggu aktivitas penerbangan dan pelayaran di kawasan. Gangguan terhadap jalur energi dan perdagangan juga menambah tekanan terhadap pasar minyak global.
Sebelumnya, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bertemu dengan Sisi di Kairo. Dalam pertemuan tersebut, keduanya menekankan pentingnya menjaga keamanan navigasi maritim, termasuk di kawasan Selat Bab al-Mandab.
Perkembangan tersebut terjadi setelah Houthi mengklaim melakukan serangan ke Riyadh. Pertahanan udara Saudi menyatakan berhasil menghancurkan rudal yang ditembakkan kelompok tersebut ke arah ibu kota.
Media AS sebelumnya melaporkan Washington menolak permintaan Riyadh untuk melancarkan serangan terhadap Houthi. Di sisi lain, AS menyetujui penjualan 48 jet tempur siluman F-35 kepada Arab Saudi senilai USD24,3 miliar.
Departemen Luar Negeri AS menyebut penjualan tersebut ditujukan “Untuk membantu Riyadh menangkal ancaman saat ini maupun di masa depan.”
Ketegangan di kawasan juga berkaitan dengan keamanan jalur pelayaran. Bab al-Mandab merupakan salah satu jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden sehingga gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak pada perdagangan dan pengiriman energi.
Baca Juga : Iran Tetapkan Tiga Syarat untuk Buka Hormuz, Apa Saja?
Mesir memiliki hubungan strategis dengan AS sekaligus mempertahankan komunikasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam konflik Timur Tengah. Kairo juga selama ini berperan dalam upaya diplomasi terkait Gaza dan persoalan regional lainnya.
Dalam pertemuan dengan Ratcliffe, Sisi menegaskan pentingnya konsolidasi gencatan senjata di Gaza, perlindungan warga sipil, serta kelancaran bantuan kemanusiaan. Ratcliffe kemudian memuji peran Mesir dalam mendukung upaya perdamaian dan stabilitas regional.
Kantor Sisi menyatakan bahwa pada hari Minggu, “Ratcliffe memuji peran penting Mesir dalam mendukung upaya pencapaian penyelesaian damai dan komprehensif atas krisis regional.”
Kepresidenan Mesir juga menyebut kerja sama antara CIA dan badan intelijen Mesir mencakup bidang keamanan, intelijen, kontraterorisme, kejahatan terorganisasi, serta kejahatan lintas negara.
