Iran Tetapkan 3 Syarat untuk Buka Kembali Selat Hormuz
Pemerintah Iran menyampaikan sejumlah syarat kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz yang diblokade selama konflik di Timur Tengah.
Syarat tersebut disampaikan melalui mediator pada Minggu (20/9/2026).
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak dan gas dunia.
Baca Juga: Houthi Serang Riyadh dengan Rudal, Saudi Beri Tanggapan
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama dalam perundingan, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan tuntutan Teheran telah disampaikan kepada pihak AS melalui para penengah.
“Pesan dan penjelasan mengenai syarat-syarat kami telah disampaikan secara jelas kepada pihak lawan melalui para penengah,” kata Ghalibaf, sebagaimana dilaporkan televisi pemerintah.
“Selama syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi… Dan komitmen AS tidak dijalankan, mustahil untuk kembali ke situasi sebelum perundingan maupun membuka kembali selat tersebut,” lanjut Ghalibaf, dikutip dari AFP.
Salah satu negara yang berperan sebagai mediator adalah Qatar.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, sebelumnya mengungkapkan tiga tuntutan utama Teheran kepada Washington.
“Syarat-syarat kami adalah penghentian perang di semua lini, pencairan dana kami yang dibekukan, serta penghentian blokade laut,” ujar Rezaei dalam wawancaranya dengan Al Jazeera pada Sabtu (19/9/2026).
Selain Qatar, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi yang juga bertindak sebagai mediator dijadwalkan mengunjungi Teheran pada Minggu untuk melakukan pembicaraan dengan pemerintah Iran.
Kedua pihak masih menghadapi kebuntuan setelah konflik berlangsung selama berbulan-bulan.
Konflik tersebut bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
Sejak saat itu, Iran memperketat kendalinya atas Selat Hormuz.
Baca Juga: Daftar 7 Negara dengan Rasio Utang Terendah secara Global
Sementara itu, AS terus melancarkan serangan yang menargetkan sektor pelabuhan dan perekonomian Iran.
Di tengah upaya diplomasi, militer Iran juga masih mengeluarkan peringatan terhadap AS.
Komando militer pusat Khatam Al Anbiya menyampaikan peringatan melalui televisi pemerintah Iran pada Minggu.
“Kami memperingatkan bahwa jika AS melakukan kesalahan dalam menyikapi Iran, seluruh pangkalan dan kepentingan negara tersebut di kawasan ini akan menjadi sasaran serangan terus-menerus, efektif, dan menyakitkan, tanpa batasan atau pengekangan apa pun,” bunyi pernyataan tersebut.
