Warren Buffett Soroti Risiko Dolar AS dan Cara Lindungi Aset
Investor legendaris Warren Buffett kembali menyoroti risiko yang dihadapi mata uang Amerika Serikat (AS), dolar AS, di tengah tingginya utang dan defisit pemerintah.
Peringatan tersebut disampaikan Buffett setelah lebih dari enam dekade memimpin Berkshire Hathaway dan ketika dirinya bersiap melepas posisi pimpinan perusahaan.
Di hadapan para pemegang saham, Buffett mengatakan kekhawatiran terhadap dolar AS berkaitan dengan kemampuan mata uang tersebut mempertahankan nilainya.
“Kami tidak ingin memiliki apa pun yang kami kira berada dalam mata uang yang benar-benar menuju kehancuran (going to hell). Dan itulah hal besar yang kami khawatirkan terhadap mata uang Amerika Serikat,” tegas Buffett.
Baca Juga: China Kritik AS di PBB Saat Trump Jamu Xi Jinping
Menurut sumber, kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari kebijakan fiskal pemerintah AS yang terus meningkatkan utang untuk menutup defisit anggaran.
Defisit anggaran AS pada 2026 disebut mencapai 1,97 triliun dollar AS dalam 11 bulan.
Sementara itu, total utang nasional pemerintah AS telah menembus 40 triliun dollar AS.
Tekanan terhadap daya beli dolar AS juga menjadi perhatian.
Berdasarkan kalkulator inflasi Federal Reserve Bank of Minneapolis yang dikutip sumber, nilai 100 dollar AS pada 2026 setara dengan sekitar 11,61 dollar AS pada 1970.
Artinya, daya beli dolar AS telah mengalami penurunan signifikan selama beberapa dekade akibat inflasi.
3 Strategi Lindungi Kekayaan dari Risiko Inflasi
Untuk menghadapi risiko penurunan nilai mata uang dan inflasi, terdapat sejumlah instrumen yang dapat dipertimbangkan investor.
Berikut tiga strategi yang disebut dalam sumber:
1. Miliki Aset yang Tak Bisa Dicetak Pemerintah: Emas
Emas fisik kerap digunakan sebagai salah satu aset lindung nilai karena jumlahnya terbatas dan tidak dapat diproduksi secara bebas oleh bank sentral.
Dalam lima tahun terakhir, harga emas disebut telah meningkat 149 persen.
CEO JPMorgan Jamie Dimon juga disebut memperkirakan harga emas berpotensi mencapai 10.000 dollar AS per ons.
2. Properti dan Real Estat Penghasil Pendapatan Pasif
Properti menjadi salah satu aset yang dapat memberikan perlindungan terhadap inflasi karena harga rumah dan nilai sewa cenderung meningkat seiring kenaikan harga barang dan jasa.
Indeks S&P CoreLogic Case-Shiller mencatat harga rumah nasional AS meningkat 87 persen dalam 10 tahun terakhir.
Perkembangan platform investasi juga memungkinkan masyarakat memiliki eksposur terhadap properti sewa dengan modal yang lebih kecil.
Salah satunya adalah Arrived, yang memungkinkan masyarakat berinvestasi pada properti sewa mulai dari 100 dollar AS tanpa harus mengelola properti secara langsung.
Baca Juga: Iran Siap Hadapi “Perang Kiamat” dengan AS
3. Bisnis Produktif dan Indeks S&P 500
Meski mengkhawatirkan risiko terhadap dolar AS, Buffett tidak menyarankan investor bertaruh melawan perekonomian Amerika.
Menurutnya, salah satu cara menghadapi inflasi adalah memiliki kepemilikan pada bisnis produktif yang mampu menyesuaikan harga produk dan jasanya ketika biaya meningkat.
“Bagi kebanyakan orang, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah memiliki dana indeks S&P 500,” saran Buffett.
