Di Balik Perang Iran, Ada Perusahaan yang Diuntungkan! Siapa Dia?
Perang di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran ternyata memberikan dampak tak terduga bagi sejumlah perusahaan teknologi pertahanan, salah satunya Palantir.
Di tengah tekanan yang melanda pasar saham global, saham perusahaan tersebut justru mencatat kenaikan signifikan.
Dalam sepekan terakhir, saham Palantir melonjak sekitar 15 persen, berbanding terbalik dengan indeks saham teknologi yang justru melemah.
Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi tercatat turun 1,2 persen sepanjang pekan ini.
Penurunan tersebut dipicu oleh tekanan pada sejumlah saham teknologi besar seperti Apple, Google, dan Micron.
Baca Juga: AS Murka soal Israel Serang Depot BBM Iran
Selain itu, pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak yang tajam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, sikap keras Presiden AS Donald Trump yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri konflik dengan Iran membuat investor justru melirik saham Palantir.
Perusahaan ini dikenal sebagai pemasok perangkat lunak untuk pemerintah Amerika Serikat, khususnya yang berkaitan dengan militer dan lembaga intelijen.
Sebagian besar pendapatan Palantir bahkan berasal dari kontrak pemerintah.
Tercatat sekitar 60 persen pendapatan perusahaan bersumber dari anggaran pengeluaran pemerintah AS.
Sejak 2024, Palantir juga menjalin kerja sama dengan perusahaan kecerdasan buatan Anthropic untuk mendukung berbagai proyek pertahanan militer Amerika Serikat.
Namun kerja sama tersebut belakangan menjadi sorotan setelah Anthropic menolak penggunaan teknologi AI miliknya untuk pembuatan senjata otonom dan aktivitas pengawasan terhadap warga AS.
Sikap tersebut memicu kemarahan Presiden Donald Trump yang kemudian melarang lembaga federal menggunakan layanan Anthropic.
Di sisi lain, analis dari Rosenblatt tetap mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham Palantir.
Bahkan mereka menaikkan target harga saham perusahaan tersebut menjadi 200 dollar AS dari sebelumnya 150 dollar AS.
Pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, saham Palantir berada di level 157,16 dollar AS.
Para analis menilai meningkatnya konflik di Timur Tengah justru membuka peluang bagi perusahaan teknologi pertahanan tersebut.
Mereka menyebut bahwa “konflik di Timur Tengah merupakan pertanda baik” bagi proyek pemerintah yang sedang digarap Palantir.
Selain itu, analis juga menilai Palantir memiliki potensi untuk menjadi alternatif teknologi bagi model Claude milik Anthropic.
Posisi Palantir dinilai menunjukkan adanya “alternatif yang memadai” untuk teknologi AI tersebut.
Baca Juga: Peringatan Keras dikeluarkan Iran ke Kapal Minyak di Selat Hormuz
Para analis juga memperkirakan akan ada lebih banyak kesepakatan baru antara Palantir dan Angkatan Darat Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Sebelumnya, pada tahun lalu Palantir telah menandatangani kontrak kerja sama dengan Angkatan Darat AS senilai 10 miliar dollar AS.
Perusahaan ini juga diketahui memasok teknologi kecerdasan buatan yang digunakan dalam berbagai sistem militer, termasuk untuk membantu proses penargetan musuh.
Beberapa perangkat AI yang dikembangkan Palantir bahkan disebut-sebut terlibat dalam operasi militer yang dilakukan oleh AS dan Israel dalam konflik melawan Iran.
Sementara itu, terkait masa depan kerja sama Palantir dengan Anthropic, hingga kini perusahaan tersebut belum memberikan pernyataan resmi.
Ketidakpastian tersebut muncul setelah pemerintahan Trump secara tegas melarang penggunaan teknologi AI Anthropic oleh lembaga federal di masa mendatang.

[…] Di Balik Perang Iran, Ada Perusahaan yang Diuntungkan! Siapa Dia? […]