Didemo Mahasiswa, Presiden Serbia Vucic Mundur untuk Maju sebagai PM
Presiden Serbia, Aleksandar Vucic, mengundurkan diri dari jabatannya pada Minggu (27/9/2026) setelah hampir dua tahun menghadapi gelombang demonstrasi yang dipimpin mahasiswa.
Vucic memilih mengakhiri masa jabatannya lebih cepat agar dapat maju sebagai calon perdana menteri dalam pemilu parlemen yang dipercepat pada 25 Oktober mendatang. Ia menyampaikan keputusan tersebut dari Istana Kepresidenan di Beograd.
Di luar istana, sejumlah pendukung Vucic berkumpul dan meneriakkan namanya. Dalam pernyataannya, Vucic secara langsung mengumumkan pengunduran dirinya.
Baca Juga : Raksasa Emas Gagal Terbentuk, Tawaran Ratusan Triliun Ditolak
“Saya mengundurkan diri sebagai presiden,” kata Vucic, seperti dikutip AFP. “Besok pagi saya akan menyerahkan tugas saya kepada ketua parlemen.”
Demonstrasi Mahasiswa Picu Pemilu Dipercepat
Pemilu parlemen yang dipercepat menjadi salah satu tuntutan utama gerakan mahasiswa Serbia. Aksi tersebut bermula setelah kanopi sebuah stasiun kereta di Novi Sad runtuh pada November 2024 dan menewaskan 16 orang.
Tragedi tersebut secara luas dikaitkan dengan dugaan korupsi dan kemudian memicu salah satu gelombang demonstrasi terbesar di Serbia sejak jatuhnya pemimpin Yugoslavia Slobodan Milosevic pada 2000.
Dalam sejumlah aksi, jumlah demonstran bahkan mencapai ratusan ribu orang. Pada awalnya, mahasiswa dan demonstran menuntut penyelidikan transparan terhadap tragedi runtuhnya kanopi tersebut.
Seiring berjalannya waktu, tuntutan mereka meluas hingga mendesak pemerintah menggelar pemilu lebih awal. Vucic sebelumnya beberapa kali menyatakan akan mempercepat pemilu, tetapi tidak segera menetapkan tanggal pelaksanaannya.
Baru pada awal September 2026, Vucic menetapkan pemungutan suara digelar pada 25 Oktober. Ia menyebut keputusan tersebut diambil di tengah gejolak besar dalam politik domestik Serbia.
Vucic Ingin Maju sebagai Perdana Menteri
Vucic pertama kali terpilih sebagai presiden Serbia pada 2017 dan kembali memenangkan pemilihan pada Mei 2022. Namun, ia kemudian memutuskan mengakhiri masa jabatan lima tahunnya lebih awal untuk berkampanye sebagai calon perdana menteri.
Padahal, berdasarkan aturan yang berlaku, Vucic sebenarnya tidak harus mengundurkan diri sebagai presiden hanya untuk mencalonkan diri sebagai perdana menteri.
Baca Juga : Iran Siap Hadapi “Perang Kiamat” dengan AS
“Saya ingin bersaing sebagai orang biasa, sebagai bagian dari rakyat,” ujar Vucic.
Saat ini, Vucic memimpin daftar kandidat dari partai populis sayap kanan, Serbian Progressive Party. Ia juga menjadi kandidat partai tersebut untuk posisi perdana menteri.
Beberapa menit sebelum mengumumkan pengunduran dirinya, Vucic menggunakan kewenangan konstitusionalnya untuk memberikan pengampunan kepada puluhan orang. Mereka termasuk mahasiswa dan loyalis partainya yang diduga melakukan pelanggaran selama rangkaian aksi demonstrasi.
“Saya telah memutuskan untuk mengampuni 49 orang, 23 di antaranya terkait dengan peristiwa mengerikan yang telah kita lalui selama satu setengah tahun terakhir,” kata Vucic, merujuk pada aksi protes yang berlangsung.
Setelah Vucic resmi mundur, Ketua Parlemen Serbia Ana Brnabic mengambil alih sebagai pelaksana tugas presiden.
Sesuai aturan yang berlaku, Brnabic dapat menjalankan fungsi kepresidenan selama maksimal tiga bulan. Dalam periode tersebut, Serbia harus menggelar pemilihan presiden.
