Dony Oskaria Jawab Peringatan Moody’s soal Ekspor SDA
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menanggapi peringatan yang disampaikan lembaga pemeringkat internasional S&P dan Moody’s terkait kebijakan ekspor sumber daya alam (SDA) satu pintu melalui BUMN ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Kebijakan tersebut sebelumnya dinilai berpotensi menekan performa ekspor nasional, mempengaruhi persepsi investor, hingga berdampak terhadap prospek peringkat kredit Indonesia.
Baca Juga : DPR dan Pemerintah Sepakati Anggaran Rp 100T untuk Rekonstruksi Sumatera
S&P Global Ratings menilai sistem pengendalian komoditas secara terpusat berisiko mengganggu ekspor, menekan penerimaan negara, serta mempengaruhi neraca pembayaran Indonesia. Sementara Moody’s menyebut skema ekspor satu pintu memang dapat membantu memperkuat devisa negara, tetapi di sisi lain berpotensi menimbulkan distorsi pasar dan mempengaruhi sentimen investor terhadap arah kebijakan pemerintah.
Merespons hal itu, Dony menilai publik perlu memahami latar belakang dan tujuan utama kebijakan tersebut sebelum melihat dampaknya secara menyeluruh.
Menurutnya, kebijakan ini dibuat agar pengelolaan kekayaan alam Indonesia benar-benar memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
“Ini yang juga perlu harus disampaikan kepada masyarakat. Harus memahami basic-nya kenapa ini dilakukan. Karena tentu ada latar belakangnya. Yang pertama tentu masyarakat yakin bahwa yang namanya kekayaan alam Indonesia itu harus untuk kemakmuran rakyat Indonesia,” jelas Dony di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah ingin memperkuat pengawasan terhadap praktik under invoicing dan transfer pricing yang selama ini dinilai merugikan negara. Melalui aturan baru tersebut, ekspor komoditas strategis seperti kelapa sawit, batu bara, dan fero alloy wajib dilakukan melalui DSI.
“Siapa yang rugi? Yang rugi rakyat Indonesia kan. Kenapa? Karena under invoicing ini menyebabkan pendapatan negara menjadi berkurang. Nah yang kedua adanya proses transfer pricing. Nah ini menyebabkan yang rugi siapa? Yang rugi seluruh rakyat Indonesia. Karena itu pemerintah berpikiran ini nggak bisa,” ujarnya.
Dony menegaskan perusahaan yang menjalankan bisnis secara wajar tidak perlu khawatir terhadap implementasi kebijakan tersebut. Ia memastikan harga jual komoditas tetap mengikuti harga pasar dan tidak akan merugikan pelaku usaha.
“Kalau mereka bisnisnya normal nggak ada bedanya kan? Tadinya dia jual harga X keluar sekarang dia jual ke kita juga harga X. Tugas kita memastikan bahwa harga itu benar sebagai pemerintah yang mewakili rakyat Indonesia. Betul nggak? Nah itu. Jadi yang perlu dipahami itu adalah filosofinya,” kata dia.
Ia juga meminta publik tidak buru-buru bersikap pesimistis terhadap kebijakan ekspor satu pintu tersebut. Menurutnya, implementasi kebijakan tetap dapat diawasi agar berjalan secara transparan dan akuntabel.
Baca Juga : Luhut Yakinkan Investor, Ekonomi Indonesia Masih Kuat
“Iya pasti harus siap. Jangan pesimis. Yang penting selalu saya menggambarkan kepada teman-teman sekalian itu filosofinya dulu. Konsep berpikirnya kita kalau sudah jelas pasti kita mendukung. Implementasi silahkan diawasi. Tugas saya, tugas saya untuk mengawasi,” tuturnya.
