Dunia Kena Imbasnya! Kebijakan Trump Bikin Perdagangan Makin Ruwet
Bank Dunia atau World Bank memproyeksikan aktivitas perdagangan global akan melemah pada 2026 sebagai dampak lanjutan dari kebijakan Trump, khususnya penerapan tarif resiprokal tinggi Amerika Serikat terhadap negara mitra dagang utamanya.
Dalam laporan Global Economic Prospects (GEP) edisi Januari 2026, World Bank memperkirakan pertumbuhan perdagangan global barang dan jasa melambat dari 3,4 persen pada 2025 menjadi 2,2 persen pada 2026.
Perlambatan ini terjadi seiring meredanya praktik front-loading yang sebelumnya menopang kinerja perdagangan global sepanjang 2025.
Istilah front-loading merujuk pada lonjakan permintaan impor oleh pelaku usaha Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump menerapkan tarif resiprokal tinggi, namun menunda pemberlakuannya selama 90 hari untuk membuka ruang negosiasi yang kemudian diperpanjang hingga awal 2026.
Baca Juga: Di Balik Gelombang Protes, Iran Tuding Campur Tangan Intelijen Asing
“Pertumbuhan perdagangan global pada 2025 tercatat 1,6 poin persentase lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan pada Juni, yang mencerminkan penimbunan persediaan yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya,” tulis Bank Dunia dalam laporan tersebut, Kamis (15/1/2026).
Namun, Bank Dunia menegaskan dorongan sementara tersebut tidak berkelanjutan.
“Sebaliknya, berakhirnya dorongan sementara tersebut, bersama dengan dampak tarif yang tertunda, telah menyebabkan revisi penurunan sebesar 0,2 poin persentase terhadap proyeksi pertumbuhan perdagangan pada 2026,” tegas World Bank.
Ketidakpastian Dagang Masih Membayangi Dunia
Memasuki 2027, World Bank memperkirakan perdagangan global akan kembali menguat ke level 2,7 persen seiring meningkatnya output global dan berkurangnya dampak kenaikan tarif.
Negara-negara dengan tujuan ekspor yang lebih terdiversifikasi diperkirakan akan mencatat pertumbuhan perdagangan yang lebih kuat dibanding negara yang bergantung pada pasar terbatas.
Meski demikian, prospek perdagangan global dinilai masih dibayangi risiko penurunan yang signifikan.
Baca Juga: Ini Motif Tersembunyi Trump Mau Kuasai Greenland, Bukan Keamanan
Bank Dunia menilai ketidakpastian tetap tinggi meskipun terdapat kemajuan dalam perundingan perdagangan dan terbatasnya aksi balasan sejak pertengahan 2025.
“Terdapat risiko besar bahwa ketegangan perdagangan dapat kembali meningkat, khususnya karena tarif yang lebih tinggi berpotensi mengalihkan ekspor ke negara ketiga, sehingga produsen domestik di negara-negara tersebut akan mencari perlindungan dari meningkatnya persaingan impor,” tulis Bank Dunia.
Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik dan meluasnya penggunaan sanksi sekunder dinilai berpotensi semakin menekan arus perdagangan global.
Dampak ke Ekonomi Global, Dunia Terancam Melambat
Seiring melemahnya perdagangan dunia, World Bank juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat pada 2026.
Dalam GEP Januari 2026, pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksikan hanya mencapai 2,6 persen, lebih rendah dibanding realisasi 2023 dan 2024 sebesar 2,8 persen serta estimasi 2025 di level 2,7 persen.
World Bank memperingatkan, jika proyeksi tersebut terealisasi, dekade 2020-an berpotensi menjadi periode dengan pertumbuhan global terlemah sejak 1960-an.
Baca Juga: Tekanan Trump Menguat, Eropa dan Greenland Mengalah dengan Terpaksa?
“Dalam beberapa tahun ke depan, ekonomi dunia diperkirakan tumbuh lebih lambat dibandingkan dekade 1990-an yang penuh gejolak, sementara menanggung tingkat utang publik dan swasta yang mencapai rekor,” ujar Indermit Gill, Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Senior untuk Ekonomi Pembangunan World Bank Group.
World Bank mencatat, pertumbuhan pada 2025 sempat ditopang lonjakan perdagangan menjelang perubahan kebijakan Trump serta penyesuaian cepat rantai pasok global.
Namun, dorongan tersebut diperkirakan memudar pada 2026 seiring melemahnya perdagangan dan permintaan domestik, meski pelonggaran kondisi keuangan global dan ekspansi fiskal di sejumlah negara besar dapat sedikit meredam perlambatan ekonomi dunia.
