Gelombang Pemotongan Gaji di Saudi, Apa Penyebabnya?
Perusahaan-perusahaan di Arab Saudi memangkas premi gaji yang sebelumnya amat besar, seiring upaya negara merasionalisasi pengeluaran dan menata ulang prioritas ekonomi dalam pelaksanaan Vision 2030.
Dengan begitu, talenta asing kini tidak lagi dapat mengharapkan kenaikan gaji 40% hingga dua kali lipat seperti yang lazim terjadi pada awal dekade ini.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran arah investasi Public Investment Fund (PIF) senilai 925 miliar dollar AS. Jika sebelumnya dana besar itu digelontorkan untuk proyek raksasa seperti NEOM, kini Saudi mulai mengalihkan fokus ke sektor dengan potensi pengembalian lebih cepat dan stabil seperti kecerdasan buatan (AI), logistik, serta pertambangan.
“NEOM dan usaha patungan PIF lainnya kini menghadapi penundaan karena kerajaan sedang melakukan rasionalisasi. Aktivitas proyek Saudi tetap lesu pada tahun 2025, dengan pemberian hibah hampir setengahnya dalam sembilan bulan pertama,” ungkap Kamco Invest.
Baca Juga: Dubes Pakistan Puji MBG, Tawarkan Kerjasama Susu
Laporan mengenai perlambatan eksekusi sejumlah proyek infrastruktur besar turut memperkuat gambaran koreksi anggaran tersebut. Kondisi ini berdampak langsung pada dinamika perekrutan.
Hasan Babat, CEO Tuscan Middle East, mengatakan bahwa penurunan aktivitas pembangunan membuat perusahaan semakin agresif menekan biaya. Menurut dia, pemberi kerja kini lebih sering menegosiasikan gaji dibanding periode ketika talenta amat terbatas.
“Laju pembangunan telah melambat dan hal ini menyebabkan perlambatan kerusakan … perusahaan telah menerapkan langkah-langkah yang sadar biaya,” ujar Babat.
Direktur pelaksana Boyden, Magdy Al Zein menyebut pasar tenaga kerja Saudi sedang menjalani fase rasionalisasi besar-besaran. Ia mengatakan penyesuaian yang terjadi saat ini menggambarkan pergeseran signifikan dalam struktur pasar pekerjaan.
“Di satu sisi Anda memiliki perekonomian terbesar di kawasan yang melakukan rasionalisasi dan di sisi lain, Anda memiliki pasokan kandidat yang besar dan sangat terbuka untuk datang ke kawasan ini,” kata Al Zein.
Akibat penyesuaian anggaran, rata-rata gaji tenaga kerja di Arab Saudi kini hampir menyamai Uni Emirat Arab (UEA). CEO Cooper Fitch, Trefor Murphy, mencatat bahwa secara umum perbedaan gaji antara Saudi dan UEA semakin tipis, di mana kenaikan rata-rata di Saudi hanya sekitar 5% hingga 8% dari tawaran yang ada di UEA.
Kondisi ini menciptakan tantangan baru bagi Saudi dalam menarik talenta terbaik, mengingat UEA sudah lebih unggul dalam fasilitas pendidikan internasional serta layanan kesehatan yang lebih mapan. Perlambatan ini juga dipengaruhi tekanan makro ekonomi.
Harga minyak yang lebih rendah menekan keuangan publik Saudi dan memperlebar defisit fiskal, sementara IMF memperkirakan kerajaan membutuhkan harga minyak mendekati 100 dollar AS per barel untuk menyeimbangkan anggaran.
“Meyakinkan orang untuk pindah dari UEA merupakan sebuah tantangan, mereka mengharapkan premi yang tinggi,” pungkas dia.
Dengan berbagai faktor tersebut, langkah pemangkasan premi gaji di Arab Saudi menunjukkan fase restrukturisasi ekonomi yang lebih berhati-hati, sekaligus menandai penyesuaian besar dalam pasar tenaga kerja kawasan.
Baca Juga: Cara Menghindari Jebakan Saham dan Baca Laporan Keuangan
