Harga Minyak Naik Tajam, Konflik Hormuz Jadi Pemicu
Harga minyak mentah global kembali mencatat penguatan pada perdagangan Selasa (14/7/2026) pagi. Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif yang telah berlangsung sejak awal pekan, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Mengacu pada data Refinitiv hingga pukul 08.30 WIB, minyak Brent diperdagangkan di level US$84,19 per barel atau meningkat 1,07% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat naik lebih tinggi sebesar 1,55% menjadi US$79,35 per barel.
Kenaikan harga minyak ini melanjutkan reli yang terjadi pada perdagangan Senin. Dalam kurun dua hari, harga Brent meningkat dari posisi US$76,01 per barel pada 10 Juli menjadi US$84,19 per barel. Artinya, komoditas tersebut telah menguat sekitar 10,8%. Pada periode yang sama, harga WTI juga mengalami lonjakan sekitar 11,1%.
Baca Juga : Tiga Lembaga Dunia Ramalkan Ekonomi RI Tumbuh 5%
Pergerakan tersebut membawa harga minyak berada pada titik tertinggi dalam satu bulan terakhir. Pasar energi kembali memasukkan premi risiko akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia.
Konflik Selat Hormuz Dorong Kekhawatiran Pasokan Minyak
Ketegangan antara Washington dan Teheran semakin memperbesar tekanan terhadap pasar minyak. Amerika Serikat kembali menerapkan pembatasan terhadap aktivitas pelayaran Iran di kawasan Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menyebut langkah tersebut telah kembali diberlakukan dan meminta negara-negara yang memperoleh perlindungan keamanan di wilayah tersebut ikut berkontribusi terhadap biaya operasionalnya.
Sementara itu, Iran memberikan respons dengan meningkatkan aktivitas militernya. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan dua kapal tanker milik negaranya terkena serangan rudal jelajah Iran di jalur selatan Selat Hormuz yang berada di wilayah perairan Oman.
Insiden tersebut menyebabkan satu awak kapal asal India meninggal dunia dan delapan lainnya mengalami luka-luka. Kejadian ini semakin memperkuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap keamanan jalur distribusi minyak internasional.
Situasi juga berkembang di daratan Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan masih melanjutkan operasi serangan terhadap Iran untuk malam ketiga berturut-turut. Di sisi lain, kantor berita semi-resmi Iran, YJC, melaporkan adanya sejumlah ledakan di wilayah Bandar Abbas dan Pulau Kish.
Analis Kepala Pasar KCM Trade Tim Waterer menilai eskalasi konflik tersebut telah meningkatkan risiko di pasar energi. Ia menyebut langkah blokade Amerika Serikat dan tindakan balasan Iran membuat kondisi pasokan minyak global semakin sulit diprediksi, meskipun jalur Selat Hormuz belum sepenuhnya ditutup.
Risiko Geopolitik Timur Tengah Bayangi Harga Minyak
Ancaman terhadap stabilitas energi tidak hanya datang dari konflik AS-Iran. Kelompok Houthi di Yaman turut meningkatkan ketegangan setelah meluncurkan serangan rudal ke Arab Saudi.
Houthi menyatakan tindakan tersebut merupakan respons atas tudingan serangan udara Riyadh terhadap sebuah bandara yang berada di bawah kendali kelompok tersebut.
Manajer portofolio Gabelli Funds Simon Wong memperingatkan bahwa gangguan yang lebih luas terhadap aktivitas distribusi minyak Arab Saudi melalui Laut Merah dapat meningkatkan risiko terhadap rantai pasok energi dunia.
Baca Juga : Korsel Secara Mengejutkan Minta Bantuan Korut, Ada Apa?
Menurutnya, perluasan konflik di kawasan tersebut berpotensi membuat pasar semakin khawatir terhadap keberlangsungan aliran minyak dari Timur Tengah, salah satu wilayah penghasil minyak terbesar dunia.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati kemungkinan perubahan stok minyak Amerika Serikat. Survei awal Reuters memperkirakan cadangan minyak mentah AS mengalami penurunan pada pekan sebelumnya.
Namun, stok bensin dan produk distilat diproyeksikan meningkat. Data resmi dari Energy Information Administration (EIA) akan menjadi perhatian utama investor karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi terbaru antara pasokan dan permintaan minyak di Amerika Serikat.
Dengan kombinasi risiko geopolitik dan dinamika persediaan minyak, pasar energi global diperkirakan masih bergerak volatil dalam beberapa waktu ke depan.
