Korsel Minta Bantuan Korut, Tak Ingin Tragedi 2020 Terulang
Pemerintah Korea Selatan meminta bantuan Korea Utara untuk membantu pencarian seorang pelaut Angkatan Laut yang hilang di dekat perbatasan maritim kedua negara pada Minggu (12/7/2026).
Langkah cepat tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan korban hanyut melewati Garis Batas Utara (Northern Limit Line/NLL) sekaligus mencegah terulangnya tragedi yang pernah terjadi pada 2020.
Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan terdapat kekhawatiran pelaut tersebut terbawa arus hingga memasuki wilayah utara NLL, yang menjadi garis demarkasi maritim de facto antara Seoul dan Pyongyang.
“Pelaut Angkatan Laut yang hilang saat menjalankan misi patroli di Laut Timur mungkin hanyut ke utara Garis Batas Utara (NLL),” ujar Kementerian Unifikasi Korea Selatan, dikutip dari Korea JoongAng Daily.
Baca Juga : Diplomasi Buyar, Iran Kecam Serangan AS ke Teheran
Pemerintah Korea Selatan pun meminta kerja sama Korea Utara atas dasar kemanusiaan.
“Kami berharap (Korea Utara), dari perspektif kemanusiaan, akan bekerja sama dalam menemukan dan memulangkan orang hilang ini,” tambah mereka.
Pelaut Hilang Saat Bertugas di Kapal Fregat
Berdasarkan keterangan Angkatan Laut Korea Selatan, pelaut yang hilang merupakan prajurit berpangkat kelas satu yang sedang bertugas di atas kapal fregat.
Saat itu, ia bertanggung jawab memeriksa motor penggerak kapal di ruang mesin.
Hingga kini, penyebab pasti hilangnya prajurit tersebut masih belum diketahui.
Menurut pejabat Angkatan Laut, korban masih terpantau berada di atas kapal sekitar tengah malam. Namun, keberadaannya tidak lagi diketahui setelah itu.
Hilangnya pelaut baru disadari ketika ia tidak melapor untuk bertugas pada pukul 08.00 waktu setempat.
Setelah menerima laporan tersebut, militer segera memberi tahu keluarga korban dan mengerahkan operasi pencarian berskala besar.
Insiden terjadi di perairan sekitar 50 kilometer di timur Geojin-eup, Kabupaten Goseong, wilayah Laut Timur yang berdekatan dengan NLL.
Menteri Pertahanan Korea Selatan, Ahn Gyu-back, langsung memerintahkan seluruh jajaran militer mengutamakan penyelamatan korban serta memperkuat koordinasi dengan Penjaga Pantai dan instansi terkait.
Operasi pencarian kini melibatkan sekitar 10 kapal, pesawat patroli, serta bantuan dari kapal nelayan dan kapal komersial yang berada di sekitar lokasi.
Baca Juga : Media Iran Ungkap Nama Trump hingga Macron Masuk Daftar Target
Sebagai langkah antisipasi jika korban memasuki wilayah utara, Angkatan Laut Korea Selatan juga telah mengirimkan pemberitahuan kepada Korea Utara melalui Jaringan Umum Kapal Dagang Internasional dan saluran komunikasi lain yang masih dapat diakses.
Belajar dari Tragedi Lee Dae-jun
Respons cepat pemerintah Korea Selatan dinilai dipengaruhi pengalaman pahit pada September 2020.
Saat itu, pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan, Lee Dae-jun, hanyut hingga memasuki perairan Korea Utara di Laut Kuning.
Lee kemudian ditembak mati oleh pasukan Korea Utara, sebelum jasadnya dibakar.
Kasus tersebut memicu kritik luas terhadap pemerintah Korea Selatan karena dinilai terlambat mengambil tindakan, meski telah mengetahui bahwa kapal patroli Korea Utara menemukan korban beberapa jam sebelumnya.
