AS Desak Rusia Transparan soal Kematian Teknisi Laboratorium
Amerika Serikat (AS) meminta Rusia memberikan informasi lebih terbuka mengenai kematian seorang teknisi laboratorium di Siberia yang dikaitkan dengan dugaan paparan bakteri penyebab pes.
Permintaan tersebut muncul setelah laporan mengenai kematian seorang pegawai institut penelitian pes di Irkutsk. Pegawai tersebut disebut kemungkinan mengalami kecelakaan laboratorium sebelum meninggal dunia.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya telah menjadwalkan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas persoalan tersebut.
Baca Juga : Iran Siapkan Serangan Balasan Jika AS-Israel Bertindak
“Ya, saya sudah menjadwalkan panggilan telepon,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Selasa (6/10/2026), sebagaimana diberitakan AFP.
Trump mengatakan percakapan dengan Putin akan berlangsung dalam waktu dekat. Ia juga menyebut pemerintah AS tengah membahas situasi tersebut secara mendalam dan kemungkinan akan memberikan informasi lebih lanjut.
Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa Washington telah meminta keterangan tambahan dari Moskwa.
“Kami telah secara resmi meminta informasi tambahan dari pemerintah Rusia,” kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS.
Menurut sumber yang mengetahui persoalan tersebut, permintaan itu disampaikan melalui komunikasi diplomatik rahasia atau demarche.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga meminta Rusia bersikap transparan.
“Kami mendorong Rusia untuk bersikap transparan dan berbagi lebih banyak informasi dengan dunia agar kita semua dapat merespons dengan langkah yang tepat dan sesuai,” ujar Rubio saat berkunjung ke Islandia.
Rusia Bantah Ada Wabah Pes
Perhatian terhadap Rusia meningkat setelah media People of Baikal melaporkan kematian Darya Shipilova, 28 tahun, yang bekerja di sebuah institut penelitian pes di Irkutsk.
Shipilova disebut kemungkinan tertular pes pneumonik setelah sebuah tabung reaksi pecah. Media tersebut juga melaporkan hingga 200 orang yang diduga pernah melakukan kontak dengan Shipilova menjalani karantina.
Namun, pemerintah Rusia membantah adanya laporan mengenai penerapan langkah khusus untuk menangani wabah pes.
Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, mengatakan dokumen daring yang menyebut adanya tindakan khusus bukan berasal dari sumber resmi.
Gubernur Irkutsk Igor Kobzev juga mengatakan pemeriksaan menunjukkan Shipilova meninggal akibat pneumonia dengan penyebab yang belum dapat ditentukan.
Menurut Kobzev, tidak ditemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaan korban dalam sampel biologisnya. Ia juga mengatakan tidak ada pegawai lain di institut tersebut yang mencari pertolongan medis setelah kematian Shipilova.
WHO Minta Informasi Lebih Lengkap
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan informasi yang diterima dari Rusia menunjukkan tidak ada kasus penyakit berbahaya tersebut yang tercatat di Kota Irkutsk.
Meski demikian, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta Moskwa memberikan informasi tambahan mengenai penyebab pneumonia serta rincian lain terkait kasus tersebut.
Baca Juga : Trump Klaim Tak Jelas Siapa yang Memimpin Iran
Tedros mengatakan informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan diperlukan untuk mengklarifikasi laporan yang saling bertentangan sekaligus menilai potensi risiko terhadap kesehatan masyarakat.
Pes merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan dapat muncul dalam beberapa bentuk. Salah satunya adalah pes pneumonik yang menyerang paru-paru dan dapat menular melalui saluran pernapasan.
Menurut WHO, penyakit tersebut dapat berakibat fatal apabila tidak segera ditangani.
Trump sebelumnya mengatakan AS siap membantu Rusia jika diperlukan. Rospotrebnadzor kemudian merespons dengan menyatakan Rusia juga siap membantu AS menghadapi penyakit menular.
Dalam pernyataannya, badan tersebut turut menyinggung peningkatan kasus campak serta kasus pes yang berujung kematian di New Mexico.
Sementara itu, Irkutsk dijadwalkan menjadi lokasi konferensi internasional mengenai pes dan penyakit menular lainnya pada 21-22 Oktober 2026.
Penyelenggara menegaskan konferensi tersebut tidak berkaitan dengan kematian pegawai institut penelitian pes yang baru-baru ini dilaporkan.
