Kabar Duka dari Lebanon, Prajurit TNI Gugur Akibat Serangan Israel
Sebuah proyektil dikabarkan meledak di sekitar pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berada di wilayah selatan Lebanon, dan menewaskan seorang personel penjaga perdamaian asal Indonesia.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan yang semakin mengancam keselamatan misi internasional.
Personel yang dikenal sebagai bagian dari “helm biru” Indonesia itu bertugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), dan berada di pos dekat wilayah Adchit Al Qusayr saat proyektil meledak. Selain korban jiwa, satu personel lain dilaporkan mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Baca Juga : Dampak Perang AS-Iran, 10 Negara Ini Naikkan Harga BBM
Pihak UNIFIL menyatakan bahwa asal proyektil tersebut masih belum diketahui dan penyelidikan tengah dilakukan untuk mengungkap kronologi kejadian.
“Tidak seorang pun seharusnya kehilangan nyawa saat melayani tujuan perdamaian,” kata misi tersebut, dikutip Senin (30/3/2026).
PBB Kecam Serangan dan Serukan Perlindungan Pasukan
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam keras insiden yang terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyatakan bahwa kejadian tersebut merupakan bagian dari rangkaian insiden berbahaya yang mengancam keselamatan pasukan penjaga perdamaian dalam beberapa waktu terakhir.
“Ini adalah salah satu dari sejumlah insiden yang membahayakan keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian, termasuk selama 48 jam terakhir,” kata Dujarric.
“Sekali lagi, Sekretaris Jenderal menyerukan kepada semua pihak untuk menegakkan kewajiban mereka di bawah hukum internasional dan memastikan keselamatan serta keamanan personel dan properti PBB setiap saat,” imbuhnya.
Pimpinan PBB juga mengingatkan bahwa setiap serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, serta bertentangan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 yang menjadi dasar penugasan UNIFIL di wilayah tersebut.
“Harus ada pertanggungjawaban,” demikian pernyataan tersebut.
Guterres turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, rekan kerja, serta pemerintah Indonesia. Ia juga berharap personel yang terluka dapat segera pulih sepenuhnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel pria dan perempuan yang menjalankan tugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), sekaligus menekankan bahwa keselamatan, perlindungan, serta kebebasan mobilitas mereka harus dijamin sepenuhnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mendesak seluruh pihak yang terlibat konflik untuk segera menurunkan eskalasi, dan mematuhi kewajiban sesuai resolusi Dewan Keamanan PBB.
Respons Pemerintah Indonesia
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengonfirmasi bahwa satu personel Indonesia gugur, dan tiga lainnya mengalami luka saat bertugas dalam misi UNIFIL.
“Serangan artileri tidak langsung mengenai posisi kontingen Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr pada tanggal 29 Maret 2026. Insiden terjadi di tengah laporan saling serang antara militer Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan,” tulis Kemlu RI melalui akun X.
Indonesia mengecam keras insiden tersebut dan mendesak agar dilakukan penyelidikan yang transparan serta menyeluruh untuk mengungkap pihak yang bertanggung jawab.
“Kami memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada personel yang gugur atas dedikasi dan pengabdiannya bagi perdamaian dan keamanan internasional. Doa dan simpati kami bersama keluarga yang ditinggalkan, serta mendoakan pemulihan sepenuhnya bagi personel yang terluka. Indonesia bekerja sama dengan UNIFIL untuk memastikan repatriasi jenazah dilakukan segera serta memberikan perawatan medis terbaik bagi yang terluka,” lanjutnya.
Pemerintah Indonesia juga menegaskan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus dihormati sesuai ketentuan hukum internasional, serta menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri demi menjaga stabilitas kawasan.
“Indonesia kembali mengecam keras serangan Israel di Lebanon selatan dan menyerukan kepada seluruh pihak untuk menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon, menghentikan serangan yang membahayakan warga dan infrastruktur sipil, serta kembali pada dialog dan diplomasi guna mencegah eskalasi lebih lanjut dan mewujudkan perdamaian,” tulis Kemlu.
Tenaga Kesehatan Ikut Menjadi Korban
Di tengah konflik yang sama, korban juga dilaporkan berasal dari kalangan tenaga medis. Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan laporan terkait kematian tenaga kesehatan di Lebanon selatan.
Baca Juga : Situasi Memanas, Iran Serang Kilang di Kuwait!
“Operasi militer Israel yang meluas di Lebanon selatan telah mengakibatkan kematian seorang lagi tenaga kesehatan hari ini,” kata Tedros dalam pernyataan yang dipublikasikan di platform X.
Paramedis tersebut dilaporkan tewas akibat serangan terhadap ambulans di wilayah Bint Jbeil, sementara gudang logistik medis di lokasi yang sama turut mengalami kerusakan.
Sebelumnya, WHO telah mengkonfirmasi bahwa 51 tenaga kesehatan Lebanon telah tewas sejak 2 Maret, termasuk 9 paramedis yang dilaporkan tewas hanya sehari sebelumnya.
Tedros menegaskan, bahwa serangan terhadap fasilitas kesehatan harus segera dihentikan, dan tidak boleh menjadi hal yang diwajarkan.

[…] Kabar Duka dari Lebanon, Prajurit TNI Gugur Akibat Serangan Israel […]
[…] Baca Juga: Prajurit TNI di Lebanon Gugur karena Serangan Israel […]