Kenapa Korea Selatan Marah pada Ukraina soal 2 Tentara Korut?
Perselisihan diplomatik antara Korea Selatan dan Ukraina mencuat setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkap pemindahan dua tentara Korea Utara ke Korea Selatan.
Pengungkapan itu disampaikan Zelenskyy dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 23 September 2026.
Seoul menilai pengungkapan tersebut melanggar kesepahaman kedua negara untuk merahasiakan pemindahan dua tentara Korea Utara yang sebelumnya ditangkap Ukraina.
Pemerintah Korea Selatan kemudian meminta penjelasan resmi dan permintaan maaf dari Ukraina serta memanggil penjabat duta besar Ukraina untuk menyampaikan protes.
2 Tentara Korut Dipindahkan ke Korea Selatan
Dilansir CNA, Ukraina mengumumkan pada Januari 2025 bahwa pihaknya menangkap dua tentara Korea Utara yang bertempur bersama pasukan Rusia di wilayah Kursk, Rusia.
Keduanya menjadi tentara Korea Utara pertama yang diumumkan Ukraina berhasil ditangkap hidup-hidup setelah Pyongyang mengerahkan ribuan pasukan untuk membantu Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Zelenskyy sebelumnya mengatakan Ukraina siap menyerahkan kedua tentara tersebut kepada Korea Utara jika pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dapat mengatur pertukaran dengan tentara Ukraina yang ditahan Rusia.
Namun, kelompok hak asasi manusia mendesak Zelenskyy tidak memulangkan kedua tentara tersebut ke Korea Utara karena khawatir mereka akan menghadapi hukuman.
Kedua tentara itu kemudian menyatakan keinginan untuk pergi ke Korea Selatan.
Korea Selatan memandang warga Korea Utara sebagai bagian dari warganya sehingga Seoul pada Juni 2026 menyatakan siap menerima tentara Korea Utara yang menjadi tawanan perang dan ingin pergi ke Korea Selatan.
Anggota parlemen Korea Selatan Youn Kun-young mengatakan kedua tentara tersebut telah dipindahkan ke Korea Selatan pada pertengahan September.
Baca Juga: Houthi Sebut Serang Aramco di Riyadh dengan Rudal
Mengapa Korea Selatan Marah kepada Ukraina?
Korea Selatan mengatakan kedua negara memiliki kesepahaman yang jelas bahwa pemindahan dua tentara Korea Utara tersebut akan dirahasiakan.
Bagi Seoul, kerahasiaan itu penting karena berkaitan dengan keselamatan kedua tentara serta keluarga mereka yang masih berada di Korea Utara.
Pemerintah Korea Selatan khawatir pengungkapan pemindahan tersebut dapat menempatkan kedua tentara dan kerabat mereka dalam bahaya.
Korea Utara diketahui melakukan pembalasan terhadap pembelot dan keluarga mereka.
Selain faktor keselamatan, Seoul juga mempertimbangkan hubungan dengan Korea Utara.
Pemerintahan Presiden Lee Jae Myung saat ini berupaya menciptakan kondisi untuk membuka kembali dialog dengan Pyongyang.
Asisten Profesor Ryu Yongwook dari Lee Kuan Yew School of Public Policy mengatakan kepada CNA bahwa pengumuman mengenai pemindahan kedua tentara tersebut dapat mempersulit upaya pemerintahan Lee untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara.
Profesor Park Won-gon dari Ewha Womans University juga menilai pemerintah Korea Selatan tampaknya khawatir pengungkapan tersebut dapat memperkuat permusuhan Pyongyang terhadap Seoul.
Dari sisi diplomatik, Ryu mengatakan Seoul merasa “dikhianati” oleh pengungkapan tersebut.
Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) mengatakan kepada anggota parlemen bahwa Ukraina sebelumnya meminta kerahasiaan ketat karena khawatir pengungkapan pemindahan tersebut dapat memengaruhi negosiasi pertukaran tawanan dengan Rusia.
Namun, Kyiv membantah bahwa pernah ada perjanjian kerahasiaan.
Korea Selatan Tuntut Ukraina Minta Maaf
Perselisihan tersebut semakin memanas setelah Presiden Lee pada Jumat (2/10/2026) memperingatkan akan ada langkah lanjutan jika Ukraina tetap menolak mengakui fakta yang disampaikan Seoul dan tidak meminta maaf secara terbuka.
Sebelumnya, Seoul telah memanggil duta besar Ukraina terkait pengungkapan pemindahan kedua tentara tersebut.
Lee mengatakan persoalan tersebut menyangkut martabat Korea Selatan dan rakyatnya sehingga tidak dapat diabaikan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga menyebut persoalan tersebut sebagai kesalahpahaman diplomatik, bukan sebuah insiden.
“Saya sangat ingin situasi ini diselesaikan dalam jangka pendek dan kami sedang mengupayakannya. Bagi kami, Korea Selatan adalah negara penting,” kata Sybiga dalam pengarahan pada Kamis (1/10/2206), seperti dikutip The Japan Times.
Di sisi lain, Korea Selatan mengatakan penolakan Ukraina terhadap keberadaan kesepakatan kerahasiaan telah serius merusak kepercayaan antara kedua pemerintah dan dapat memengaruhi hubungan bilateral.
Meski demikian, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengatakan persoalan tersebut tidak akan dikaitkan dengan bantuan kemanusiaan untuk Ukraina ataupun kerja sama rekonstruksi pascaperang.
Pada Juli 2026, Seoul mengumumkan paket dukungan senilai 100 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,7 triliun untuk Ukraina serta berkomitmen melanjutkan bantuan kemanusiaan dan dukungan bagi rekonstruksi Ukraina.
Baca Juga: Donald Trump Janjikan Bantuan Rp 89 Juta Jika Republik Menang Pemilu Sela
Alasan Ukraina Mengungkapkan Pemindahan
Alasan Ukraina mengungkapkan pemindahan kedua tentara tersebut belum diketahui secara pasti.
Namun, NIS Korea Selatan menilai Zelenskyy mungkin berharap pengungkapan itu dapat meningkatkan dukungan publik di Korea Selatan terhadap pemberian senjata dan bantuan lainnya kepada Ukraina.
Korea Selatan merupakan salah satu produsen senjata utama dan mendapat tekanan dari sejumlah negara Barat serta Ukraina untuk memasok senjata mematikan kepada Kyiv.
Namun, Seoul selama ini tidak memasok senjata mematikan secara langsung kepada negara yang sedang berperang sesuai kebijakan jangka panjangnya.
Korea Selatan juga telah mempertimbangkan permintaan untuk memasok senjata defensif.
Ryu menilai pengungkapan Zelenskyy mungkin merupakan sinyal kepada Seoul agar memberikan dukungan lebih besar kepada Ukraina.
Meski demikian, menurut Ryu, Korea Selatan dan Ukraina memiliki kepentingan yang cukup besar dalam hubungan mereka sehingga perselisihan tersebut seharusnya tidak sampai menggagalkan hubungan bilateral.
