Menkeu: Dampak Kenaikan BBM pada Inflasi Bersifat Sementara
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kenaikan inflasi bulanan Indonesia pada Juni 2026 dipengaruhi oleh meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) dan sejumlah komoditas pangan.
Menurut dia, lonjakan harga tersebut bersifat sementara dan diperkirakan akan mereda dalam beberapa bulan ke depan.
“Inflasi karena harga cabai dan lain-lain sedang naik. Barang-barang (pangan) itu kan musiman,” kata Purbaya saat ditemui wartawan usai pelantikan tiga direktur jenderal baru, Rabu (1/7/2026).
Baca Juga: Untuk Dukung MBG, Kapolri Targetkan 1.500 SPPG
Purbaya menjelaskan, meskipun inflasi bulanan mengalami kenaikan, kondisi inflasi inti masih relatif stabil.
Karena itu, ia menilai tekanan inflasi saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor harga energi dan pangan dibandingkan peningkatan permintaan secara luas.
“Inflasi inti tampaknya masih stabil, jadi kenaikan inflasi lebih diakibatkan oleh kenaikan harga BBM dan harga beberapa pangan, nanti bakal hilang dalam waktu beberapa bulan,” lanjutnya.
Inflasi Juni Capai 0,44 Persen
Purbaya juga berharap tren penurunan harga minyak dunia dapat diikuti dengan penyesuaian harga BBM non-subsidi secara bertahap.
Menurut dia, penurunan harga minyak global berpotensi memberikan ruang bagi penurunan harga bahan bakar di dalam negeri, termasuk Pertamax.
“Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak dunia, kan udah turun tuh, pelan-pelan juga kan harga Pertamax saya yakin akan turun, sesuai dengan harga minyak dunia,” ucapnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm).
Sementara itu, inflasi tahun kalender tercatat sebesar 1,79 persen dan inflasi tahunan mencapai 3,34 persen.
Angka inflasi bulanan tersebut lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang mencatatkan inflasi sebesar 0,28 persen.
Baca Juga: Driver Malah Keluhkan Tarif, Potongan Ojol 8 Persen Berlaku
BPS mencatat kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Juni 2026 dengan tingkat inflasi mencapai 2,29 persen.
Kelompok tersebut memberikan andil sebesar 0,28 persen terhadap inflasi bulanan.
“Terjadi inflasi sebesar 0,44%,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu.
Di sisi lain, inflasi inti pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,23 persen dengan andil 0,15 persen terhadap inflasi bulanan.
Capaian tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi inti pada Mei 2026 yang berada di level 0,22 persen.
