Negosiasi Nuklir Iran-AS di Oman, Turki-Qatar-Mesir Turun Tangan
Menjelang dialog diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat mendatang, para mediator internasional mendorong Tehran untuk menghentikan program pengayaan uranium yang selama ini menjadi sumber utama ketegangan.
Dikutip dari Al Jazeera, Kamis (5/2/2026), mediator dari Qatar, Turki, dan Mesir telah menyampaikan kerangka kerja awal kepada kedua pihak. Kerangka tersebut mencakup usulan moratorium pengayaan uranium selama tiga tahun, serta pemindahan stok uranium yang ada ke pihak ketiga.
Sejumlah sumber yang mengetahui jalannya negosiasi, menyebutkan bahwa prinsip-prinsip utama tersebut telah disampaikan kepada Tehran dan Washington. Usulan itu diharapkan dapat menjadi dasar pembahasan dalam pertemuan yang direncanakan digelar pada Jumat mendatang.
Baca Juga : Makin Ketat! OJK Awasi Perbankan dengan Teknologi AI
Menurut dua sumber, salah satunya diplomat senior yang meminta identitasnya dirahasiakan, Iran diminta berkomitmen untuk membatasi aktivitas pengayaan uranium secara signifikan. Selain penghentian total selama tiga tahun, setelah periode tersebut Iran hanya diperbolehkan melakukan pengayaan uranium di bawah level 1,5 persen.
“Stok uranium yang sangat diperkaya, termasuk sekitar 440 kilogram yang telah diperkaya hingga 60%, akan ditransfer ke negara ketiga,” ujar salah satu sumber yang terlibat dalam pembahasan tersebut.
Kerangka kerja yang diusulkan tidak hanya berfokus pada isu nuklir. Para mediator juga mengusulkan agar Iran membatasi penggunaan rudal balistik, serta menghentikan transfer senjata dan teknologi militer kepada sekutu non-negara di kawasan.
Meski demikian, pembatasan rudal yang diusulkan tersebut dinilai masih belum memenuhi tuntutan AS, yang menginginkan Iran menekan jumlah dan jangkauan rudal secara lebih signifikan.
Seorang sumber Iran, secara terpisah mengatakan bahwa perundingan tersebut diperkirakan akan dihadiri oleh Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Lokasi pembicaraan disebut akan berlangsung di Oman, bukan di Turki seperti rencana awal.
“Selain itu, mediator juga mengusulkan adanya kesepakatan non-agresi antara Tehran dan Washington,” kata salah satu sumber. Hingga saat ini, belum ada respons resmi dari pihak Iran maupun AS terkait kerangka kerja yang diajukan tersebut.
Di sisi lain, Iran tetap menegaskan sikapnya. Kantor berita Tasnim, melaporkan bahwa Tehran hanya bersedia membahas program nuklir dan pencabutan sanksi, serta menolak pembicaraan mengenai dukungan terhadap sekutu regional maupun pembatasan rudal balistik.
Baca Juga : Banyak Perusahaan Asing di Tak Bayar Pajak, Purbaya Heran
Upaya diplomasi ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan. Amerika Serikat telah mengerahkan kapal induk, jet tempur, dan kapal perusak ke Laut Arab, sementara Iran menghadapi tekanan internal akibat gelombang protes nasional.
Meski demikian, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tetap menunjukkan sikap tegas dan menantang, sehingga peluang tercapainya kompromi dinilai masih terbatas oleh para pengamat.

[…] Negosiasi Nuklir Iran-AS di Oman, Turki-Qatar-Mesir Turun Tangan […]