Netanyahu Marah Usai Trump Tunda Serangan Iran
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dikabarkan sangat marah setelah melakukan percakapan telepon yang menegangkan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait proposal baru untuk mengakhiri perang dengan Iran. Informasi ini dilaporkan oleh Axios dan dikutip dari sejumlah sumber yang mengetahui isi pembicaraan tersebut.
Menurut laporan tersebut, Netanyahu disebut “sangat marah” setelah panggilan telepon yang terjadi usai keputusan Trump menunda rencana “serangan besar” terhadap Iran. Penundaan itu dilakukan karena adanya permintaan dari sejumlah pemimpin negara Teluk yang meminta agar jalur diplomasi diberi waktu lebih panjang.
Baca Juga : Xi dan Putin Kritik AS, Soroti Dominasi Global dan Serangan Rudal
Sementara itu, Trump menyatakan bahwa situasi dengan Iran saat ini berada di titik krusial antara kesepakatan damai atau eskalasi perang baru.
“Entah kita mencapai kesepakatan atau kita akan melakukan beberapa hal yang sedikit buruk,” kata Trump kepada wartawan pada hari Rabu.
Ia juga menambahkan bahwa konflik dapat kembali meningkat dengan cepat jika tidak ada respons positif dari Teheran.
Netanyahu sendiri disebut bersikap skeptis terhadap upaya negosiasi tersebut. Ia dikabarkan lebih memilih pendekatan militer untuk melemahkan kemampuan Iran dengan menghancurkan infrastruktur strategisnya.
Namun di sisi lain, Trump tetap menegaskan bahwa dirinya memiliki hubungan baik dengan Netanyahu, bahkan menyebut pemimpin Israel itu akan mengikuti arah kebijakan Washington terkait Iran.
Upaya diplomasi terbaru disebut berfokus pada penyusunan “surat pernyataan niat” antara AS dan Iran untuk membuka jalan menuju gencatan senjata serta perundingan lanjutan selama 30 hari mengenai program nuklir Iran dan status Selat Hormuz.
Pemerintah Iran melalui Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa mereka sedang meninjau proposal tersebut. Namun, Teheran menegaskan bahwa proses negosiasi tetap mengacu pada rencana 14 poin yang sebelumnya ditolak oleh AS.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan bahwa pembicaraan hanya dapat berhasil jika AS menghentikan apa yang mereka sebut sebagai “pembajakan” terhadap kapal Iran dan mencairkan dana yang dibekukan. Iran juga menuntut Israel menghentikan operasi militernya di Lebanon.
Dengan situasi yang masih tegang, peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran masih belum pasti, sementara ancaman eskalasi konflik tetap terbuka.
Baca Juga : Purbaya Klaim Emiten Tambang Berpotensi Diuntungkan Danatara SDA
