Netanyahu Peringatkan Iran Atas Latihan Militer, Khawatir Picu Konflik Terbuka
Ketegangan militer antara Israel dan Iran kembali meningkat ke permukaan. Pemicunya adalah pernyataan resmi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyatakan negaranya sedang memantau dengan ketat latihan militer yang digelar Teheran.
Pernyataan ini langsung memicu kekhawatiran luas di kalangan pengamat keamanan internasional. Kekhawatiran utamanya adalah bahwa sebuah kesalahan kalkulasi atau salah penafsiran niat dari latihan tersebut dapat dengan mudah menyulut konflik terbuka antara kedua musuh bebuyutan ini.
Netanyahu, dalam pernyataannya, menegaskan bahwa Israel sepenuhnya menyadari aktivitas militer Iran yang sedang berlangsung. Ia secara tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam jika latihan itu berubah menjadi ancaman nyata.
“Kami mengetahui bahwa Iran sedang melakukan latihan militer. Kami memantau hal ini dan melakukan persiapan yang diperlukan. Saya ingin memperjelas kepada Iran, tindakan apapun terhadap Israel akan dihadapi dengan respons yang sangat keras,” ujarnya dikutip pada Rabu (24/12/2025).
Baca Juga: Pemerintah AS Terancam Bayar Ganti Rugi Rp2.800 Triliun Atas Kebijakan Tarif Trump – Economix
Pernyataan keras Netanyahu itu muncul dalam atmosfer kewaspadaan tinggi di kalangan aparat keamanan Israel, yang siaga terhadap kemungkinan serangan mendadak dari Iran. Kewaspadaan ini diperkuat oleh laporan media Axios, yang mengungkapkan bahwa Israel telah secara resmi memberi tahu pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai latihan rudal yang dilakukan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Peringatan Israel menyebutkan bahwa latihan itu berpotensi menjadi penyamaran bagi persiapan serangan nyata. Seorang sumber Israel yang dikutip dalam laporan itu menyatakan, meski peluang serangan dinilai di bawah 50%, tidak ada pihak yang bersedia mengambil risiko dengan menganggapnya sebagai latihan biasa.
Ancaman pecahnya konflik semakin nyata seiring dengan analisis bahwa salah komunikasi atau persepsi keliru mengenai kesiapan militer masing-masing pihak dapat memicu eskalasi yang tidak terkendali. Situasi ini semakin memperkuat kekhawatiran di tingkat global bahwa kawasan Timur Tengah sekali lagi berada di ambang perang besar.
Ketegangan terkini ini merupakan kelanjutan dari siklus konflik yang belum lama terjadi. Pada Juni sebelumnya, Israel telah melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir dan program rudal balistik Iran. Pemerintah Israel mendasari serangan itu sebagai respons terhadap ancaman yang mereka nilai bersifat segera dan mengancam eksistensi negara. Serangan Israel itu memicu 12 hari pertukaran serangan udara intensif antara kedua negara.
Menurut otoritas kesehatan Iran, lebih dari 1.000 orang tewas dalam pertukaran tersebut. Sebagai balasan, Iran meluncurkan gelombang serangan besar-besaran yang terdiri dari lebih dari 500 rudal balistik dan sekitar 1.100 drone ke wilayah Israel. Otoritas kesehatan Israel mencatat, serangan balasan Iran itu menewaskan sekitar 32 orang dan melukai lebih dari 3.000 warga.
Dalam konteks ketegangan yang berulang ini, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, memberikan penilaian yang menarik.
Ia menilai bahwa Iran mungkin belum sepenuhnya memahami atau menganggap serius pesan keras yang disampaikan Washington selama konflik Juni lalu. Huckabee secara spesifik merujuk pada serangan udara Amerika Serikat yang melibatkan pembom siluman B-2 terhadap fasilitas nuklir Iran di Fordow.
Baca Juga: Trump Tegaskan Tidak Perlu Persetujuan Kongres untuk Serangan ke Venezuela – Economix
“Saya tidak tahu apakah (Iran) pernah benar-benar menganggap serius (Presiden AS Donald Trump) sampai malam ketika pembom B-2 menyerang Fordow,” kata Huckabee. Ia menambahkan dengan nada prihatin,” ungkapnya.
“Saya berharap mereka menangkap pesannya, tetapi tampaknya mereka tidak mendapatkan pesan sepenuhnya karena, seperti yang Anda sebutkan, mereka terlihat mencoba membangun kembali dan mencari cara baru untuk menggali lebih dalam serta mengamankannya.”
Di tengah situasi yang memanas ini, spekulasi muncul bahwa Netanyahu akan berupaya mendapatkan dukungan penuh dari Presiden Trump untuk melancarkan serangan pendahuluan guna meniadakan kemampuan rudal Iran, sebelum Teheran mencapai target militernya. Namun, analisis geopolitik menunjukkan bahwa situasi kali ini mungkin berbeda dengan episode konflik sebelumnya.
Ada faktor baru yang berpotensi membatasi ruang gerak Amerika Serikat. Meningkatnya ketegangan antara Washington dan Caracas terkait krisis Venezuela dinilai telah menyerap perhatian politik dan sumber daya militer Amerika Serikat yang signifikan.
Imbasnya, kapasitas AS untuk memberikan dukungan langsung dan penuh kepada Israel, jika konflik dengan Iran benar-benar pecah kembali, dinilai berpotensi lebih terbatas dibandingkan sebelumnya. Hal ini menambah lapisan kompleksitas baru dalam dinamika ketegangan yang sudah sangat rumit di Timur Tengah.
Baca Juga: Eks Dewan BOJ Peringatkan Risiko Pelemahan Yen – Economix
