Pemerintah Kaji Pembatasan Konsumsi Pertalite, Ini Kata Bahlil
Pemerintah tengah mengkaji kebijakan penyaluran subsidi energi agar lebih tepat sasaran.
Salah satu kebijakan yang sedang dimatangkan adalah pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, khususnya Pertalite.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah masih melakukan kajian terkait kebijakan tersebut.
Bahlil mencontohkan mobil Toyota Avanza dan kendaraan sejenis yang memiliki kapasitas tangki sekitar 50 liter.
Menurut dia, kendaraan tersebut dapat menempuh jarak sekitar 200 kilometer hingga 300 kilometer dengan kapasitas bahan bakar tersebut.
Karena itu, Bahlil menilai pembelian Pertalite sebanyak 50 liter per hari untuk mobil pribadi sudah mencukupi.
Baca Juga: Rencana AI Diungkap Obama jika Maju Capres 2028
Namun, ia mengakui terjadi peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi.
Sebagian masyarakat yang sebelumnya menggunakan Pertamax (RON 92) mulai beralih menggunakan Pertalite.
Bahlil tidak mempermasalahkan peralihan tersebut.
Meski demikian, ia mengimbau masyarakat yang mampu agar tidak mengambil porsi subsidi yang seharusnya dinikmati masyarakat kurang mampu.
“Tapi mbok saya mengimbau kepada Saudara-Saudara kita yang mampu, yang apa ya, mobilnya yang bagus, ya kita harus pakai perasaan, lah. Masa kita harus ambil hak subsidi untuk saudara-saudara kita yang berhak gitu lho,” kata Bahlil kepada wartawan selepas acara InTechSea 2026, Four Seasons Hotel Jakarta, Senin (14/9/2026).
Pemerintah Matangkan Data Penerima Subsidi
Pemerintah saat ini juga mematangkan data masyarakat yang berhak menerima subsidi berdasarkan desil.
Bahlil mengatakan subsidi yang diberikan melalui BBM dan LPG harus diberikan kepada kelompok yang tepat.
Karena itu, pemerintah terus memperbarui dan memeriksa data penerima subsidi.
Pemantapan data tersebut menjadi bagian dari rencana pengetatan pengguna BBM dan LPG bersubsidi.
“Itu masih di-exercise, karena apa? kita ingin subsidi itu harus tepat sasaran. Nah salah satu cara untuk membuat tepat sasaran data kita harus valid. Nah desil-nya ini yang kita lagi mengecek terus jangan sampai harapan kita baik tapi ternyata dalam implementasinya karena datanya yang tidak valid membuat sesuatu yang tidak sesuai harapan kita,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu di Gedung DPR RI, Jakarta.
Di sisi lain, konsumsi Pertalite menunjukkan tren peningkatan sepanjang 2026.
Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas mengatakan penyaluran Pertalite hingga 30 Juni 2026 telah mencapai 13,96 juta kiloliter (kl).
Jumlah tersebut setara dengan 47,68 persen dari kuota APBN yang ditetapkan sebesar 29,27 juta kl.
“Sementara untuk JBKP jenis Pertalite RON 90, realisasi penyaluran mencapai 13,96 juta kl atau setara 47,68% dari kuota yang ditetapkan dalam APBN 29,27 juta kl,” bebernya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Senin (20/7/2026).
Baca Juga: Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Ini Profil serta Kariernya
Konsumsi Pertalite Capai 80 Persen
Kenaikan konsumsi Pertalite salah satunya dipengaruhi penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Dex Series.
Kondisi tersebut membuat sebagian konsumen beralih menggunakan BBM bersubsidi.
Untuk mengantisipasi penipisan kuota, BPH Migas memperkuat pengawasan bersama pemerintah provinsi melalui 25 perjanjian kerja sama (PKS).
BPH Migas juga telah memblokir ratusan ribu identitas digital yang diduga disalahgunakan untuk pembelian BBM bersubsidi.
“Kita juga terus melakukan optimalisasi agar supaya distribusi BBM subsidi tepat sasaran, itu kita melakukan pemblokiran hampir 307.107 QR Code. Dan ini kontinu terus bergerak dan naik karena adanya QR Code yang diproduksi dari ilegal,” tandasnya.
PT Pertamina Patra Niaga juga mencatat peningkatan porsi konsumsi Pertalite.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan Pertalite kini menguasai sekitar 80 persen konsumsi bensin secara nasional.
Angka tersebut meningkat dari sekitar 75 persen pada Januari-Mei 2026.
“Kalau secara komposisi perubahannya pada saat periode Januari-Mei kondisi untuk produk JBKP Pertalite secara komposisi sekitar 75%, saat ini sudah bergeser ke 80%. Jadi hampir 5% komposisi BBM gasoline itu sudah bergeser ke BBM PSO,” ungkapnya.
Peningkatan konsumsi Pertalite tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan permintaan Pertamax Series.
“Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM JBU khususnya Pertamax series terjadi penurunan hampir 18% dibandingkan periode sebelumnya,” katanya.
