Perang Iran Bisa Berlanjut hingga 2029, Ini Kata Pejabat AS
Perang Iran yang melibatkan Amerika Serikat (AS) berpotensi berlangsung jauh lebih lama dari yang selama ini disampaikan Presiden Donald Trump. Sejumlah pejabat dan penasihat utama Gedung Putih bahkan memperkirakan konflik tersebut dapat bertahan hingga akhir masa jabatan Trump pada 2029.
Perkiraan tersebut bertolak belakang dengan pernyataan publik Trump yang berulang kali menyebut perang akan segera berakhir. Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan sejumlah pejabat lainnya disebut telah membahas kemungkinan Iran tetap mampu bertahan menghadapi tekanan Washington.
Diskusi itu dilakukan secara tertutup setelah Trump menyampaikan kepada wartawan bahwa konflik akan berakhir “segera” setelah pemilihan paruh waktu atau midterm pada November mendatang. Trump beralasan Iran sudah tidak memiliki kemampuan untuk bertahan lebih lama.
Baca Juga : Trump Ungkap Houthi Tidak Ingin Diserang AS di Yaman
Jika konflik benar-benar berlangsung hingga 2029, AS harus menghadapi konsekuensi militer dan ekonomi dalam jangka panjang. Kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu pasar minyak global sekaligus menjadi persoalan politik menjelang pemilihan presiden AS 2028.
Vance dan Rubio Berpotensi Hadapi Dampak Politik
JD Vance dan Marco Rubio merupakan dua nama yang selama ini dipandang berpotensi menjadi kandidat dalam pemilihan presiden AS mendatang. Meski demikian, keduanya belum menyatakan secara resmi rencana untuk mencalonkan diri.
Trump sendiri kembali ke Gedung Putih dengan janji tidak membawa AS ke dalam “perang abadi” di Timur Tengah. Namun, perang Iran selama tujuh bulan terakhir justru menimbulkan tekanan baru bagi pemerintahannya.
Harga energi menjadi salah satu persoalan yang berpotensi memengaruhi situasi politik dalam negeri. Berdasarkan data AAA, harga rata-rata bensin di AS mencapai US$4,22 per galon pada Rabu. Angka itu meningkat dari US$4,01 sebulan sebelumnya dan US$3,19 pada periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, Trump menyatakan tidak khawatir terhadap dampak politik tersebut maupun potensi tekanan terhadap Partai Republik.
Trump Ingin Perang Cepat Berakhir, tetapi Siapkan Tekanan Jangka Panjang
Trump disebut kerap menyampaikan kepada orang-orang terdekatnya keinginan untuk mengakhiri perang sesegera mungkin. Konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan itu telah menewaskan 18 personel militer AS.
Di sisi lain, Trump juga mendukung strategi pengepungan ekonomi dalam jangka panjang. Washington menggunakan blokade laut dan sanksi untuk menekan Teheran agar membongkar program nuklirnya.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut pendekatan tersebut sebagai “Operasi Pengasingan Ekonomi”. Strategi itu diposisikan sebagai alternatif dari operasi militer berskala besar.
Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales mengatakan strategi tersebut telah memberikan tekanan besar terhadap Iran.
“Presiden Trump telah menghancurkan kemampuan militer Iran dan melumpuhkan sisa-sisa ekonominya yang buruk dengan blokade angkatan laut terkuat dalam sejarah dunia dan sanksi yang menghancurkan. Hanya Presiden Trump yang tahu apa yang akan dia lakukan dan kapan,” kata Olivia Wales dikutip dari WSJ.com, Minggu (13/9/2026).
JD Vance Enggan Tetapkan Batas Waktu Perang
Pernyataan internal para pejabat AS mengenai kemungkinan konflik berlangsung bertahun-tahun juga berseberangan dengan klaim Trump bahwa Iran telah dikalahkan dan rezimnya akan segera menyerah.
Pekan lalu, Vance bahkan menolak menyebut konflik yang berlangsung saat ini sebagai sebuah “perang”. Menurutnya, AS masih menjalankan blokade dan menghadapi serangkaian serangan secara berkala.
Vance juga tidak bersedia menetapkan kapan konflik akan berakhir. Ia beralasan bahwa memberikan tenggat waktu tertentu justru dapat dimanfaatkan Iran.
“Akan menjadi tindakan tidak bertanggung jawab jika kita merumuskan strategi dan jadwal kita untuk negara Iran yang sama sekali tidak mampu menghormati komitmennya dan tidak dapat berhenti menembaki kapal-kapal dagang,” kata Vance.
Iran sendiri terus merespons tekanan AS dengan serangan rudal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bentrokan di sekitar Selat Hormuz berpotensi tetap terjadi selama konflik belum berakhir.
Pada Selasa, AS menghancurkan lima kapal tanker Iran setelah Teheran sebelumnya menargetkan sejumlah kapal militer AS. Serangan-serangan tersebut tidak berhasil mengenai sasaran, meski beberapa di antaranya disebut pejabat AS nyaris berhasil.
Pentagon Perpanjang Penempatan Pasukan hingga 2027
Indikasi bahwa Washington bersiap menghadapi konflik berkepanjangan juga terlihat dari kebijakan Pentagon.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah memperpanjang sejumlah penempatan pasukan AS di Timur Tengah hingga 2027, seperti dilaporkan The Wall Street Journal. Kebijakan tersebut memberi Trump opsi militer jika konflik terus berlanjut.
Pentagon juga berencana mempertahankan sejumlah unit pertahanan udara di kawasan tanpa menetapkan tanggal akhir penugasan. Unit-unit tersebut merupakan bagian dari sekitar 50.000 personel militer AS yang saat ini ditempatkan di berbagai wilayah Teluk untuk menghadapi ancaman rudal dan drone.
Seorang pejabat AS mengatakan Unit Ekspedisi Marinir ketiga tengah mempersiapkan pengerahan ke kawasan Timur Tengah pada musim gugur tahun ini. Langkah tersebut menunjukkan adanya rotasi pasukan amfibi yang berkelanjutan.
Unit Ekspedisi Marinir ke-31 sebelumnya tiba di kawasan tersebut pada Maret dan kemudian digantikan Unit Ekspedisi Marinir ke-11 pada Juni.
Baca Juga : Presiden Iran Tegaskan Teheran Tidak Menyerah pada AS
Selain pasukan darat dan pertahanan udara, Pentagon juga merotasi skuadron tempur Angkatan Udara. Pesawat F-16 Garda Nasional Udara dijadwalkan menggantikan sejumlah pesawat tempur yang kembali ke pangkalan AS di Aviano, Italia.
AS Hadapi Risiko Perang Berkepanjangan
Sejumlah analis menilai persiapan pemerintahan Trump untuk menghadapi konflik jangka panjang bukan sesuatu yang mengejutkan. Namun, strategi tersebut memiliki konsekuensi terhadap prioritas pertahanan AS di kawasan lain.
Kehadiran militer dalam waktu lama di Timur Tengah dapat mengalihkan sumber daya yang sebelumnya dialokasikan untuk Eropa maupun Asia.
Selain itu, pejabat AS semakin mencermati kemampuan Iran beradaptasi terhadap tekanan militer. Teheran dinilai masih berpotensi membangun kembali persediaan rudal, drone, radar, serta berbagai perlengkapan militernya.
Situasi tersebut membuat perang Iran berpotensi menjadi konflik yang jauh lebih panjang daripada prediksi Trump di depan publik. Jika berlangsung hingga 2029, perang tersebut tidak hanya menjadi persoalan keamanan, tetapi juga dapat membebani sumber daya militer AS dan memperbesar tekanan terhadap ekonomi serta pasar energi dunia.

[…] Perang Iran Bisa Berlanjut hingga 2029, Ini Kata Pejabat AS […]