Perusahaan Jepang Berusia 100 Tahun Tumbang, 112 Bangkrut
Perusahaan-perusahaan Jepang yang telah bertahan selama lebih dari satu abad kini menghadapi tekanan berat.
Setelah melewati berbagai peristiwa besar, mulai dari perang dunia, krisis ekonomi hingga gelembung aset, semakin banyak perusahaan tua di Jepang yang tumbang pada 2026.
Berdasarkan data Teikoku Databank, sebanyak 112 perusahaan Jepang yang telah berusia lebih dari 100 tahun tercatat bangkrut dalam delapan bulan pertama 2026.
Jumlah tersebut menjadi rekor kebangkrutan tertinggi untuk perusahaan Jepang berusia lebih dari satu abad.
Tekanan terhadap perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari berbagai faktor, mulai dari kenaikan biaya, kekurangan tenaga kerja, menyusutnya pasar domestik hingga persoalan regenerasi kepemimpinan.
Salah satu perusahaan yang menghadapi tekanan tersebut adalah Kadoya Sesame Mills, produsen minyak wijen yang didirikan pada 1858.
Baca Juga: AS Siapkan 3.000 Pasukan serta Jet Tempur untuk Israel
Perusahaan itu telah melewati berbagai perubahan besar dalam sejarah Jepang, termasuk dua perang dunia dan gelembung aset.
Namun, setelah lebih dari dua dekade melantai di Jasdaq Securities Exchange, Kadoya kini bersiap kembali menjadi perusahaan privat melalui tender offer yang didukung perusahaan private equity Jepang, Integral.
Langkah tersebut diambil ketika perusahaan menghadapi kenaikan harga bahan baku serta meningkatnya risiko geopolitik.
Ekonom Oxford Economics, Shigeto Nagai, mengatakan perusahaan-perusahaan Jepang berusia panjang selama ini mampu bertahan karena memiliki orientasi jangka panjang, kepemilikan keluarga, hubungan kuat dengan komunitas lokal, serta budaya bisnis yang berhati-hati.
Perusahaan-perusahaan tersebut umumnya juga memiliki kondisi keuangan yang sehat dan margin keuntungan relatif stabil setelah mengakumulasi modal selama puluhan tahun.
“Mereka semakin khawatir tidak dapat melihat masa depan dengan keuntungan tinggi yang berkelanjutan dalam jangka panjang dan takut perlahan-lahan mengalami kemunduran,” kata Nagai menegaskan kondisi mulai berubah.
Kenaikan biaya juga menjadi salah satu tantangan terbesar bagi perusahaan Jepang setelah pandemi, ditambah dengan persoalan kekurangan tenaga kerja.
Ekonom utama S&P Global Market Intelligence, Harumi Taguchi, mengatakan inflasi memang membuat perusahaan lebih mudah menaikkan harga dibandingkan saat Jepang berada dalam era deflasi.
Namun, banyak perusahaan masih tidak mampu sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
Kondisi tersebut terutama dirasakan perusahaan kecil yang berfokus pada pasar domestik karena memiliki basis penjualan yang lebih terbatas.
Data Teikoku Databank menunjukkan, kebangkrutan yang berkaitan dengan kenaikan harga melonjak 23,8 persen menjadi 556 kasus pada paruh pertama 2026.
Sementara itu, kebangkrutan yang berkaitan dengan kekurangan tenaga kerja meningkat 12,4 persen menjadi 227 kasus pada periode yang sama.
Produsen tahu Sube Shoten yang berdiri sejak 1877 pada era Meiji menjadi salah satu perusahaan yang terdampak tekanan tersebut.
Perusahaan itu dilaporkan menghentikan operasional pada Mei 2026 dan mulai mempersiapkan pengajuan kebangkrutan setelah margin keuntungan tertekan dan biaya bahan baku melonjak.
Di sisi lain, perubahan demografi Jepang turut memperburuk kondisi perusahaan.
Angka kelahiran yang rendah dan populasi yang semakin menua membuat persaingan untuk mendapatkan tenaga kerja semakin ketat.
Mencari pertumbuhan di luar negeri menjadi salah satu pilihan bagi perusahaan Jepang.
Namun, ekspansi internasional bukan solusi yang mudah bagi perusahaan yang selama puluhan tahun bergantung pada pasar domestik.
Baca Juga: Donald Trump Konsultasi ke Grok Sebelum Tangkap Maduro
Krisis Penerus Perusahaan
Selain kenaikan biaya dan penyusutan pasar, perusahaan-perusahaan tua Jepang menghadapi persoalan lain, yakni siapa yang akan meneruskan bisnis tersebut.
Teikoku Databank mencatat kebangkrutan akibat tidak adanya penerus meningkat 16,9 persen menjadi 312 kasus pada paruh pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting bagi perusahaan keluarga yang telah bertahan selama beberapa generasi.
Managing Director sekaligus Global Practice Leader di Global Transaction Advisory Group Alvarez & Marsal, Paul Aversano, mengatakan pelemahan yen, reformasi tata kelola perusahaan, tekanan investor aktivis, serta persoalan suksesi membuat pemilik dan dewan perusahaan harus mempertimbangkan kembali masa depan bisnis mereka.
Tekanan tersebut datang bersamaan dengan inflasi, tarif, biaya tenaga kerja, dan suku bunga.
“Ini adalah kombinasi berbagai faktor, bukan hanya satu masalah, yang membentuk keputusan,” kata Aversano.
Bagi perusahaan Jepang yang telah bertahan selama lebih dari 100 tahun, tantangan terbesar kini bukan sekadar bertahan dari krisis ekonomi.
Mereka juga harus menemukan model bisnis yang tetap relevan di tengah populasi yang menyusut, biaya yang meningkat, serta perubahan struktur ekonomi Jepang.
