Komandan IRGC Klaim AS Mundur 1.000 Km dari Iran
Laksamana Muda Ali Fadavi, salah satu komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengklaim pasukan Iran telah membuat militer Amerika Serikat (AS) mundur sekitar 1.000 kilometer (621 mil) dari wilayah perbatasan Iran.
“Pihak Amerika melarikan diri dan bergerak lebih dari 1.000 km dari perbatasan kami. Ini bukan pilihan mereka; ini terjadi karena wewenang Republik Islam dan otoritas Pasukan Darat IRGC,” kata Fadavi dalam wawancara televisi yang dilaporkan Press TV Iran dan dikutip Al Jazeera, Senin (5/10/2026).
Fadavi juga mengklaim bahwa untuk pertama kalinya tidak ada kapal AS yang beroperasi di Teluk, Selat Hormuz, Laut Oman, maupun bagian utara Samudra Hindia. Ia bahkan menyebut kapal perang AS “100 persen rentan” terhadap serangan IRGC.
Iran Klaim Masih Kuasai Selat Hormuz
Pernyataan Fadavi disampaikan ketika militer AS masih menjalankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Baca Juga : AS Siapkan Ribuan Pasukan dan Jet Tempur untuk Israel
Komando Pusat AS (CENTCOM) sebelumnya menyatakan telah mengalihkan rute 125 kapal komersial sejak Juli sebagai bagian dari upaya untuk memastikan kepatuhan.
Dalam wawancara tersebut, Fadavi menegaskan Selat Hormuz masih berada di bawah kendali Iran. Ia mengatakan Angkatan Laut IRGC telah memperingatkan kapal yang melintasi jalur selatan yang diawasi AS di kawasan tersebut.
Menurut Fadavi, kapal-kapal yang menggunakan jalur tersebut “dapat menjadi sasaran kapan saja”.
Ia menambahkan hanya sekitar tiga hingga empat juta barel minyak per hari yang kini melewati jalur di sepanjang pesisir Oman. Fadavi menilai volume tersebut “sangat kecil” jika dibandingkan dengan lalu lintas minyak sebelum perang.
Fadavi juga menolak ancaman operasi militer AS. Ia menyebut Washington sebelumnya gagal dalam perang di Afganistan dan Irak dan memperkirakan hal serupa akan terjadi jika AS melakukan tindakan militer terhadap Iran.
Ekspor Minyak Timur Tengah Kembali Meningkat
Pernyataan Fadavi muncul di tengah laporan mengenai peningkatan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah.
Negara-negara di kawasan tersebut dilaporkan mengekspor rata-rata 18,5 juta barel per hari (bpd) pada pekan terakhir September. Pengiriman dilakukan melalui Selat Hormuz dan Laut Merah, serta melalui terminal dan transfer antar kapal di Teluk Oman.
Perkembangan tersebut menunjukkan aktivitas ekspor minyak kawasan mulai meningkat kembali setelah sebelumnya terganggu oleh konflik dan ketegangan di jalur pelayaran strategis.
Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyampaikan klaim berbeda mengenai situasi di Selat Hormuz. Trump mengatakan AS memiliki kendali hampir sepenuhnya atas jalur perairan strategis tersebut.
Ia bahkan mengklaim volume minyak yang keluar melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah.
“Kami memiliki kendali hampir sepenuhnya atas Selat Hormuz. Bahkan, dalam tiga hari terakhir, lebih banyak minyak keluar melalui Selat Hormuz dibandingkan kapan pun dalam sejarah Selat Hormuz,” kata Trump dalam perayaan Bulan Warisan Hispanik pada Rabu (30/9).
Baca Juga : Trump Konsultasi ke Grok Sebelum Operasi Penangkapan Maduro
Trump juga kembali mengatakan bahwa kemampuan militer Iran telah hancur total dan perang akan segera dimenangkan AS.
“Kami akan memenangkan perang itu dengan sangat cepat, dengan cara apa pun,” ujarnya.
AS dan Iran Sempat Sepakati Navigasi Hormuz
Konflik AS dan Iran sebelumnya meningkat setelah Washington dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada Februari. Teheran kemudian merespons dengan serangan terhadap Israel serta sejumlah target AS di kawasan sebelum kedua pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata pada April.
Pada Juni, Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Namun, pelaksanaannya kemudian terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai persoalan keamanan di jalur perairan strategis tersebut.
