Prabowo Bahas Ancaman Tarif AS dengan Menteri Ekonomi, Ini Hasilnya
Presiden Prabowo Subianto memberikan pengarahan kepada sejumlah menteri bidang ekonomi terkait arah dan prinsip yang harus dipegang pemerintah dalam setiap perundingan ekonomi internasional, khususnya menyangkut tarif dagang dengan Amerika Serikat (AS) yang akan diputuskan dalam waktu dekat. Arahan tersebut disampaikan dalam pertemuan di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Minggu (15/2/2026).
Pertemuan yang berlangsung sejak sore hari itu difokuskan pada penguatan strategi Indonesia dalam menghadapi dinamika dan negosiasi ekonomi global. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, Presiden menekankan pentingnya memastikan setiap langkah diplomasi ekonomi benar-benar berpihak pada kepentingan nasional.
“Memastikan posisi yang diambil Indonesia dalam setiap perundingan ekonomi dengan siapapun, khususnya dalam waktu dekat dengan Amerika Serikat adalah yang terbaik dan paling menguntungkan untuk Indonesia,” kata Teddy dalam siaran pers, Senin (16/2/2026).
Baca Juga: Bos Bank BUMN Buka Suara terkait Target ROA 7 Persen dari Prabowo
Tekankan Produktivitas Industri dan Rantai Pasok
Teddy menyebut, Prabowo mengingatkan agar perundingan ekonomi tidak hanya bersifat transaksional dalam jangka pendek. Menurut dia, Presiden ingin setiap kesepakatan memiliki dampak langsung terhadap penguatan struktur ekonomi nasional.
Dalam konteks itu, peningkatan produktivitas industri dalam negeri dan penguatan rantai pasok global menjadi prioritas utama.
“Presiden menginginkan perundingan harus sebanyak-banyaknya meningkatkan produktivitas industri dalam negeri serta memperkuat global supply chain atau rantai pasok industri,” ungkap Teddy.
Lebih lanjut, Prabowo juga meminta agar setiap kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah berorientasi pada hasil konkret yang dapat dirasakan bangsa dan negara.
“Presiden Prabowo menginginkan setiap kebijakan yang diambil harus sesegera dan sebanyak mungkin memberi keuntungan konkret untuk Indonesia,” imbuhnya.
Pertemuan di Hambalang tersebut, lanjut Teddy, menegaskan komitmen Presiden bahwa diplomasi ekonomi Indonesia harus berdaulat, strategis, dan menguntungkan bagi kepentingan nasional.
Baca Juga: Prabowo Sebut Penerima MBG Lampaui Malaysia, Sekitar 60 Juta
Pertemuan dengan Menteri dan Pengusaha
Sebelumnya, melalui unggahan akun Instagram resminya, Prabowo terlihat berdiskusi dalam format meja bundar bersama Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rosan Roeslani, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Mensesneg Prasetyo Hadi, serta Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
“Membahas berbagai langkah strategis ke depan,” tulis akun Instagram resmi Presiden Republik Indonesia.
Dalam beberapa waktu terakhir, Prabowo juga kerap menggelar pertemuan di Hambalang dengan berbagai tokoh. Pada 10 Februari lalu, misalnya, ia mengundang sejumlah pengusaha untuk berdiskusi. Dalam kesempatan itu, Presiden mengingatkan para konglomerat agar turut membantu penguatan UMKM dan sektor riil.
Sejumlah pengusaha yang hadir antara lain Prajogo Pangestu (Barito Pacific Group), Anthony Salim (Salim Group), Franky Widjaja (Sinar Mas Group), Boy Thohir (Adaro Energy), serta Sugianto Kusuma atau Aguan (Agung Sedayu Group).
“Pertemuan tersebut berlangsung lebih dari 4,5 jam, dimulai sejak pukul 19.00 hingga sekitar 23.30 WIB,” tulis Teddy dalam keterangan tertulis, Rabu (11/2/2026).
Menurut Teddy, dalam berbagai pertemuan tersebut Presiden juga menekankan pentingnya semangat Indonesia Incorporated, yakni kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Kolaborasi guna memperkuat daya saing nasional serta mempercepat pembangunan ekonomi,” kata Teddy menjelaskan.
Baca Juga: Iran dan AS Masuki Ronde Baru Pembicaraan Nuklir
