Protes Pelajar Prancis Berlanjut, 375 Sekolah Terdampak
Aksi demonstrasi pelajar sekolah menengah atas (lycée) di Prancis masih berlanjut pada Kamis (8/10/2026). Para siswa tetap turun ke jalan untuk menuntut perbaikan sistem pendidikan meski pemerintah telah meminta agar ketegangan yang berlangsung selama beberapa hari segera mereda.
Mengutip AFP, sejak akhir September, pelajar telah memblokir pintu masuk ratusan sekolah menengah di berbagai wilayah Prancis. Sejumlah aksi bahkan berakhir dengan bentrokan antara demonstran dan polisi antihuru-hara.
Para pemimpin serikat siswa kembali mengajak pelajar melakukan mobilisasi secara nasional. Rencana demonstrasi di Paris serta seruan mogok kerja nasional dari serikat pekerja sektor pendidikan turut menjadi bentuk dukungan terhadap gerakan tersebut.
Ketua asosiasi mahasiswa FAGE, Suzanne Nijdam, mengatakan pertemuannya dengan Menteri Pendidikan Tinggi Philippe Baptiste belum menghasilkan kesepakatan. Karena itu, ia meminta para siswa melanjutkan aksi mereka.
Baca Juga : AS Tuduh Pejabat China Suap Warga Fiji, Kenapa?
“Unjuk rasa berskala lebih besar pekan depan,” tegasnya.
Di sisi lain, Menteri Pendidikan Edouard Geffray dijadwalkan mengunjungi sebuah sekolah menengah di Reims untuk berdialog dengan para siswa. Para pelajar juga meminta kesempatan bertemu langsung dengan Perdana Menteri Sebastien Lecornu guna menyampaikan proposal terperinci, termasuk perhitungan biaya untuk memenuhi tuntutan mereka.
Keluhan para siswa mencakup kekurangan tenaga pengajar, jadwal belajar yang terlalu padat, kondisi ruang kelas yang rusak, hingga bangunan sekolah yang dinilai tidak memadai dalam menghadapi kenaikan suhu udara. Dampak protes terlihat dari terhentinya kegiatan belajar-mengajar, baik sebagian maupun seluruhnya, di 375 sekolah pada Kamis pagi.
Walaupun sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, beberapa aksi diwarnai pembakaran benda, perusakan halte bus, dan bentrokan dengan polisi antihuru-hara. Serikat pekerja, kelompok hak asasi manusia, serta para siswa menuding aparat menggunakan kekuatan secara berlebihan dalam menangani demonstran.
Pada Rabu malam, Lecornu berusaha menurunkan ketegangan melalui pidato yang disiarkan televisi. Ia menjanjikan rencana penanganan krisis pendidikan akan diumumkan pada akhir Oktober. Lecornu juga membantah bahwa pemerintah memerintahkan aparat untuk menghadapi para remaja secara represif.
Namun, pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekecewaan para siswa. Hanaa, seorang pelajar berusia 18 tahun, mengaku merasa “kecewa dan tidak yakin” setelah mendengar pidato perdana menteri. Sementara itu, Salyna, 17 tahun, mengatakan dirinya “mengharapkan lebih dari Lecornu”.
Ketegangan semakin meningkat setelah seorang remaja berusia 15 tahun kehilangan tangannya pada Senin akibat granat kejut yang ditembakkan polisi. Menanggapi insiden tersebut, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengatakan kepada stasiun radio RTL pada Rabu pagi bahwa penggunaan granat kejut oleh polisi telah ditangguhkan.
Protes ini berlangsung beberapa bulan sebelum pemilihan umum 2027 yang akan menentukan penerus Presiden Emmanuel Macron. Situasi politik turut menjadi sorotan karena Marine Le Pen, tokoh senior sayap kanan, mencatatkan dukungan tinggi dalam sejumlah jajak pendapat meski pernah dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi.
Gerakan pelajar tersebut bermula di Saint-Denis, kawasan pinggiran Paris yang menghadapi persoalan sosial dan ekonomi. Tingkat kemiskinan di wilayah itu dilaporkan lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional.
Wali Kota Turun Tangan Lindungi Pelajar
Sikap aparat terhadap demonstran muda turut menjadi perhatian setelah sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan Wali Kota Saint-Denis Bally Bagayoko berhadapan langsung dengan polisi dalam demonstrasi di Paris pada Selasa. Dalam rekaman tersebut, ia berdiri di depan para pelajar dan berteriak meminta aparat berhenti.
Baca Juga : Gedung Putih Buka Suara, Trump Tak Biarkan Iran Hancurkan LA
Bagayoko, yang berasal dari partai sayap kiri France Unbowed (LFI), mengatakan dirinya sengaja turun tangan untuk mencegah polisi menyerang para demonstran.
“Mereka telah memutuskan untuk menyerang dan secara efektif mengejar para siswa, yang banyak di antaranya tidak menunjukkan perilaku agresif sama sekali terhadap petugas polisi,” ucap Bagayoko.
Meski demikian, polisi tetap menembakkan gas air mata ke arah kelompok demonstran, termasuk ke area tempat sang wali kota berada.
Bagayoko kemudian mendesak pemerintah agar lebih memprioritaskan pendanaan pendidikan. Ia juga mendorong penerapan pajak yang lebih tinggi bagi para miliarder sebagai salah satu langkah untuk mendukung investasi di sektor tersebut.
