Siaga Perang Asia, AS Siapkan Pangkalan Militer di Dekat China
Amerika Serikat (AS) terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Asia Pasifik di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi perang Asia. Langkah terbaru dilakukan dengan mengembangkan pangkalan operasi garis depan di Filipina, negara yang dinilai memiliki posisi strategis dalam menghadapi China, khususnya terkait isu Taiwan.
Personel militer AS bersama Angkatan Bersenjata Filipina baru-baru ini melakukan inspeksi ke Pangkalan Operasi Garis Depan Mahatao di Pulau Batan, Provinsi Batanes. Wilayah ini merupakan titik paling utara Filipina yang berhadapan langsung dengan Selat Luzon, jalur strategis yang menghubungkan Laut China Selatan dengan Samudra Pasifik dan berada dekat dengan wilayah selatan Taiwan.
Inspeksi tersebut melibatkan Atase Angkatan Udara AS Kolonel William Herbert serta Komandan Komando Luzon Utara Filipina Letnan Jenderal Aristotle Gonzales. Militer Filipina menyatakan kunjungan itu bertujuan menilai kesiapan pangkalan untuk mendukung kerja sama pertahanan jangka panjang antara kedua negara.
Baca Juga: Kartel Colombia Clan del Golfo Ditetapkan Jadi Organisasi Teroris oleh AS
“Tim tersebut menilai medan operasional, kondisi infrastruktur, dan kelayakan strategis untuk mendukung kegiatan pertahanan gabungan dan interoperabilitas di masa depan,” ujar militer Filipina dalam pernyataan resminya, Rabu (17/12/2025).
Pangkalan Mahato sendiri diresmikan pada 28 Agustus lalu dan dirancang untuk memperkuat pertahanan teritorial Filipina. Selain itu, fasilitas tersebut juga difungsikan untuk meningkatkan kesadaran domain maritim serta mendukung operasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Citra satelit menunjukkan pembangunan intensif sejak akhir 2023, termasuk helipad, dermaga kecil, dan fasilitas peluncuran perahu.
Sejumlah analis menilai pangkalan ini berpotensi mendukung kemampuan persenjataan. Naval News melaporkan adanya bangunan yang menyerupai fasilitas penyimpanan dan pemeliharaan rudal, yang diduga dapat digunakan untuk menampung rudal supersonik BrahMos milik Filipina. Sebelumnya, sistem rudal anti-kapal NEMESIS buatan AS juga pernah ditempatkan di wilayah Batanes dalam rangka latihan bersama.
Baca Juga: 500 Personel Militer Israel Ajukan Resign, Kenapa?
Langkah AS ini memicu reaksi keras dari China. Beijing memperingatkan Filipina agar tidak menampung sistem persenjataan Amerika dan menyebut kebijakan tersebut sebagai tindakan yang dapat membawa “kehancuran yang ditimbulkan sendiri.” Ketegangan semakin meningkat karena kawasan tersebut juga bersinggungan dengan zona ekonomi eksklusif Filipina.
Peneliti Proyek Monitor Keamanan Taiwan dari Universitas George Mason, Jaime Ocon, menilai penguatan militer AS di Batanes akan mempengaruhi perhitungan strategis China.
Menurutnya, kehadiran fasilitas tambahan seperti landasan pacu dan pelabuhan dapat menyulitkan operasi militer China jika terjadi eskalasi konflik Taiwan.
“Peningkatan kehadiran AS di Batanes, seperti pembangunan landasan pacu dan pelabuhan tambahan, benar-benar dapat mempersulit operasi darurat Taiwan bagi China,” ujar Ocon kepada media.
“Mereka tidak ingin Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk merespons dan ingin menutup titik masuk ini,” lanjut dia.
Sementara itu, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. sebelumnya menyatakan bahwa keterlibatan negaranya dalam dinamika keamanan kawasan, termasuk potensi konflik terkait Taiwan, hampir tidak terelakkan. Faktor geografis dan keberadaan banyak pekerja Filipina di Taiwan membuat Manila berada di posisi krusial dalam strategi keamanan regional, sekaligus mempertegas peran Filipina dalam peta besar potensi perang Asia.
Baca Juga: Para Crazy Rich di Indonesia Dipanggil Direktur Jenderal Pajak, Kenapa?
