Trump Bela Penangguhan Sanksi Rusia, Kritik Zelensky
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, membela kebijakannya menangguhkan sejumlah sanksi terhadap Rusia. Ia beralasan, keputusan tersebut diperlukan untuk menjaga peluang tercapainya kesepakatan damai antara Moskow dan Kyiv. Di sisi lain, Trump menuduh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, tidak memiliki keinginan untuk mengakhiri perang.
“Keputusan saya mengenai Rusia sangat sederhana. Saya sedang dalam proses merundingkan perdamaian dalam perang antara Rusia dan Ukraina, dan tidak ingin melakukan sesuatu yang secara ceroboh akan membuat Rusia menjauh dari meja perundingan,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya, seperti dilansir AFP, Senin (19/10/2026).
Trump sebelumnya menandatangani perintah eksekutif pada Jumat (16/10) malam untuk menangguhkan secara luas penerapan sanksi baru yang diwajibkan berdasarkan undang-undang.
Ia juga mengambil langkah sementara untuk menangguhkan sanksi terhadap bahan bakar diesel Rusia. Kebijakan ini membuka peluang bagi pasokan diesel Rusia dalam jumlah besar untuk masuk ke pasar global, dengan harapan menekan harga bahan bakar menjelang pemilihan umum AS pada awal November.
Baca Juga : Rompi Kuning Diisukan Bisa Bangkit Usai Demo Prancis Ricuh
Keputusan tersebut mengejutkan pemerintah Ukraina di Kyiv beserta negara-negara sekutunya. Kebijakan itu juga memicu ketegangan baru antara Trump dan Zelensky, yang hubungan keduanya selama ini mengalami pasang surut.
Trump Klaim Perundingan Perdamaian Mengalami Kemajuan
Trump menyatakan bahwa proses negosiasi untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina menunjukkan perkembangan yang signifikan. Ia juga menyinggung pembicaraan mengenai pembebasan sandera yang disebutnya masih berlangsung.
“Perkembangan besar sedang dicapai” dalam perundingan mengenai perang tersebut, “termasuk negosiasi pembebasan sandera yang sedang berlangsung!” kata Trump.
Trump turut menyampaikan bahwa dirinya dapat menandatangani sebuah dokumen pada waktu yang dianggap tepat. Namun, ia tidak menjelaskan secara terperinci dokumen yang dimaksud.
“Menandatangani dokumen itu saat ini akan menyebabkan hal tersebut, dan saya bisa menandatanganinya nanti atau kapan pun saya mau!” ujarnya.
AFP melaporkan bahwa Gedung Putih belum memberikan tanggapan ketika dimintai penjelasan lebih lanjut mengenai pernyataan Trump tersebut.
Trump juga menyinggung hubungan Rusia dengan Iran. Menurutnya, Moskow hanya memberikan sedikit bantuan kepada Republik Islam Iran dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki negara tersebut.
“Barangkali yang lebih penting, Rusia hanya melakukan sangat sedikit, jika memang ada, untuk membantu Republik Islam Iran dibandingkan dengan apa yang sebenarnya bisa mereka lakukan. Saya ingin keadaan itu tetap seperti sekarang, dan akan memastikan demikian, kecuali jika orang-orang bodoh ikut campur,” tambah Trump.
Trump Kaitkan Serangan Kilang Rusia dengan Pemilu AS
Selain membahas perundingan perdamaian, Trump kembali menuduh Ukraina sengaja menyerang kilang minyak Rusia untuk merugikan Partai Republik menjelang pemilu AS pada 3 November.
Baca Juga : Houthi Putus Jalur Pasokan, Operasi Yaman Jadi Terhambat
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan bahwa Partai Republik yang dipimpin Trump berpotensi mengalami kekalahan besar dalam pemilihan tersebut. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian pemilih adalah kenaikan harga bahan bakar sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari.
Trump menilai serangan Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia berdampak pada pasokan dan harga diesel di pasar internasional, termasuk Amerika Serikat.
“Zelensky menjadikan kilang diesel di Rusia sebagai target, dengan mengetahui bahwa serangan-serangan ini sangat merugikan pasar diesel dunia, termasuk pasar di Amerika Serikat,” kata Trump.
Ia kemudian mempertanyakan keseriusan Zelensky dalam mengupayakan berakhirnya perang. Trump juga menyinggung bantuan keuangan yang telah diterima Ukraina dari negara-negara Eropa dan pemerintahan mantan Presiden AS Joe Biden.
“Zelensky tidak peduli. Terus terang, dengan semua uang yang terkenal diberikan Eropa kepadanya dan uang yang sebelumnya diberikan Joe Biden yang licik kepadanya, dia tidak ingin mengakhiri perang ini dan mungkin memang tidak pernah menginginkannya,” imbuh Trump.
